Nama An Se Young kini tercatat dalam sejarah baru bulutangkis dunia. Tunggal putri asal Korea Selatan itu resmi memecahkan rekor yang selama lebih dari tiga dekade dipegang legenda Indonesia, Susy Susanti, sebagai pemain yang paling lama bertahan di posisi puncak peringkat tunggal putri dunia.
Rekor tersebut terkonfirmasi melalui catatan Federasi Bulutangkis Dunia (BWF) yang diperbarui pekan ini. Sejak pertama kali menempati peringkat satu dunia pada Agustus 2023, An Se Young tidak pernah tergeser dari posisi teratas. Konsistensi itu membuat total masa kekuasaannya melampaui capaian Susy Susanti yang bertahan sejak akhir era 1980-an hingga pertengahan 1990-an.
Bagi bulutangkis Indonesia, catatan itu memiliki arti tersendiri. Susy Susanti bukan sekadar pemain hebat pada masanya, tetapi juga simbol kebangkitan tunggal putri Tanah Air di pentas internasional. Rekor yang bertahan lebih dari 30 tahun tersebut selama ini dianggap sebagai salah satu pencapaian paling sulit disamai, mengingat persaingan tunggal putri dunia yang sangat rapat dan berganti-ganti dari generasi ke generasi.
Rekor yang Bertahan Lebih dari Tiga Dekade
Sepanjang sejarah peringkat BWF, hanya segelintir pemain yang mampu bertahan lama di posisi nomor satu tunggal putri. Nama-nama seperti Susy Susanti, Zhang Ning, Li Xuerui, Wang Yihan, Carolina Marin, hingga Tai Tzu Ying pernah menempati posisi tersebut, tetapi tidak ada yang mampu menyamai rentang waktu yang dicatat Susy.
Ketika Susy berada di puncak, sistem kompetisi dan jumlah turnamen berbeda jauh dibandingkan sekarang. Kalender BWF modern menuntut pemain tampil di lebih banyak turnamen dengan tingkat persaingan yang lebih merata. Karena itu, pencapaian An Se Young dinilai bukan hanya soal lama bertahan, tetapi juga kemampuan menjaga performa di tengah jadwal yang padat dan tekanan fisik yang tinggi.
Rekor ini juga menunjukkan pergeseran pusat kekuatan bulutangkis dunia. Jika pada era 1990-an Indonesia dan Tiongkok mendominasi nomor tunggal putri, kini Korea Selatan tampil sebagai kekuatan utama, disusul Jepang, Tiongkok, dan beberapa negara Eropa.
Jalan An Se Young Menuju Puncak
An Se Young bukan pemain yang muncul secara tiba-tiba. Ia mulai dikenal publik bulutangkis internasional sejak usia belasan dan langsung menarik perhatian karena gaya bermainnya yang dewasa. Bakatnya terlihat jelas ketika ia meraih gelar bergengsi pada ajang BWF World Tour Finals 2021, sebuah pencapaian yang mengantar namanya masuk jajaran elite tunggal putri dunia.
Titik balik kariernya terjadi pada 2023. Pada Kejuaraan Dunia di Kopenhagen, Denmark, ia tampil sebagai juara dunia untuk pertama kalinya. Prestasi itu disusul medali emas Asian Games 2023 di Hangzhou, Tiongkok, yang menegaskan posisinya sebagai pemain paling konsisten di nomor tunggal putri.
Puncak karier An Se Young terjadi pada Olimpiade Paris 2024. Ia meraih medali emas setelah melewati rangkaian pertandingan berat, termasuk melawan sejumlah unggulan utama. Gelar itu melengkapi koleksi prestasinya dan menempatkannya sejajar dengan para legenda tunggal putri dunia.
Setelah Olimpiade, banyak pihak menduga performanya akan menurun karena tekanan dan kelelahan. Kenyataannya, An Se Young justru terus meraih gelar, termasuk pada All England dan Kejuaraan Dunia. Ia juga tercatat sebagai salah satu pemain yang paling sering menembus final dalam dua tahun terakhir.
Gaya Bermain dan Konsistensi
Kekuatan utama An Se Young terletak pada pertahanan yang rapat, cakupan lapangan yang luas, serta kemampuan bertahan dalam reli panjang. Ia jarang membuat kesalahan sendiri dan mampu mengubah tempo permainan sesuai kebutuhan. Kombinasi itu membuat lawan-lawannya kesulitan menembus pertahanannya, terutama di lapangan dengan arah angin yang menuntut kontrol tinggi.
Selain aspek teknis, kematangan mental menjadi faktor penting. Dalam sejumlah pertandingan, An Se Young kerap tertinggal lebih dulu, tetapi tetap mampu membalikkan keadaan. Ketengangan itulah yang dinilai menjadi pembeda antara dirinya dan para pesaing utama.
Warisan Susy Susanti
Susy Susanti dikenal sebagai perintis tunggal putri Indonesia yang berjaya di pentas dunia. Ia meraih medali emas pada Olimpiade Barcelona 1992, saat cabang bulutangkis pertama kali dipertandingkan di ajang tersebut. Gelar itu menjadi tonggak sejarah bagi bulutangkis nasional.
Selain emas Olimpiade, Susy juga mencatat prestasi sebagai juara dunia pada 1993 dan meraih beberapa gelar All England. Ia juga menyumbang medali pada Olimpiade Atlanta 1996. Setelah pensiun, Susy tetap aktif di dunia bulutangkis, termasuk dalam pembinaan dan manajemen organisasi.
Bagi generasi pemain saat ini, termasuk tunggal putri Indonesia Gregoria Mariska Tunjung, sosok Susy menjadi acuan. Rekor yang dipecahkan An Se Young tidak mengurangi nilai warisan tersebut, tetapi justru menegaskan betapa besarnya capaian Susy pada masanya.
Makna Rekor bagi Peta Persaingan
Pecahnya rekor ini menandai berakhirnya satu babak dalam sejarah peringkat tunggal putri dunia. An Se Young kini menjadi pembanding baru bagi para pesaingnya, seperti Wang Zhiyi, Akane Yamaguchi, dan sejumlah pemain muda yang mulai menanjak.
Bagi Korea Selatan, pencapaian ini memperkuat tradisi tunggal putri yang sebelumnya juga melahirkan pemain-pemain kelas dunia. Bagi bulutangkis Indonesia, catatan tersebut menjadi pengingat bahwa rekor sekalipun pada akhirnya bisa dilampaui, dan bahwa kerja panjang dalam pembinaan menjadi kunci untuk kembali bersaing di level tertinggi.
Yang paling penting, rekor An Se Young belum tentu berhenti di sini. Selama ia mampu menjaga kebugaran dan konsistensi, jumlah pekan di posisi puncak masih bisa terus bertambah, sekaligus membuka peluang terciptanya standar baru yang lebih tinggi dalam sejarah bulutangkis dunia.
Komentar (0)