30, 2026
Teknologi

Perubahan Kampung Nelayan Tongke-Tongke Dulu Kumuh Sekarang Modern

Pelabuhan Tongke-tongke Sinjai bertransformasi lewat KNMP dengan fasilitas modern untuk meningkatkan kualitas hasil tangkapan dan ekonomi nelayan.]]>

Arief Pratama
Arief Pratama Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Perubahan Kampung Nelayan Tongke-Tongke Dulu Kumuh Sekarang Modern

Kampung Nelayan Tongke-Tongke di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, mencatat perubahan besar dalam beberapa tahun terakhir. Kawasan yang dulu dikenal kumuh dan identik dengan permukiman padat di pesisir kini menjelma menjadi kawasan wisata bahari yang tertata, modern, dan menjadi salah satu ikon baru di pantai timur Sulawesi Selatan.

Dari Permukiman Kumuh Menjadi Kawasan Tertata

Perubahan wajah Kampung Nelayan Tongke-Tongke tidak terjadi dalam semalam. Sebelum pembenahan dilakukan, kawasan ini menghadapi persoalan klasik permukiman nelayan: rumah-rumah dibangun tanpa penataan ruang yang jelas, sebagian berdiri di atas air dengan konstruksi seadanya, sanitasi buruk, dan sampah rumah tangga yang menumpuk di sekitar garis pantai. Akses jalan sempit dan berlumpur, sementara penerangan jalan sangat terbatas. Citra kumuh melekat kuat pada kawasan yang dihuni ribuan keluarga nelayan tersebut.

Kondisi itu mulai berubah ketika pemerintah daerah bersama berbagai pihak mendorong penataan kawasan permukiman nelayan. Pembangunan infrastruktur dasar menjadi prioritas, mulai dari perbaikan jalan lingkungan, penyediaan drainase, penataan rumah panggung, hingga pembangunan fasilitas umum seperti dermaga dan ruang publik. Penataan dilakukan dengan tetap mempertahankan karakter permukiman nelayan yang berada di atas air, sehingga identitas kampung tidak hilang.

Infrastruktur dan Fasilitas Publik Ditata Bertahap

Sejumlah fasilitas baru kini hadir di Tongke-Tongke. Jembatan dan jalan kayu yang menghubungkan antarbagian kampung dibangun lebih kokoh dan aman. Rumah-rumah warga diatur agar memiliki garis sempadan yang seragam, sementara kawasan pantai dibersihkan dan ditata sebagai ruang terbuka yang dapat diakses wisatawan. Pemerintah juga menata kawasan kuliner dan pusat oleh-oleh hasil laut, yang menjadi sumber penghasilan tambahan bagi warga.

Penataan tersebut menjadikan Tongke-Tongke tidak hanya layak huni bagi nelayan, tetapi juga menarik bagi pengunjung. Kawasan ini kini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata di Sinjai dengan panorama jembatan kayu, rumah panggung di atas laut, serta deretan perahu nelayan yang menjadi latar khas. Aktivitas jual beli hasil tangkapan, termasuk ikan segar dan hasil olahan rumput laut, turut menghidupkan ekonomi kawasan.

Dampak pada Ekonomi dan Sosial Warga

Perubahan fisik kawasan berdampak langsung pada kehidupan sosial dan ekonomi warga. Nelayan dan keluarga mereka kini memiliki akses lebih baik terhadap pasar, layanan kesehatan, dan pendidikan. Kehadiran wisatawan membuka peluang usaha baru, mulai dari homestay, warung makan, penyewaan perahu, hingga penjualan kerajinan dan produk olahan hasil laut.

Meski demikian, sejumlah tantangan tetap membayangi. Pengelolaan sampah dan limbah rumah tangga masih memerlukan perhatian serius agar tidak mencemari perairan. Selain itu, peningkatan jumlah kunjungan menuntut kesiapan warga dan pemerintah dalam menjaga kebersihan, keamanan, serta kelestarian lingkungan pesisir. Penataan yang telah berjalan perlu diikuti dengan aturan yang jelas mengenai pemanfaatan ruang dan aktivitas wisata.

Pelajaran dari Tongke-Tongke

Perjalanan Kampung Nelayan Tongke-Tongke menunjukkan bahwa penataan permukiman pesisir dapat mengubah citra kawasan sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga, asalkan dilakukan secara bertahap dan melibatkan masyarakat setempat. Transformasi ini juga menjadi contoh bagaimana potensi bahari dapat dikembangkan tanpa menghilangkan jati diri kampung nelayan.

Bagi banyak pihak, Tongke-Tongke kini bukan lagi sekadar kampung kumuh, melainkan wajah baru permukiman nelayan Indonesia yang lebih tertata dan berdaya saing. Keberlanjutan perubahan itu akan sangat bergantung pada konsistensi perawatan, pengelolaan lingkungan, serta peran aktif warga dalam menjaga kawasan yang telah dibangun bersama.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Arief Pratama

Peneliti muda yang tertarik pada data, inflasi, dan daya beli masyarakat.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter