02, 2026
Nasional

Rocky Gerung Jadi Wantimpres: Sikap Saya Tetap Radical Break

Kirana Wijaya
Kirana Wijaya Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Rocky Gerung dan Wacana Wantimpres: Sikap Kritis yang Tak Berubah

Nama Rocky Gerung kembali mencuat dalam perbincangan publik Tanah Air. Kali ini bukan karena pernyataan kontroversialnya tentang kekuasaan atau kritiknya terhadap kebijakan pemerintah, melainkan karena isu penunjukannya sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Wacana ini mengundang beragam reaksi dari berbagai kalangan, mulai dari politisi, akademisi, hingga masyarakat umum. Namun di tengah riuh rendah spekulasi tersebut, Rocky Gerung sendiri menegaskan bahwa sikap kritisnya tidak akan berubah. Ia menyatakan tetap pada posisi yang ia sebut sebagai "radical break", sebuah sikap yang menolak kompromi dengan kekuasaan dan tetap konsisten menyuarakan pandangan-pandangannya secara bebas.

Latar Belakang Wacana Penunjukan

Isu mengenai kemungkinan Rocky Gerung masuk ke dalam jajaran Wantimpres pertama kali mencuat melalui pernyataan sejumlah pihak yang menyebut namanya sebagai salah satu kandidat. Wantimpres sendiri merupakan lembaga yang bertugas memberikan nasihat dan pertimbangan kepada Presiden dalam menjalankan pemerintahan. Lembaga ini diatur dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2006 tentang Dewan Pertimbangan Presiden. Anggotanya terdiri dari tokoh-tokoh yang dianggap memiliki pengalaman, keahlian, dan integritas untuk memberikan masukan strategis kepada kepala negara.

Penunjukan anggota Wantimpres sepenuhnya merupakan hak prerogatif Presiden. Oleh karena itu, munculnya nama Rocky Gerung dalam wacana ini memicu pertanyaan besar: apakah kritikus keras pemerintah tersebut bersedia masuk ke dalam lingkaran kekuasaan, ataukah ini hanya bagian dari dinamika politik yang tidak berujung pada realisasi?

Sikap Tegas Rocky Gerung

Menanggapi hal tersebut, Rocky Gerung tidak menunjukkan keraguan. Ia menegaskan bahwa apapun keputusan yang nantinya diambil, sikapnya sebagai intelektual yang kritis tidak akan berubah. Baginya, posisi "radical break" adalah komitmen untuk tidak terkooptasi oleh kekuasaan. Istilah tersebut merujuk pada sikap pemutusan total dari praktik-praktik politik yang dianggapnya menyimpang, termasuk budaya kompromi yang mengorbankan kepentingan publik demi stabilitas kekuasaan.

Rocky selama ini dikenal sebagai sosok yang vokal mengkritik pemerintah, terutama dalam hal penegakan hukum, demokrasi, dan kebebasan berpendapat. Kritik-kritiknya sering kali disampaikan dengan gaya retoris yang tajam dan penuh sindiran. Ia tidak jarang menyebut bahwa kekuasaan cenderung korup dan bahwa tugas intelektual adalah mengawal kekuasaan agar tetap berada di jalur yang benar, bukan menjadi bagian dari kekuasaan itu sendiri.

Antara Kritik dan Kursi Kekuasaan

Jika benar Rocky Gerung diangkat menjadi anggota Wantimpres, maka hal ini akan menjadi ujian bagi konsistensi sikapnya. Sejumlah pengamat menilai bahwa masuknya kritikus ke dalam lembaga negara sering kali berisiko meredam ketajaman kritik. Fenomena ini bukan hal baru dalam politik Indonesia. Beberapa tokoh yang dahulu kritis terhadap pemerintah kemudian berubah sikap setelah menduduki jabatan tertentu. Namun Rocky menegaskan bahwa dirinya bukan tipe orang yang mudah dikooptasi. Ia menyatakan bahwa jika pun menerima posisi tersebut, hal itu semata-mata untuk memperjuangkan gagasan-gagasan yang selama ini ia suarakan dari luar sistem.

Di sisi lain, ada pula yang menilai bahwa masuknya Rocky ke Wantimpres bisa menjadi angin segar. Kehadirannya diharapkan mampu mendorong pemerintah untuk lebih terbuka terhadap kritik dan masukan. Namun, tidak sedikit pula yang skeptis dan menilai bahwa lembaga Wantimpres tidak memiliki kekuatan eksekutif yang signifikan, sehingga kehadiran Rocky di sana tidak akan banyak mengubah kebijakan.

Reaksi Publik dan Dinamika Politik

Wacana ini memicu perdebatan di media sosial dan ruang publik. Sebagian mendukung langkah tersebut sebagai bentuk rekonsiliasi dan keterbukaan pemerintah terhadap perbedaan pendapat. Sebagian lain justru mencurigai adanya manuver politik untuk meredam suara kritis menjelang berbagai agenda politik nasional. Terlepas dari pro dan kontra, isu ini menunjukkan bahwa dinamika politik Indonesia masih sangat cair dan penuh kejutan.

Yang jelas, pernyataan Rocky Gerung tentang "radical break" menjadi penanda bahwa ia ingin tetap dilihat sebagai sosok yang independen. Ia tidak ingin identitasnya sebagai pengkritik luntur hanya karena kursi kekuasaan. Baginya, nilai perjuangan jauh lebih penting daripada jabatan. Sikap ini, terlepas dari setuju atau tidak, mencerminkan posisi seorang intelektual publik yang mencoba menjaga jarak dari godaan kekuasaan.

Kesimpulan yang Belum Usai

Hingga kini, belum ada kepastian resmi mengenai penunjukan Rocky Gerung sebagai anggota Wantimpres. Yang tersisa adalah pernyataannya yang tegas bahwa sikap kritisnya tidak akan berubah. Publik pun menunggu apakah wacana ini akan menjadi kenyataan atau hanya menjadi bagian dari hiruk-pikuk politik sesaat. Apapun hasilnya, nama Rocky Gerung tetap menjadi penanda bahwa dalam demokrasi, suara kritis selalu punya tempat, bahkan ketika berhadapan langsung dengan pusat kekuasaan.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Kirana Wijaya

Penulis lepas yang menulis tentang startup, teknologi, dan ekosistem digital Indonesia.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter