18, 2026
Teknologi

Rano Karno Ingin Namu Balai Kota Jadi Tempat 'Ngeriung' Warga

Wagub DKI Jakarta Rano Karno membuka Namu Balai Kota, ruang interaksi bagi warga dengan pemerintah. Program ini mendekatkan layanan publik dan budaya Betawi.]]>

Putri Gunawan
Putri Gunawan Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Rano Karno Ingin Namu Balai Kota Jadi Tempat 'Ngeriung' Warga

Rano Karno Ingin Namu Balai Kota Jadi Tempat 'Ngeriung' Warga

Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengungkapkan keinginannya untuk mengubah Balai Kota Jakarta menjadi tempat yang lebih hidup dan ramai dikunjungi warga. Ia berharap gedung ikonik ini tidak hanya menjadi pusat pemerintahan, tetapi juga menjadi ruang publik yang nyaman bagi warga Jakarta untuk berkumpul dan berinteraksi.

Dalam sambutannya saat meresmikan renovasi Balai Kota Jakarta beberapa waktu lalu, Rano Karno menekankan pentingnya ruang publik dalam kehidupan kota. Menurutnya, gedung Balai Kota yang baru seharusnya menjadi tempat dimana warga merasa nyaman berkumpul, tidak hanya untuk keperluan administrasi pemerintahan, tetapi juga sebagai ruang untuk "ngeriung" atau berkumpula bersama.

Konsep Ruang Publik yang Inklusif

Rano Karno menjelaskan bahwa konsep "ngeriung" yang dimaksud adalah menciptakan ruang terbuka yang dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat. Ia berharap Balai Kota Jakarta dapat menjadi contoh bagi gedung-gedung pemerintahan lainnya di Indonesia untuk lebih terbuka kepada masyarakat.

"Balai Kota ini harus jadi milik warga Jakarta. Saya ingin gedung ini bisa menjadi tempat dimana warga bisa datang bukan hanya untuk urusan dinas, tetapi juga sekadar duduk-duduk, berbincang-bincang, atau sekadar menikmati suasana kota," ujar Rano Karno saat diwawancarai.

Gubernur yang juga dikenal sebagai aktor dan sutradara senior ini menambahkan bahwa ruang publik yang baik adalah ruang yang mampu menciptakan interaksi sosial positif antar warga. Dengan demikian, Balai Kota Jakarta diharapkan dapat menjadi pusat kegiatan sosial dan budaya yang memperkuat identitas warga Jakarta.

Renovasi dan Perubahan Fungsi

Proses renovasi Balai Kota Jakarta yang telah selesai dilaksanakan ini tidak hanya fokus pada perbaikan fisik gedung, tetapi juga pada perubahan fungsi gedung. Berbagai ruang di dalam gedung direncanakan akan dibuka untuk umum dengan berbagai fasilitas penunjang.

Beberapa fasilitas yang akan tersedia di antaranya adalah ruang pameran seni ruang terbuka, area baca umum, serta ruang pertemuan komunitas. Selain itu, taman di sekitar gedung juga akan diperindah dengan menambahkan berbagai fasilitas rekreasi seperti gazebo dan taman bermain anak-anak.

"Kami ingin Balai Kota ini tidak terkesan kaku dan formal. Sebaliknya, gedung ini harus terasa hangat dan akrab dengan warga. Itulah mengapa kami menambahkan berbagai fasilitas publik di dalam dan di sekitar gedung," jelas Kepala Dinas Cipta Karya DKI Jakarta, Ahmad Riza Fahmi.

Respons Positif dari Warga

Kebijakan ini mendapat respons positif dari berbagai kalangan, terutama para aktivis ruang publik. Mereka mengapresiasi langkah yang diambil Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam mengubah gedung pemerintahan menjadi ruang yang lebih terbuka dan inklusif.

"Ini adalah langkah yang sangat positif. Gedung pemerintahan seharusnya tidak menjadi simbol kejauhan antara pemerintah dan masyarakat, melainkan menjadi tempat pertemuan yang memperkuat hubungan keduanya," ujar aktivis ruang publik, Budi Santoso.

Sementara itu, beberapa warga yang sudah mencoba berkunjung ke Balai Kota Jakarta yang baru juga memberikan penilaian positif. Menurut mereka, suasana gedung yang lebih terbuka dan ramah membuat mereka lebih nyaman berkunjung.

"Sekarang lebih nyaman datang ke sini. Gedungnya bersih, terang, dan ada tempat duduk yang nyaman. Kalau dulu cuma sekalian lihat-lihat gedungnya saja, sekarang bisa duduk-duduk sejenak," kata Ahmad, warga Kebayoran Baru yang sedang berlibur ke kota.

Visi Jangka Panjang

Rano Karno menyatakan bahwa pengembangan Balai Kota Jakarta ini merupakan bagian dari visi jangka panjangnya untuk mengubah Jakarta menjadi kota yang lebih manusiawi. Menurutnya, kota yang baik adalah kota yang mampu memberikan ruang bagi warganya untuk berkembang dan berinteraksi sosial.

"Kota bukan hanya tentang gedung-gedung tinggi dan jalan raya yang luas. Lebih dari itu, kota adalah tentang manusia dan interaksi sosial. Dengan mengubah Balai Kota ini, kami berharap dapat memberikan contoh bagaimana gedung pemerintahan dapat berkontribusi dalam menciptakan kota yang lebih manusiawi," pungkas Rano Karno.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Putri Gunawan

Analis pasar modal dengan pengalaman lebih dari satu dekade di industri.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter