Sinabung Siaga, Warga Karo Diminta Segera Mengungsi
Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang meningkat. Pihak Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Pusat Vulkanologi dan Mitasi Bencana Gempa (PVMBG) menetapkan status gunung berapi tersebut kelevel Siaga (Level III) pada Rabu (15/11) lalu. Kenaikan status ini disusul dengan adanya peningkatan aktivitas seismik, deformasi permukaan, dan peningkatan emisi sulfur dioksida (SO2) yang signifikan.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Abdul Muhari mengatakan bahwa peningkatan status ini menjadi respons terhadap data monitoring yang menunjukkan aktivitas Sinabung terus meningkat dalam beberapa pekan terakhir. "Kami telah melihat adanya peningkatan frekuensi gempa vulkanik, gempa tektonik dangkal, serta gempa getaran halus (VB) yang terus berlangsung," ujar Muhari dalam konferensi pers yang diselenggarakan secara virtual.
Peningkatan Aktivitas Vulkanik
Menurat data PVMBG, aktivitas Sinabung mulai meningkat sejak perteng Oktober 2023. Frekuensi gempa vulkanik mencapai 15-20 kali per hari pada awal Oktober, kemudian meningkat menjadi 30-50 kali per hari pada pertengahan November. Selain itu, deformasi permukaan juga terdeteksi di sekitar kawah utama dengan laju sekitar 8 mm per hari.
Emisi sulfur dioksida (SO2) dari kawah Sinabung juga mengalami peningkatan drastis. Pada awal November, emisi SO2 hanya berkisar 100-200 ton per hari, namun pada pertengahan November meningkat menjadi 500-800 ton per hari. PVMBG juga melaporkan adanya kolom abu setinggi 500-1.000 meter di atas puncak gunung saat erupsi terjadi pada Minggu (19/11) lalu.
Area Bahaya dan Zona Waspada
Dengan kenaikan status menjadi Siaga (Level III), PVMBB menetapkan zona bahaya sejauh 3-5 kilometer dari puncak gunung. Zon ini mencakup beberapa desa di Kecamatan Naman Teran dan Kecamatan Merdeka. Warga yang tinggal dalam radius 3 kilometer dari puncak Sinabung diminta untuk segera mengungsi ke lokasi yang lebih aman.
Sementara itu, zona waspada diperluas hingga radius 5 kilometer dari puncak gunung. Di area ini, warga diminta waspadai potensi hujan abu, aliran lahar, dan material vulkanik lainnya yang dapat membahayakan keselamatan. PVMBG juga menambahkan bahwa potensi erupsi magmik masih tinggi dan dapat terjadi kapan saja tanpa adanya peringatan sebelumnya.
Evakuasi Warga dan Penyiapan Posko
Seiring dengan peningkatan status, pemerintah daerah Kabupaten Karo bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah memulai proses evakuasi warga yang tinggal dalam radius bahaya. Hingga Rabu (22/11), sebanyak 1.500 jiwa dari 450 kepala keluarga telah dievakuasi ke posko pengungsian yang tersebar di beberapa kecamatan.
Kepala BPBD Karo, Jhonson Tarigan, mengatakan bahwa pihaknya telah menyiapkan 5 posko pengungsian dengan fasilitas dasar yang memadai. "Kami telah menyiapkan tenda, selimut, makanan, dan obat-obatan untuk para pengungsi. Kami juga membentuk tim kesehatan untuk memantau kesehatan warga terdampak," ujar Tarigan.
Salah satu pengungsi, Marbun (45), warga Desa Guru Kinayan, mengaku khawatir dengan keadaan rumahnya yang masih berada dalam zona bahaya. "Saya memang sudah mengungsi sejak Minggu lalu karena melihat aktivitas Sinabung yang semakin meningkat. Saya berharap bisa kembali ke rumah secepatnya, tapi juga memahami bahwa keselamatan menjadi prioritas," ucap Marbun di posko pengungsian.
Tindakan Pencegahan dan Saran untuk Masyarakat
BNPB dan PVMBG meminta masyarakat di sekitar Gunung Sinabung untuk tetap waspada dan mematuhi arahan pemerintah. Masyarakat yang tinggal di luar zona bahaya namun berada dalam radius 5-10 kilometer diminta untuk mempersiapkan masker untuk mengantisipasi hujan abu yang dapat terjadi kapan saja.
Selain itu, warga juga diminta untuk tidak melakukan aktivitas di sekitar sungai-sungai yang mengalir dari puncak Sinabung karena berpotensi terjadinya aliran lahar. Warga juga dilarang mendekati area zona bahaya untuk kepentingan wisata atau kegiatan lainnya.
Kepala PVMBG Hendra Gunawan menekankan bahwa situasi Sinabung masih dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu. "Kami akan terus memantau aktivitas gunung dan akan memberikan update secara berkala. Masyarakat diminta untuk selalu mengikuti informasi resmi dari PVMBG dan pemerintah daerah," ujar Hendra.
Sementara itu, pemerintah pusat telah mengalokasikan dana darurat sebesar Rp5 miliar untuk penanganan bencana Gunung Sinabung. Dana tersebut digunakan untuk evakuasi, penyediaan fasilitas pengungsian, serta bantuan logistik dan kesehatan bagi warga terdampak. Pemerintah juga menyiapkan tim relawan untuk membantu proses evakuasi dan penanganan darurat.
Komentar (0)