Pertamina Kumpulkan Minyak Jelantah Lewat KDKMP Untuk Bioavtur
PT Pertamina (Persero) melalui program Kerja Sama Kolektif dan Pengolahan Minyak Jelantah (KDKMP) terus mengumpulkan minyak jelantah dari seluruh Indonesia. Program ini bertujuan untuk mengolah limbah minyak jelantah menjadi bioavtur, bahan bakar terbarukan untuk pesawat terbang. Upaya ini sejalan dengan komitmen Pertamina dalam mendukung transisi energi menuju hijau dan netral karbon.
Kerja Sama Luas untuk Pengumpulan Limbah Minyak
Program KDKMP merupakan inisiatif Pertamina dalam mengelola limbah minyak jelantah secara terintegrasi. Minyak jelantah yang biasanya menjadi masalah lingkungan ini dikumpulkan dari berbagai sumber seperti rumah tangga, restoran, hotel, dan industri kuliner. Melalui kerja sama dengan pemerintah daerah, komunitas, dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), Pertamina berhasil membangun jaringan pengumpulan yang luas.
"Minyak jelantah yang terbuang sembarangan dapat mencemari lingkungan, terutama air tanah dan sungai. Melalui program ini, kita mengubah limbah menjadi sumber daya berharga," ujar Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati dalam keterangannya.
Proses Transformasi Menuju Bioavtur
Setelah dikumpulkan, minyak jelantah melalui serangkaian proses pengolahan di fasilitas Pertamina. Proses dimulai dari filtrasi untuk menghilangkan kotoran, kemudian dilakukan proses esterifikasi dan transesterifikasi untuk mengubah minyak jelantah menjadi biodiesel. Hasilnya kemudian diolah lebih lanjut untuk mencapai standar avtur.
Bioavtur yang dihasilkan dari minyak jelantah memiliki kualitas setara dengan avtur konvensional namun memiliki jejak karbon lebih rendah. Pertamina telah berhasil mengembangkan teknologi ini secara mandiri dan menerapkannya di beberapa fasilitas pengolahan.
Dampak Positif bagi Lingkungan dan Energi
Penggunaan bioavtur memberikan dampak positif ganda. Secara lingkungan, program ini mengurangi pencemaran akibat pembuangan minyak jelantah secara sembarangan dan mengurangi emisi gas rumah kaca. Setiap ton minyak jelantah yang diolah menjadi bioavtur dapat mengurangi emisi karbon hingga 80% dibandingkan dengan avtur konvensional.
Secara energi, program ini mendukung diversifikasi sumber energi avtur di Indonesia. Saat ini, Indonesia masih bergantung pada impor avtur untuk memenuhi kebutuhan industri penerbangan. Dengan memanfaatkan minyak jelantah sebagai bahan baku, Pertamina mengurangi ketergantungan pada impor dan meningkatkan ketahanan energi nasional.
Komitmen Menuju Energi Hijau
Program KDKMP merupakan bagian dari komitmen Pertamina dalam mencapai target netral karbon pada tahun 2060. Selain bioavtur, Pertamina juga mengembangkan berbagai produk energi terbarukan seperti biodiesel, bioethanol, dan energi terbarukan lainnya.
"Kami terus berinovasi untuk mengembangkan energi terbarukan yang ramah lingkungan. Minyak jelantah adalah salah satu sumber daya yang sering diabaikan namun memiliki potensi besar untuk diubah menjadi energi berkualitas," tambah Nicke.
Tantangan dan Masa Depan
Meski telah mencapai kemajuan signifikan, program ini masih menghadapi beberapa tantangan. Kualitas minyak jelantak yang bervariasi menjadi salah satu hambatan dalam proses pengolahan. Selain itu, kesadaran masyarakat penting untuk terus ditingkatkan agar minyak jelantah tidak dibuang sembarangan.
Untuk mengatasi hal ini, Pertamina terus melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat serta pihak terkait. Perusahaan juga berencana untuk meningkatkan fasilitas pengolahan dan memperluas jaringan pengumpulan minyak jelantah ke seluruh Indonesia.
Dengan program KDKMP, Pertamina membuktikan bahwa limbah dapat menjadi sumber daya berharga. Inovasi ini tidak hanya mengatasi masalah lingkungan tetapi juga menciptakan nilai ekonomi dan mendukung transisi energi menuju hijau di Indonesia.
Komentar (0)