30, 2026
Olahraga

Sampah Sisa Makanan Hasilkan Emisi, KLH Ungkap Cara Mengolahnya

Dian Gunawan
Dian Gunawan Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 1 dibaca

Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menyoroti persoalan sampah sisa makanan yang selama ini menjadi salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar di Indonesia. Sampah organik yang membusuk di tempat pembuangan akhir menghasilkan gas metana, jenis gas rumah kaca yang daya pemanasannya jauh lebih tinggi dibandingkan karbon dioksida. Persoalan ini dinilai memerlukan penanganan serius, tidak hanya dari sisi pengelolaan akhir tetapi juga dari perilaku masyarakat sehari-hari.

Sampah Makanan dan Beban Emisi yang Ditimbulkan

Data KLH menunjukkan bahwa timbulan sampah nasional didominasi oleh sampah sisa makanan dan sampah organik lainnya. Ketika sampah jenis ini terurai tanpa pengelolaan yang tepat, proses dekomposisi anaerob di lingkungan tertutup menghasilkan metana. Emisi tersebut lepas ke atmosfer dan berkontribusi pada pemanasan global. Persoalan bertambah karena sebagian besar sampah masih berakhir di tempat pembuangan akhir terbuka yang kapasitasnya semakin terbatas.

Selain menghasilkan metana, pembusukan sampah makanan juga menimbulkan cairan lindi yang berpotensi mencemari air tanah dan badan air di sekitar lokasi pembuangan. Bau tidak sedap serta munculnya vektor penyakit menjadi dampak lanjutan yang dirasakan warga di sekitar tempat pembuangan. Karena itu, KLH menilai pengelolaan sampah organik tidak bisa lagi diselesaikan hanya dengan pendekatan pengangkutan dan penimbunan.

Langkah Pengolahan yang Ditawarkan KLH

KLH mengungkap sejumlah cara mengolah sampah sisa makanan agar tidak langsung dibuang ke tempat pembuangan akhir. Pendekatan utama yang didorong adalah pemilahan sejak dari sumber, yaitu rumah tangga, restoran, pasar, dan kantin. Dengan memisahkan sampah organik dari sampah anorganik, proses pengolahan menjadi lebih mudah dan nilai manfaatnya lebih besar.

1. Pengomposan Skala Rumah Tangga

Pengomposan menjadi cara paling sederhana dan dapat dilakukan siapa saja. Sisa makanan seperti kulit buah, sisa sayur, dan ampas dapur difermentasi dengan bantuan mikroorganisme hingga menjadi pupuk. Metode ini dapat menggunakan komposter sederhana, lubang biopori, atau wadah tertutup. Hasil kompos dapat dimanfaatkan untuk tanaman sendiri sehingga mengurangi kebutuhan pupuk kimia.

2. Budidaya Maggot Black Soldier Fly

KLH menyebut budidaya maggot dari lalat Black Soldier Fly sebagai metode yang efektif dan cepat. Larva maggot mengonsumsi sampah organik dalam jumlah besar dan mengubahnya menjadi biomassa bernilai ekonomi. Maggot dapat dijadikan pakan ternak dan ikan, sementara residunya menjadi pupuk organik berkualitas. Metode ini banyak dikembangkan di bank sampah dan komunitas pengelola sampah di berbagai daerah.

3. Pengolahan Anaerob Menjadi Biogas

Untuk volume sampah yang lebih besar, pengolahan anaerob atau biodigester dapat mengubah sampah organik menjadi biogas. Gas yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi untuk memasak atau pembangkit listrik skala kecil. Teknologi ini cocok diterapkan di pasar, peternakan, dan kawasan dengan timbulan sampah organik yang tinggi dan stabil.

4. Eco-Enzyme dan Pemanfaatan Lain

Pengolahan sampah organik juga dapat dilakukan melalui fermentasi eco-enzyme yang memanfaatkan sisa buah dan sayur bersama gula dan air. Cairan hasil fermentasi dapat digunakan sebagai pembersih, pupuk cair, atau campuran untuk pengolahan air. Selain itu, sampah makanan yang masih layak dapat disalurkan melalui bank makanan untuk mengurangi pemborosan pangan.

Peran Pemerintah Daerah dan Masyarakat

KLH menegaskan bahwa keberhasilan pengolahan sampah organik bergantung pada kolaborasi lintas pihak. Pemerintah daerah didorong memperkuat infrastruktur pemilahan, menyediakan fasilitas pengomposan komunal, serta mengembangkan bank sampah di tingkat kelurahan. Regulasi daerah mengenai pemilahan sampah dan pembatasan penimbunan sampah organik di tempat pembuangan akhir juga diperlukan sebagai instrumen pengendalian.

Di sisi lain, masyarakat berperan sebagai penentu utama. Perubahan pola konsumsi, pengurangan sisa makanan, dan kebiasaan memilah sampah menjadi langkah awal yang berdampak besar. Kampanye edukasi yang menyasar rumah tangga, sekolah, pasar, dan pelaku usaha kuliner dinilai penting agar praktik pengolahan sampah organik menjadi kebiasaan, bukan sekadar program sesaat.

KLH juga menyoroti peluang ekonomi dari pengelolaan sampah organik. Kompos, maggot, dan biogas memiliki nilai jual sehingga dapat menjadi sumber penghasilan tambahan bagi komunitas pengelola. Pendekatan ini sejalan dengan konsep ekonomi sirkular yang menempatkan sampah sebagai sumber daya, bukan residu yang harus dibuang.

Target Pengurangan Emisi dan Tantangan ke Depan

Pengelolaan sampah organik berkaitan langsung dengan target pengurangan emisi gas rumah kaca nasional. Dengan menekan jumlah sampah makanan yang berakhir di tempat pembuangan akhir, emisi metana dapat ditekan secara signifikan. Namun, tantangan masih besar, mulai dari keterbatasan fasilitas, rendahnya kesadaran masyarakat, hingga lemahnya penegakan aturan di tingkat daerah.

KLH menekankan bahwa solusi tidak dapat bertumpu pada satu teknologi saja. Kombinasi pengomposan, budidaya maggot, biodigester, dan pengurangan sisa makanan di sumber perlu dijalankan secara bersamaan sesuai karakteristik wilayah. Dengan begitu, penanganan sampah sisa makanan tidak hanya mengurangi emisi, tetapi juga memperbaiki kualitas lingkungan dan memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Dian Gunawan

Penulis lepas yang menulis tentang startup, teknologi, dan ekosistem digital Indonesia.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter