06, 2026
Nasional

Raja Salman Ngamuk, Saudi Terjunkan 100 Jet Tempur Gempur Houthi

Koalisi militer Arab Saudi meluncurkan serangan baru di Yaman dengan 100 jet tempur, mendukung pasukan Yaman melawan kelompok Houthi.]]>

Julia Halim
Julia Halim Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Raja Salman Ngamuk, Saudi Terjunkan 100 Jet Tempur Gempur Houthi

Raja Salman Perintahkan Operasi Militer Skala Besar terhadap Houthi

Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud dilaporkan memerintahkan operasi militer besar-besaran terhadap kelompok Houthi di Yaman. Arab Saudi dikabarkan mengerahkan sekitar 100 jet tempur dalam gelombang serangan udara yang menyasar sejumlah lokasi strategis yang dikuasai kelompok tersebut. Operasi ini menandai salah satu eskalasi paling signifikan dalam konflik Yaman dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut sumber-sumber yang dikutip dari laporan intelijen regional, perintah operasi dikeluarkan langsung dari istana kerajaan setelah serangkaian serangan Houthi yang dinilai melampaui batas toleransi Riyadh. Serangan-serangan tersebut mencakup peluncuran drone dan rudal balistik ke arah infrastruktur vital Arab Saudi, termasuk fasilitas minyak dan kawasan permukiman sipil.

Latar Belakang Eskalasi

Ketegangan antara Arab Saudi dan Houthi kembali memanas setelah kelompok yang didukung Iran itu meningkatkan intensitas serangan lintas batas. Sejumlah proyektil dilaporkan berhasil menembus sistem pertahanan udara dan menimbulkan kerusakan di beberapa titik strategis. Riyadh menilai serangan tersebut sebagai ancaman langsung terhadap keamanan nasional dan stabilitas kawasan.

Houthi selama ini menguasai ibu kota Sanaa dan sejumlah wilayah padat penduduk di Yaman utara. Kelompok ini secara terbuka menyatakan bahwa serangan mereka merupakan respons atas operasi militer koalisi pimpinan Arab Saudi yang telah berlangsung bertahun-tahun. Konflik yang meletus sejak 2014 ini telah menciptakan salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia.

Kekuatan Udara Dikerahkan

Laporan menyebutkan sekitar 100 jet tempur dari berbagai skuadron Angkatan Udara Kerajaan Saudi dikerahkan dalam operasi ini. Pesawat-pesawat tersebut disebut melancarkan serangan terhadap markas komando, gudang senjata, serta instalasi peluncuran rudal milik Houthi. Beberapa sumber menyatakan operasi berlangsung dalam beberapa gelombang dan berlangsung hingga dini hari waktu setempat.

Selain jet tempur, sejumlah pesawat tanker dan pesawat pengintai turut dikerahkan untuk mendukung operasi. Koalisi yang dipimpin Arab Saudi juga dilaporkan menyiapkan dukungan logistik bagi kelangsungan operasi udara lanjutan. Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi resmi mengenai jumlah korban dari pihak Houthi maupun dampak kerusakan yang ditimbulkan.

Reaksi Houthi dan Pihak Terkait

Juru bicara Houthi menyatakan bahwa serangan udara koalisi tidak akan melemahkan posisi mereka. Kelompok itu bersumpah akan membalas setiap agresi dengan serangan yang lebih besar. Pernyataan tersebut disampaikan melalui saluran media yang mereka kendalikan, sementara akses informasi independen ke wilayah yang terkena serangan sangat terbatas.

Iran, sebagai pihak yang selama ini dituduh memasok senjata kepada Houthi, mengecam operasi militer tersebut. Teheran menyebut serangan udara itu sebagai pelanggaran kedaulatan Yaman dan menyerukan penghentian segera operasi militer. Sebaliknya, sejumlah negara sekutu Arab Saudi menyatakan dukungan terhadap langkah Riyadh dalam menjaga keamanan kawasan.

Dampak bagi Stabilitas Kawasan

Eskalasi ini menambah kekhawatiran komunitas internasional terhadap prospek perdamaian di Yaman. Upaya gencatan senjata yang sempat dinegosiasikan dalam beberapa tahun terakhir dinilai berada dalam risiko besar. Pengamat menilai operasi udara berskala besar berpotensi memicu spiral kekerasan baru yang lebih sulit dikendalikan.

Harga minyak dunia disebut turut terpengaruh oleh perkembangan ini. Pasar energi global sensitif terhadap setiap ketegangan di kawasan Teluk, terutama yang melibatkan jalur pelayaran strategis dan fasilitas produksi minyak. Para analis memperingatkan bahwa berkepanjangan konflik dapat mengganggu pasokan energi dan meningkatkan volatilitas harga.

Krisis Kemanusiaan yang Memburuk

Organisasi kemanusiaan internasional mengingatkan bahwa operasi militer besar-besaran akan memperburuk kondisi warga sipil Yaman. Negara itu telah lama dilanda kelaparan, wabah penyakit, dan keruntuhan layanan publik. Jutaan orang bergantung pada bantuan kemanusiaan yang sering kali terhambat oleh situasi keamanan yang tidak kondusif.

Serangan udara yang menyasar wilayah padat penduduk berisiko menimbulkan korban sipil dalam jumlah besar. Lembaga-lembaga hak asasi manusia menyerukan semua pihak untuk mematuhi prinsip proporsionalitas dan membedakan antara sasaran militer dan objek sipil. Namun, dalam praktiknya, konflik di Yaman telah berkali-kali menciderai prinsip-prinsip tersebut.

Langkah Diplomasi yang Dinanti

Meskipun operasi militer terus berlanjut, sejumlah pihak masih mendorong jalur diplomasi. Utusan khusus PBB untuk Yaman diharapkan dapat menengahi dialog antara pihak-pihak yang bertikai. Namun, peluang tersebut dinilai semakin sempit seiring meningkatnya intensitas permusuhan dan saling tuduh antara Arab Saudi dan Houthi.

Riyadh menegaskan bahwa operasinya bertujuan memulihkan legitimasi pemerintah Yaman yang diakui internasional. Sementara Houthi menuntut penghentian seluruh operasi militer sebagai syarat perundingan. Perbedaan posisi yang tajam ini membuat jalan menuju penyelesaian politik masih panjang dan berliku.

Dengan dikerahkannya sekitar 100 jet tempur, operasi kali ini menunjukkan keseriusan Arab Saudi dalam menghadapi ancaman Houthi. Namun, sejarah panjang konflik Yaman memperlihatkan bahwa solusi militer semata tidak pernah cukup untuk mengakhiri perang. Tanpa terobosan diplomatik, siklus kekerasan diperkirakan akan terus berlanjut dan menelan korban dari kalangan sipil yang paling rentan.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Julia Halim

Kolumnis yang gemar mengupas isu perdagangan internasional dan rantai pasok.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter