22, 2026
Teknologi

Pemerintah Perkuat Akses Pasar Global-Digitalisasi untuk Dorong Ekonomi RI

Pemerintahan Prabowo Subianto fokus pada pertumbuhan ekonomi dengan strategi global dan digitalisasi. Indonesia siap tingkatkan daya saing dan investasi.]]>

Nadia Santoso
Nadia Santoso Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Pemerintah Perkuat Akses Pasar Global-Digitalisasi untuk Dorong Ekonomi RI

Pemerintah memperkuat dua pilar utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, yakni perluasan akses pasar global dan percepatan digitalisasi. Kedua strategi itu diposisikan sebagai jawaban atas melambatnya permintaan global, ketidakpastian geopolitik, serta tekanan terhadap kinerja ekspor dan investasi. Perluasan pasar dinilai tidak lagi cukup mengandalkan pasar tradisional, sementara digitalisasi dianggap kunci untuk menekan biaya transaksi, memperluas jangkauan usaha, dan meningkatkan daya saing produk dalam negeri.

Diversifikasi Pasar Jadi Prioritas

Kebijakan perdagangan diarahkan pada diversifikasi tujuan ekspor agar ketergantungan pada sejumlah negara mitra dapat dikurangi. Pemerintah mendorong penyelesaian dan pemanfaatan berbagai perjanjian perdagangan, baik bilateral maupun regional, sebagai instrumen untuk membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk Indonesia.

Kerangka kerja sama yang telah berjalan, seperti Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP) yang mulai berlaku pada awal 2022 dan Indonesia–Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement (IK-CEPA), dipandang memberikan peluang penurunan tarif serta penyederhanaan prosedur bagi pelaku usaha. Sementara itu, perundingan dengan sejumlah mitra dagang utama, termasuk Uni Eropa, masih berlangsung dan menjadi salah satu agenda prioritas karena potensi peningkatan nilai perdagangan yang besar.

Selain jalur perjanjian, pemerintah menempuh pendekatan promosi melalui misi dagang, partisipasi dalam pameran internasional, serta penguatan peran perwakilan perdagangan di luar negeri. Pendekatan ini diarahkan tidak hanya pada perluasan volume ekspor, tetapi juga pada peningkatan nilai tambah produk, termasuk mendorong ekspor barang olahan dan produk nonmigas.

Surplus neraca perdagangan Indonesia yang bertahan sejak pertengahan 2020 menjadi modal penting. Namun, pemerintah menilai surplus tersebut perlu dijaga kualitasnya melalui penguatan industri pengolahan dan pengurangan ketergantungan pada ekspor komoditas mentah yang rentan terhadap fluktuasi harga dunia.

Digitalisasi sebagai Pengungkit Produktivitas

Di sisi lain, digitalisasi ditempatkan sebagai pengungkit produktivitas lintas sektor. Pemerintah mendorong integrasi layanan publik berbasis elektronik, penyederhanaan perizinan berusaha, serta keterhubungan sistem antarinstansi untuk memangkas waktu dan biaya yang selama ini membebani pelaku usaha.

Transformasi itu mencakup penguatan sistem pelayanan terpadu di bidang kepabeanan dan logistik, yang bertujuan mempercepat arus barang baik untuk ekspor maupun impor. Perbaikan tata kelola logistik dinilai krusial karena biaya distribusi yang tinggi selama ini mengurangi daya saing produk Indonesia di pasar global.

UMKM di Garis Depan

Usaha mikro, kecil, dan menengah menjadi sasaran utama agenda digitalisasi. Sektor ini merupakan tulang punggung perekonomian nasional, dengan kontribusi terhadap produk domestik bruto dan penyerapan tenaga kerja yang sangat besar. Pemerintah mendorong masuknya UMKM ke ekosistem digital melalui pelatihan literasi digital, pendampingan pemasaran daring, serta fasilitasi sertifikasi dan standardisasi produk.

Upaya itu disertai penguatan pembiayaan berbasis teknologi, perluasan akses terhadap platform e-commerce, dan integrasi UMKM ke dalam rantai pasok industri besar. Diharapkan, digitalisasi tidak berhenti pada perluasan jangkauan pemasaran, tetapi juga mendorong efisiensi produksi dan peningkatan mutu produk agar mampu bersaing di pasar ekspor.

Infrastruktur Digital dan Talenta

Keberhasilan agenda digitalisasi bergantung pada ketersediaan infrastruktur konektivitas dan sumber daya manusia. Pemerintah melanjutkan pembangunan jaringan telekomunikasi di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar, serta memperluas pemanfaatan pusat data dan layanan awan untuk mendukung layanan publik maupun aktivitas usaha.

Selain infrastruktur, penyiapan talenta digital menjadi perhatian. Kebutuhan tenaga kerja terampil di bidang data, keamanan siber, dan pengembangan perangkat lunak terus meningkat. Program pelatihan dan sertifikasi kompetensi diarahkan untuk menutup kesenjangan keterampilan, sekaligus mengurangi ketergantungan pada tenaga ahli dari luar negeri.

Tantangan yang Mengiringi

Meski arah kebijakan semakin jelas, sejumlah tantangan masih membayangi. Kesenjangan konektivitas antardaerah, keterbatasan literasi digital di segmen usaha kecil, serta persoalan keamanan data dan perlindungan konsumen menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas. Di sisi eksternal, perlambatan ekonomi global dan meningkatnya hambatan perdagangan non-tarif menuntut kesiapan pelaku usaha menghadapi persyaratan mutu, keberlanjutan, dan standar lingkungan di negara tujuan ekspor.

Pemerintah juga menghadapi tantangan koordinasi lintas lembaga. Sinergi antara kebijakan perdagangan, industri, dan transformasi digital dinilai menentukan apakah berbagai insentif yang disiapkan benar-benar sampai ke pelaku usaha di lapangan.

Arah Kebijakan ke Depan

Ke depan, penguatan akses pasar dan digitalisasi diarahkan berjalan seiring, bukan sebagai dua agenda terpisah. Perjanjian dagang diharapkan membuka pintu, sementara platform digital mempermudah pelaku usaha—termasuk UMKM—memanfaatkan peluang tersebut melalui informasi pasar, transaksi lintas negara, dan kepatuhan regulasi yang lebih sederhana.

Keberhasilan strategi ini pada akhirnya akan diukur dari dampaknya terhadap lapangan kerja, nilai tambah industri, dan pemerataan manfaat ekonomi antarwilayah. Perluasan pasar global dan digitalisasi dengan demikian diposisikan sebagai instrumen untuk memperkuat struktur ekonomi domestik, bukan sekadar mengejar angka pertumbuhan jangka pendek.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Nadia Santoso

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter