24, 2026
Nasional

Sosok Letjen Widi Prasetijono, Eks Ajudan Jokowi yang Dituntut 10 Tahun

Vino Pratama
Vino Pratama Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Letnan Jenderal TNI Widi Prasetijono kembali menjadi sorotan publik setelah oditur militer menuntutnya dengan pidana 10 tahun penjara. Nama perwira tinggi TNI Angkatan Darat itu sebelumnya dikenal luas sebagai ajudan Presiden Joko Widodo pada periode awal pemerintahan, sebelum kemudian meniti karier melalui sejumlah jabatan strategis di lingkungan institusi militer.

Tuntutan tersebut dibacakan dalam rangkaian persidangan yang berjalan di lingkungan peradilan militer. Hingga tahap ini, tuntutan belum merupakan putusan akhir. Majelis hakim masih akan mendengarkan pembelaan dari penasihat hukum terdakwa sebelum menjatuhkan vonis, sehingga asas praduga tak bersalah tetap melekat pada diri Widi Prasetijono.

Sosok di Balik Seragam Bintang Tiga

Widi Prasetijono merupakan perwira lulusan Akademi Militer yang meniti karier dari tingkat satuan hingga mencapai pangkat letnan jenderal. Pangkat bintang tiga di lingkungan TNI Angkatan Darat umumnya disematkan kepada perwira yang menduduki jabatan komando kewilayahan, jabatan di lingkungan Markas Besar TNI, atau posisi strategis lain yang bersinggungan langsung dengan kebijakan pertahanan dan keamanan negara.

Salah satu titik yang paling melekat dalam rekam jejaknya adalah ketika ia dipercaya menjadi ajudan Presiden Joko Widodo. Posisi ajudan presiden bukan jabatan seremonial semata. Perwira yang mendudukinya bertanggung jawab mendampingi kepala negara dalam berbagai agenda, mulai dari kunjungan kerja, pertemuan kenegaraan, hingga peninjauan ke daerah. Ajudan juga menjadi penghubung antara presiden dan protokol serta unsur pengamanan di lapangan.

Karena kedekatannya dengan kepala negara, posisi ajudan biasanya diisi perwira yang dinilai memiliki rekam jejak disiplin, kemampuan koordinasi, dan integritas yang memadai. Pengalaman bertugas di lingkaran Istana kerap menjadi modal penting bagi seorang perwira untuk melanjutkan karier ke jabatan-jabatan yang lebih tinggi.

Rotasi dan Jabatan Setelah Masa Tugas di Istana

Seperti lazimnya pola pembinaan karier di TNI, perwira yang telah menyelesaikan masa tugas di lingkungan Istana akan kembali ke satuan asal atau mendapat penempatan baru. Rotasi ini merupakan bagian dari sistem pembinaan karier yang menuntut seorang perwira memiliki pengalaman di berbagai jenis jabatan, baik operasional, teritorial, pendidikan, maupun staf.

Bagi Widi Prasetijono, rangkaian penugasan tersebut mengantarkannya pada sejumlah posisi yang menuntut tanggung jawab besar, termasuk pembinaan satuan dan pengelolaan wilayah. Jabatan-jabatan semacam itu menempatkan seorang perwira tinggi berhadapan langsung dengan persoalan keamanan, kesejahteraan prajurit, serta hubungan dengan pemerintah daerah dan masyarakat setempat.

Tuntutan 10 Tahun dan Tahapan Hukum yang Berjalan

Dalam perkara yang menjeratnya, oditur militer menilai terdapat cukup alasan untuk menuntut hukuman 10 tahun penjara. Tuntutan itu disampaikan setelah rangkaian pemeriksaan saksi dan alat bukti berlangsung dalam persidangan. Namun demikian, tuntutan oditur bukanlah akhir dari proses hukum.

Hak Terdakwa dan Mekanisme Persidangan

Setelah pembacaan tuntutan, penasihat hukum terdakwa diberi kesempatan menyampaikan pembelaan. Tahap ini menjadi ruang bagi terdakwa untuk menjawab seluruh dalil yang diajukan oditur, termasuk menghadirkan saksi yang meringankan atau saksi ahli. Selanjutnya, oditur dapat menyampaikan replik dan penasihat hukum menyampaikan duplik sebelum majelis hakim mengambil putusan.

Apabila majelis hakim menjatuhkan putusan, kedua pihak masih memiliki upaya hukum. Banding dapat diajukan ke pengadilan militer tingkat tinggi, sementara kasasi diajukan ke Mahkamah Agung. Proses tersebut berarti perkara ini masih memiliki perjalanan panjang sebelum memperoleh kekuatan hukum tetap.

Makna Tuntutan bagi Publik

Angka 10 tahun yang diajukan oditur menjadi perhatian karena melibatkan perwira berpangkat tinggi dengan latar belakang penugasan di lingkaran kekuasaan. Publik umumnya menaruh perhatian pada konsistensi penegakan hukum di lingkungan institusi militer, terutama menyangkut prinsip akuntabilitas dan transparansi proses peradilan.

Di sisi lain, proses hukum yang berjalan perlu dibaca secara utuh. Tuntutan merupakan bagian dari rangkaian pembuktian, bukan penilaian akhir atas kesalahan seseorang. Hakim memiliki kewenangan menilai seluruh fakta yang terungkap di persidangan, termasuk hal-hal yang meringankan maupun memberatkan.

Implikasi bagi Institusi dan Karier Militer

Perkara yang melibatkan seorang perwira tinggi tidak hanya berdampak pada individu yang bersangkutan, tetapi juga pada citra institusi. TNI secara berulang menegaskan komitmen terhadap proses hukum yang berlaku

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Vino Pratama

Reporter lapangan yang kerap menyoroti UMKM dan ekonomi kerakyatan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter