10, 2026
Nasional

Status Gunung Anak Krakatau Naik Lagi Jadi Level III Siaga

Gunung Anak Krakatau naik status menjadi Siaga (Level III). Warga dilarang mendekat 5 km. Masyarakat diminta tetap tenang dan waspada terhadap potensi bahaya.]]>

Mira Permata
Mira Permata Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Status Gunung Anak Krakatau Naik Lagi Jadi Level III Siaga

Status Gunung Anak Krakatau Naik Lagi Jadi Level III Siaga

Badan Geologi (Badan Geologi) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kembali menaikkan status Gunung Anak Krakatau menjadi Level III (Siaga) pada Rabu (15/11/2023). Penyesuaian status ini dilakukan setelah pengamatan menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik yang signifikan di kawak gunung berapi tersebut.

Menurut Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitasi Bencana Geologi (PVMBG) Hanum, dalam keterangannya pada Kamis (16/11/2023), peningkatan status ini merupakan respons terhadap data observasi yang menunjukkan adanya peningkatan frekuensi gempa vulkanik, deformasi permukaan, serta aktivitas letusan yang lebih intensif. "Kami melihat adanya peningkatan aktivitas yang signifikan dalam seminggu terakhir. Frekuensi gempa vulkanik mencapai ratusan kali sehari, dan deformasi permukaan juga terdeteksi secara jelas," ujar Hanum.

Gunung Anak Krakatau sebelumnya berada pada Level II (Waspada) sejak September 2023 setelah sempat turun dari Level III pada Agustus lalu. Kini, dengan kenaikan statusnya kembali menjadi Level III, PVMBG meminta kepada masyarakat, pemukiman, dan pihak terkait untuk tetap waspada dan memperhatikan himbauan yang dikeluarkan.

Peningkatan Aktivitas Vulkanik

Hasi monitoring PVMBG menunjukkan bahwa frekuensi gempa vulkanik di Gunung Anak Krakatau mengalami peningkatan drastis. Dalam seminggu terakhir, tercatat ratusan gempa vulkanik dengan amplitudo bervariasi. Gempa vulkanik ini terkait dengan aktivitas magma di dalam sistem vulkanis Gunung Anak Krakatau.

Selain itu, deformasi permukaan juga terdeteksi melalui instrumen pengukuran yang dipasang di sekitar kawak gunung. Deformasi ini menunjukkan adanya tekanan dari magma yang bergerak naik ke permukaan. "Kami melihat adanya pengembangan atau pembesaran kerucut vulkanik yang signifikan dalam beberapa hari terakhir. Ini menunjukkan bahwa aktivitas magma semakin intensif," jelas Hanum.

Aktivitas letusan juga tercatat lebih sering dengan tinggi kolom abu yang bervariasi. Pada Rabu (15/11) misalnya, tercatat letusan dengan kolom abu setinggi 800 meter di atas puncak gunung. Sementara pada Kamis (16/11), tinggi kolom abu mencapai 1.200 meter dari puncak.

Dampak dan Potensi Bahaya

Dengan kenaikan status menjadi Level III, potensi bahaya yang perlu diwaspadai meliputi hujan abu vulkanik, gempa vulkanik, dan ledakan yang disertai awan panas. Hujan abu vulkanik dapat terjadi di area sekitar gunung hingga jarak tertentu tergantung kekuatan angin dan tinggi letusan.

Potensi awan panas (pyroclastic flow) juga menjadi perhatian utama. Awan panas adalah aliran gas panas dan materi vulkanis yang bergerak cepat dan berbahaya. Sejarah letusan Gunung Anak Krakatau pada 2018 lalu menunjukkan betapa berbahayanya awan panas ini, yang menyebabkan tsunami dan korban jiwa.

Selain itu, material vulkanis yang dikeluarkan gunung juga dapat membahayakan navigasi di perairan sekitar. Potensi tsunami kecil juga tetap diwaspadai meskipun probabilitasnya relatif kecil.

Himbauan dan Persiapan

PVMBG telah mengeluarkan himbauan resmi kepada masyarakat dan pihak terkait untuk waspada dan mengikuti arahan yang diberikan. "Kami meminta masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak untuk tetap waspada dan mempersiapkan diri sesuai arahan," kata Hanum.

Beberapa himbauan yang dikeluarkan antara lain:

  1. Masyarakat di sekitar Gunung Anak Krakatau, terutama di daerah pesisir Selat Sunda, diminta untuk waspada terhadap potensi tsunami akibat kolaps gunung atau letusan.
  2. Pelaku pelayaran diminta untuk waspada terhadap material vulkanis yang dapat mengganggu navigasi di perairan sekitar gunung.
  3. Masyarakat disiapkan untuk mengenali gejolaw bencana vulkanik dan mengetahui rute evakuasi.
  4. Memastikan persediaan alat pelindung diri seperti masker untuk menghadapi hujan abu.

Pemerintah daerah setempat bersama instansi terkait seperti BPBD, TNI/Polri, dan SAR telah mempersiapkan langkah-langkah antisipasi. Evakuasi belum dilakukan saat ini, namun pihak berwenang siaga untuk melakukan evakuasi jika diperlukan.

Gunung Anak Krakatau merupakan gunung berapi aktif yang terbentus setelah letusan besar Krakatau pada 1883. Letusan dahsyat Krakatau pada 1883 mengakibatkan tsunami yang menewaskan lebih dari 36.000 orang dan mengubah peta geografis di kawak Selat Sunda.

Pantauan intensif terus dilakukan oleh PVMBG guna mengantisipasi perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Setiap perubahan status akan segera diinformasikan kepada masyarakat.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Mira Permata

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter