Perkara Tak Dijemput Bikin Nenek di Depok Bakar Cucu Sendiri
Tragedi mengerikan terjadi di kawasan Depok, Jawa Barat, seorang nenek diketahui membakar cucunya sendiri dalam keadaan hidup. Peristiwa yang terjadi pada Rabu (15/3) siang ini bermula dari sebuah pertengkaran keluarga yang berujung pada aksi kekerasan tak terduga. Korban, seorang anak laki-laki berusia 7 tahun, ditemukan dalam keadaan luka bakar parah di bagian tubuh bagian atas dan wajah.
Menurut informasi yang dihimpun, pelaku adalah nenek korban berinisial S (55) yang melakukan aksi pembakaran tersebut. Motif kejahatan ini diduga bermula dari masalah penjemputan anak. S diduga marah besar karena anaknya tidak menjemputnya untuk berkunjung ke rumah. Kondisi emosi S yang tidak stabil diketahui menjadi pemicu utama terjadinya tragedi ini.
Saksi mata yang berada di lokasi kejadian mengaku mendengar teriakan anak sebelum api mulai menjalar. "Saya mendengar anak menangis dan meminta tolong, tapi tidak tahu persis apa yang terjadi. Kemudian saya lihat ada api di dalam rumah," ujar se tetangga yang tidak mau disebutkan namanya.
Setelah kejadian, warga sekitar segera melakukan pemadaman api dan membawa korban ke rumah sakit terdekat. Korban dinyatakan dalam kondisi kritis dan segera dirawat intensif. Sementara itu, pelaku S diamankan oleh petugas kepolisian setiba di lokasi.
Kronologi Lengkap Kejadian
Berdasarkan keterangan polisi, kronologi lengkap kejadian berawal ketika S datang ke rumah anaknya yang tinggal di wilayah Depok tersebut. S rencananya akan menginap di rumah anaknya, namun tidak dijemput oleh anaknya seperti yang dijanjikan.
"S merasa tersinggung karena anaknya tidak menjemputnya. Dia sudah berjanji akan menjemput di terminal, tapi tidak datang juga," jelas Kapolsek Depok Kota, Kompol Ahmad Rizki melalui keterangannya.
Ketika tiba di rumah anaknya, S langsung menghadapi anaknya dan menuntut penjelasan. Konflik pun pecah antara S dengan menantu hingga akhirnya S mengambil keputusan nekat dengan membakar cucunya sendiri. S did menggunakan minyak tanah yang tersimpan di dapur untuk membakar korban.
Setelah membakar cucunya, S sempat mencoba melarikan dira namun berhasil diamankan oleh warga. Warga yang melihat kejadian segera melaporkan kejadian ini ke pihak kepolisian.
Respon Kepolisian dan Pemerintah Daerah
Kepolisian Resor Depok sudah menangani kasus ini dan melakukan pemeriksaan terhadap pelaku. Sementara itu, korban masih dirawat di RSUD Depok dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Tim medis menyatakan korban mengalami luka bakar derajat dua hingga tiga di sekitar 60 persen tubuhnya.
Kepala Dinas Sosial Depok, Dr. H. Budi Santoso, mengatakan pihaknya akan memberikan bantuan psikologis bagi keluarga korban. "Kami akan membentuk tim khusus untuk memberikan dukungan psikologis bagi korban dan keluarga yang terdampak," ujar Budi.
Di sisi lain, Komnas Perempuan menilai kasus ini menunjukkan pentingnya perlindungan anak dalam lingkungan keluarga. "Kasus ini menunjukkan adanya kekerasan dalam rumah tangga yang berujung pada pelecehan terhadap anak. Kami akan memantau perkembangan kasus ini," ujar juru bicara Komnas Perempuan, Fitri Handayani.
Dampak Psikologis bagi Korban dan Keluarga
Psikolog dari Universitas Indonesia, Dr. Siti Aminah, menjelaskan bahwa dampak psikologis bagi korban akan sangat signifikan. "Anak yang mengalami trauma seperti ini butuh perawatan psikologis jangka panjang. Potensi terjadinya gangguan stres pasca trauma (PTSD) sangat besar," jelas Siti.
Untuk keluarga korban, Siti menambahkan, butuh waktu lama untuk pulih dari trauma yang dialami. "Keluarga korban juga butuh dukungan psikologis karena mereka menjadi saksi mata dari kejadian yang traumatis ini," tambahnya.
Saat ini, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengungkap motif pasti dari perbuatan yang dilakukan oleh S. Pelaku akan dijerat dengan pasal tentang pengeroyokan dan kekerasan dalam rumah tangga yang mengakibatkan kematian atau luka-luka berat.
Tragedi ini kembali menyoroti pentingnya peran keluarga dalam menjaga stabilitas emosi, terutama bagi para lanjut usia yang mungkin mengalami masalah kesehatan jiwa. Kasus ini juga mengingatkan akan pentingnya perlindungan anak dari segala bentuk kekerasan, bahkan yang datang dari lingkungan terdekatnya.
Komentar (0)