04, 2026
Ekonomi

Sarmuji: Industri Tumpuan Daya Ungkit Pertumbuhan Ekonomi

Maya Anggraini
Maya Anggraini Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Ketua Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Sarmuji, menegaskan bahwa sektor industri merupakan tumpuan utama yang berfungsi sebagai daya ungkit bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Pernyataan tersebut disampaikannya dalam berbagai forum pembahasan di parlemen, menyoroti peran strategis industri manufaktur dalam menciptakan nilai tambah, menyerap tenaga kerja, serta memperkuat struktur perekonomian negara di tengah ketidakpastian global.

Industri sebagai Penggerak Utama Perekonomian

Sarmuji menjelaskan bahwa industri pengolahan atau manufaktur memiliki keterkaitan luas dengan sektor-sektor lain, mulai dari pertanian, pertambangan, hingga jasa. Menurutnya, ketika sektor industri tumbuh, dampak bergandanya atau multiplier effect akan terasa pada peningkatan permintaan bahan baku, pengembangan logistik, serta pertumbuhan usaha kecil dan menengah yang menjadi bagian dari rantai pasok. Ia menilai bahwa tanpa penguatan sektor industri, upaya mendorong pertumbuhan ekonomi akan menghadapi keterbatasan karena sektor ini menjadi pengolah sumber daya alam menjadi produk bernilai tambah tinggi.

Politikus yang juga dikenal aktif mengawasi kebijakan badan usaha milik negara dan investasi tersebut menekankan pentingnya hilirisasi industri sebagai langkah strategis untuk meningkatkan daya saing. Hilirisasi dinilainya mampu mengubah orientasi ekspor dari bahan mentah menjadi produk setengah jadi maupun barang jadi, sehingga nilai tambah yang dinikmati perekonomian domestik menjadi jauh lebih besar. Dalam pandangannya, hilirisasi bukan sekadar kebijakan jangka pendek, melainkan fondasi transformasi ekonomi yang harus dijalankan secara konsisten dan terukur.

Daya Ungkit bagi Pertumbuhan Ekonomi

Menurut Sarmuji, industri berperan sebagai daya ungkit karena mampu mengangkat kapasitas produksi nasional, menciptakan lapangan kerja berkualitas, dan meningkatkan penerimaan negara melalui pajak serta royalti. Ia menyebut bahwa setiap investasi di sektor industri, khususnya industri padat karya dan industri teknologi tinggi, berpotensi membuka peluang kerja baru sekaligus meningkatkan keterampilan angkatan kerja. Hal ini, lanjutnya, berkontribusi langsung terhadap peningkatan daya beli masyarakat yang pada akhirnya mendorong konsumsi domestik sebagai salah satu motor pertumbuhan ekonomi.

Ia juga menyoroti bahwa sektor industri memiliki ketahanan yang relatif lebih baik dibandingkan sektor yang sangat bergantung pada komoditas mentah. Ketika harga komoditas global berfluktuasi, industri yang telah terintegrasi dalam rantai nilai global dan memiliki diversifikasi produk cenderung lebih stabil dalam menghadapi guncangan eksternal. Karena itu, penguatan industri dianggap sebagai strategi untuk menjaga stabilitas ekonomi jangka panjang, bukan hanya mengejar pertumbuhan sesaat.

Tantangan dan Kebutuhan Kebijakan Pendukung

Dalam berbagai kesempatan, Sarmuji mengakui bahwa sektor industri nasional masih menghadapi sejumlah tantangan, antara lain persaingan dengan produk impor, keterbatasan infrastruktur di beberapa daerah, serta kebutuhan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Ia menilai bahwa kebijakan yang mendukung iklim usaha, kepastian hukum, dan kemudahan berinvestasi menjadi prasyarat agar sektor industri dapat tumbuh secara berkelanjutan. Selain itu, harmonisasi antara kebijakan fiskal, moneter, dan sektoral dinilai penting agar insentif yang diberikan benar-benar efektif mendorong ekspansi industri.

Sarmuji juga menekankan perlunya penguatan industri kecil dan menengah sebagai bagian tak terpisahkan dari rantai pasok industri besar. Ia mendorong adanya program pendampingan, akses pembiayaan yang lebih mudah, serta peningkatan kapasitas teknologi bagi pelaku usaha kecil dan menengah agar mampu menjadi pemasok yang andal bagi industri skala besar. Dengan demikian, pertumbuhan industri tidak hanya dinikmati oleh korporasi besar, tetapi juga dirasakan oleh pelaku usaha di daerah.

Peran Komisi VI dan Pengawasan Kebijakan

Sebagai mitra kerja kementerian yang membidangi perdagangan, perindustrian, koperasi, usaha kecil dan menengah, serta badan usaha milik negara, Komisi VI DPR memiliki peran penting dalam mengawal kebijakan industri. Sarmuji menyatakan bahwa pengawasan dilakukan tidak hanya untuk memastikan kepatuhan administratif, tetapi juga untuk menilai dampak nyata kebijakan terhadap pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Ia menginginkan agar setiap program pemerintah yang berkaitan dengan industri memiliki target yang jelas, indikator keberhasilan yang terukur, serta evaluasi berkala.

Ia juga menyoroti pentingnya sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam mengembangkan kawasan industri, termasuk penyediaan lahan, energi, dan konektivitas. Menurutnya, pembangunan kawasan industri yang terencana dapat menarik investasi masuk, menciptakan klaster produksi yang efisien, dan mendorong pemerataan pertumbuhan ekonomi di luar Jawa. Hal ini sejalan dengan upaya memperkuat struktur ekonomi yang tidak hanya terpusat di wilayah tertentu.

Orientasi Jangka Panjang dan Daya Saing Global

Dalam perspektif jangka panjang, Sarmuji menilai bahwa Indonesia perlu terus meningkatkan daya saing industri di pasar global melalui inovasi, penguasaan teknologi, dan pengembangan produk bernilai tambah tinggi. Ia mendorong kolaborasi antara dunia industri, perguruan tinggi, dan lembaga riset untuk mempercepat transfer teknologi serta pengembangan sumber daya manusia yang kompeten. Menurutnya, investasi pada riset dan pengembangan merupakan kunci agar industri nasional tidak terjebak pada posisi sebagai pemasok bahan mentah atau produk berteknologi rendah.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga stabilitas makroekonomi dan iklim investasi yang kondusif, karena sektor industri sangat sensitif terhadap ketidakpastian kebijakan, fluktuasi nilai tukar, dan gangguan rantai pasok global. Dengan fundamental ekonomi yang kuat dan kebijakan yang konsisten, ia optimistis sektor industri mampu menjadi penggerak utama yang mengangkat pertumbuhan ekonomi nasional ke tingkat yang lebih tinggi dan berkelanjutan.

Secara keseluruhan, pernyataan Sarmuji menegaskan posisi sektor industri sebagai tulang punggung perekonomian yang berfungsi sebagai daya ungkit pertumbuhan. Penguatan industri, hilirisasi, dan dukungan kebijakan yang terpadu dipandang sebagai jalur strategis untuk menciptakan lapangan kerja, meningkatkan nilai tambah, serta memperkokoh ketahanan ekonomi Indonesia dalam menghadapi dinamika perekonomian global yang terus berubah.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Maya Anggraini

Fokus pada kesehatan mental, mindfulness, dan produktivitas.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter