Seruni dan Dekranas Dukung Pelestarian Tenun Pegringsingan Bali
Pemerintah Provinsi Bali bersama Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Seruni dan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranas) Bali menggandeng untuk melestarikan tenun pegringsingan. Kegiatan ini bertujuan untuk menjaga warisan budaya khas Bali yang terancam punah. Tenun pegringsingan merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang telah diakui secara internasional.
Kolaborasi Penting untuk Pelestarian Budaya
Kolaborasi antara pemerintah daerah, LSM Seruni, dan Dekranas Bali menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga keberlanjutan tenun pegringsingan. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bali, I Made Sujana, mengatakan bahwa tenun pegringsingan merupakan bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Bali.
"Tenun pegringsingan memiliki nilai historis dan budaya yang tinggi. Pola motifnya yang unik dan proses pembuatannya yang rumit membuatnya menjadi warisan yang perlu dilestarikan," ujar Sujana saat membuka kegiatan pelatihan tenun pegringsingan di Gianyar, Rabu (15/3).
Tantangan yang Dihadapi Pengrajin
Meski memiliki nilai tinggi, industri tenun pegringsingan menghadapi berbagai tantangan. Salah satu masalah utama adalah minimnya generasi muda yang tertarik untuk meneruskan tradisi ini. Mayoritas pengrajin tenun pegringsingan saat ini adalah usia lanjut, sehingga diperkirakan dalam 10-20 tahun ke depan, jika tidak ada upaya khusus, keahlian ini bisa hilang.
Selain itu, masalah lainnya adalah keterbatasan modal dan pasar. Pengrajin sering kesulitan mendapatkan modal untuk memproduksi tenun dalam skala besar, sementara pasar yang ada masih terbatas dan tidak menjangkau secara luas. Hal ini menyebabkan pendapatan para pengrajin tidak stabil dan tidak menarik bagi generasi muda.
Program Pelatihan dan Pemberdayaan
Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah daerah bersama mitra kerja meluncurkan program pelatihan dan pemberdayaan bagi para calon pengrajin. Program ini bertujuan untuk menciptakan generasi baru yang memiliki keahlian dalam membuat tenun pegringsingan.
Ketua LSM Seruni, Ni Kadek Sri Wahyuni, menjelaskan bahwa program ini tidak hanya memberikan pelatihan teknik tenun, tetapi juga membekali peserta dengan keterampilan pengelolaan usaha dan pemasaran produk.
"Kami tidak hanya ingin menciptakan pengrajin, tetapi juga pengusaha yang mampu mengembangkan usaha tenun secara mandiri. Dengan pendekatan holistik ini, diharapkan industri tenun pegringsingan dapat berkembang secara berkelanjutan," ujar Sri Wahyuni.
Peningkatan Nilai Ekonomi Tenun Pegringsingan
Salah satu fokus utama program ini adalah meningkatkan nilai ekonomi dari tenun pegringsingan. Melalui Dekranas Bali, produk tenun akan dipasarkan melalui berbagai kanal, baik online maupun offline, untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Ketua Dekranas Bali, A.A. Gede Oka Suardana, menambahkan bahwa upaya peningkatan nilai ekonomi ini penting untuk menarik minat generasi muda.
"Kita perlu menunjukkan bahwa menjadi pengrajin tenun pegringsingan bisa menjadi profesi yang menjanjikan secara finansial. Dengan pendapatan yang memadai, diharapkan generasi muda akan tertarik untuk terlibat dalam pelestarian warisan budaya ini," kata Oka.
Rekognisi Internasional dan Dampak Pariwisata
Tenun pegringsingan sudah mendapat pengakuan internasional dengan status Warisan Budaya Tak Benda Dunia dari UNESCO. Pengakuan ini memberikan nilai tambah bagi produk tenun dan dapat menarik wisatawan yang tertarik pada budaya lokal.
Pemerintah daerah berencana memanfaatkan potensi ini dengan mengembangkan desa-desa pengrajin sebagai destinasi wisata budaya. Wisatawan tidak hanya dapat melihat proses pembuatan tenun, tetapi juga berpartisipasi dalam aktivitas tersebut.
"Wisata budaya ini akan memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat setempat. Selain itu, ini juga menjadi sarana untuk memperkenalkan kekayaan budaya Bali kepada dunia," jelas Sujana.
Langkah Jangka Panjang untuk Pelestarian
Untuk memastikan keberlanjutan program ini, pemerintah daerah bersama mitra kerja telah merancang langkah-langkah jangka panjang. Salah satunya adalah integrasi kurikulum tenun pegringsingan ke dalam sistem pendidikan formal dan non-formal di Bali.
Selain itu, juga akan dibentuk kelompok pengrajin yang terorganisir untuk memudakan akses pada bantuan modal, pelatihan, dan pasar. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan tradisi tenun pegringsingan dapat terus lestari dan berkembang di tengah arus modernisasi.
Kolaborasi ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya membutuhkan sinergi berbagai pihak. Dengan dukungan yang tepat, warisan budaya seperti tenun pegringsingan dapat terus hidup dan memberikan manfaat bagi masyarakat, baik secara budaya maupun ekonomi.
Komentar (0)