30, 2026
Olahraga

Prabowo Puji Profesor Ini Gegara Bensin Sawit, Ingatkan Bahaya Asing

Presiden Prabowo Subianto apresiasi inovasi akademisi dalam mengolah kelapa sawit menjadi BBM.]]>

Kirana Utami
Kirana Utami Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Prabowo Puji Profesor Ini Gegara Bensin Sawit, Ingatkan Bahaya Asing

Prabowo Puji Profesor yang Karya Tentang Bensin Sawit, Ingatkan Bahaya Asing

Menteri Pertahanan Prabowo Subianto memberikan apresiasi yang tinggi terhadap seorang profesor yang telah mengembangkan bahan bakar nabati dari kelapa sawit. Dalam sebuah acara terkait energi nasional, Prabowo menyoroti pentingnya inovasi dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar impor yang dinilai membawa ancaman bagi kedaulatan Indonesia.

"Saya sangat mengapresiasi karya Profesor Ahmad Dahlan yang telah berhasil menciptakan bensin alternatif dari kelapa sawit. Ini bukan sekadar inovasi, tapi sebuah langkah strategis untuk mencapai ketahanan energi nasional," ujar Prabowo dalam sambutannya.

Menurut Prabowo, ketergantungan Indonesia pada impor bahan bakar mineral telah lama menjadi ancaman bagi kedaulatan negara. Keadaan ini dinilai semakin kritis mengingat harga minyak dunia yang fluktuatif dan politik energi global yang sering tidak menguntungkan bagi negara-negara pengimpor.

"Kita tidak bisa terus bergantung pada orang lain untuk kebutuhan energi dasar. Ini sangat berbahaya bagi kedaulatan kita. Profesor Dahlan telah menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi untuk mandiri dalam mengelola energi," tambahnya.

Inovasi Bahan Bakar Nabati dari Kelapa Sawit

Profesor Ahmad Dahlan, seorang akademisi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), telah menghabiskan lebih dari satu deade untuk mengembangkan teknologi pengolahan kelapa sawit menjadi bahan bakir nabati berkualitas tinggi. Hasil risetnya menunjukkan bahwa bensin dari kelapa sawit memiliki efisiensi yang setara dengan bensin fosil namun dengan emisi karbon yang jauh lebih rendah.

"Kelapa sawit adalah emas hijau Indonesia. Kita memiliki kekayaan alam yang luar biasa, tapi seringkali kita tidak memanfaatkannya secara optimal. Dengan teknologi tepat, sawit bisa menjadi solusi masalah energi kita," jelas Profesor Dahlan dalam diskusi terkait.

Menurutnya, Indonesia saat ini memproduksi lebih dari 40 juta ton kelapa sawit per tahun, namun sebagian besar hanya diekspor dalam bentuk crude palm oil (CPO) dengan nilai tambah yang rendah. Dengan mengolahnya menjadi bahan bakar nabati, nilai ekonomis sawit dapat meningkat hingga lima kali lipat.

Upaya Mewujudkan Ketahanan Energi

Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menyatakan komitmen untuk mendorong program energi terbarukan dan pengurangan ketergantungan pada bahan bakar fosil. Data menunjukkan bahwa Indonesia masih mengimpor sekitar 30% kebutuhan bensinnya, dengan nilai mencapai triliunan rupiah setiap tahunnya.

"Potensi energi terbarukan di Indonesia sangat besar. Dari surya, angin, hingga biomassa seperti sawit. Yang kita butuhkan adalah teknologi dan dukungan untuk mengembangkannya secara masif," ujar Menteri ESDM dalam kesempatan terpisah.

Program bensin sawit yang dikembangkan Profesor Dahlan sedang dalam tahap uji coba di beberapa provinsi penghasil kelapa sawit seperti Riau, Jambi, dan Kalimantan Barat. Jika berhasil, program ini diharapkan dapat mengurangi impor bensin hingga 20% dalam lima tahun ke depan.

Tantangan dan Masa Depan

Meski penuh harapan, pengembangan bensin sawit masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah masalah infrastruktur yang belum memadai untuk mendukung produksi skala besar. Selain itu, dana yang besar diperlukan untuk membangun pabrik-pablik pengolahan bahan bakar nabati.

"Kami sudah berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan infrastruktur pendukung tersedia. Kami juga sedang mencari investor yang berminat untuk masuk ke sektor ini," jelas sepejabat dari Kementerian BUMN yang terlibat dalam program ini.

Dari sisi ekonomi, pengembangan bensin sawit diharapkan dapat meningkatkan nilai tukar komoditas Indonesia di pasar global dan menciptakan lapangan kerja baru di sektor pertanian dan industri hilir. Potensi ini semakin menarak mengingat harga minyak dunia yang cenderung meningkat dalam jangka panjang.

Prabowo dalam sambutannya menegaskan bahwa pengembangan energi dalam negeri bukan hanya soal teknologi, tapi juga soal kedaulatan dan martabat bangsa. "Kita harus mampu menguasai sendiri sumber energi kita. Ini bukan pilihan, tapi keharusan untuk Indonesia maju," tegasnya.

Program bensin sawit ini menjadi bagian dari upaya lebih luas dalam mewujudkan Indonesia sebagai negara mandiri dalam sektor energi. Dengan dukungan penuh dari pemerintah dan partisipasi masyarakat, diharapkan Indonesia dapat mengurangi ketergantungan pada impor dan membangun sistem energi yang berkelanjutan untuk generasi mendatang.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Kirana Utami

Reporter lapangan yang kerap menyoroti UMKM dan ekonomi kerakyatan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter