01, 2026
Nasional

Studi: Beri Anak HP di Usia 12 Tahun Tingkatkan Risiko Gangguan Makan

Anisa Permata
Anisa Permata Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Studi Menemukan Kaitan Kepemilikan Ponsel Dini dengan Risiko Gangguan Makan pada Remaja

Sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa anak-anak yang diberikan ponsel pintar pada usia dini, khususnya sekitar 12 tahun, memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan makan (eating disorder) saat mereka beranjak remaja. Temuan ini menambah daftar panjang kekhawatiran mengenai dampak paparan teknologi terhadap kesehatan mental generasi muda, terutama di era digital yang serba terhubung.

Penelitian tersebut menyoroti bahwa akses awal terhadap perangkat seluler dapat memengaruhi cara anak memandang tubuh mereka sendiri, perilaku makan, serta hubungan sosial yang pada akhirnya berkontribusi terhadap munculnya gejala gangguan makan. Para peneliti menekankan bahwa usia 12 tahun merupakan periode kritis dalam perkembangan psikologis dan sosial anak, sehingga kepemilikan ponsel pada fase itu berpotensi memperbesar kerentanan.

Bagaimana Ponsel Dapat Memicu Gangguan Makan

Menurut para ahli, ponsel pintar membuka pintu bagi anak-anak untuk mengakses media sosial, konten kebugaran, dan citra tubuh yang tidak realistis. Paparan berulang terhadap standar tubuh ideal yang sempit dapat memicu perbandingan sosial yang berlebihan. Anak yang belum memiliki kematangan emosional yang cukup cenderung lebih mudah terpengaruh, sehingga mereka mulai mengembangkan obsesi terhadap berat badan, bentuk tubuh, dan pola makan.

Selain itu, algoritma media sosial cenderung menampilkan konten serupa secara terus-menerus. Jika seorang anak sudah menunjukkan minat pada diet atau olahraga ekstrem, algoritma akan memperkuat paparan tersebut dan menciptakan lingkaran umpan balik yang berbahaya. Kondisi ini meningkatkan risiko perilaku makan yang tidak sehat, seperti membatasi makanan secara ekstrem, makan berlebihan, atau bahkan menerapkan pola pembersihan tubuh yang berbahaya (purging).

Peneliti juga mencatat bahwa penggunaan ponsel yang intens dapat mengganggu tidur, meningkatkan stres, dan memperburuk citra diri. Ketiga faktor ini diketahui menjadi pemicu umum gangguan makan pada remaja. Ketika anak-anak memiliki akses tanpa pengawasan sejak usia 12 tahun, mereka cenderung lebih rentan mengalami gangguan tidur akibat paparan layar pada malam hari, yang pada gilirannya memperparah ketidakstabilan emosi dan perilaku makan.

Usia 12 Tahun sebagai Titik Kritis

Usia 12 tahun sering dianggap sebagai masa transisi dari anak-anak menuju remaja. Pada tahap ini, anak mulai mencari identitas diri dan sangat peka terhadap penilaian teman sebaya. Kepemilikan ponsel memberi mereka akses ke dunia maya yang luas, tetapi juga membuka celah terhadap tekanan sosial yang tidak sehat.

Studi tersebut menemukan bahwa anak yang menerima ponsel pintar pertama mereka pada usia 12 tahun memiliki kemungkinan lebih besar untuk menunjukkan gejala gangguan makan dibandingkan dengan mereka yang menerima ponsel pada usia lebih tua. Perbedaan ini signifikan secara statistik dan tetap bertahan bahkan setelah peneliti mengontrol faktor-faktor lain seperti status sosial ekonomi, jenis kelamin, dan riwayat keluarga.

Para peneliti menduga bahwa kombinasi antara keterbatasan kematangan kognitif dan paparan konten daring yang tidak terfilter menjadi penyebab utama. Anak berusia 12 tahun belum sepenuhnya mampu menilai secara kritis konten yang mereka konsumsi, sehingga lebih mudah terpapar pesan-pesan yang menormalkan perilaku makan tidak sehat.

Peran Orang Tua dan Lingkungan

Temuan ini bukan berarti orang tua harus sepenuhnya melarang anak memiliki ponsel. Sebaliknya, para ahli menekankan pentingnya pendampingan, pembatasan waktu layar, serta pemantauan konten yang diakses anak. Komunikasi terbuka mengenai citra tubuh dan pola makan sehat juga dinilai krusial untuk membangun ketahanan anak terhadap tekanan media sosial.

Orang tua disarankan untuk menunda pemberian ponsel pribadi hingga anak dinilai cukup matang, atau setidaknya memulai dengan perangkat yang fiturnya terbatas. Selain itu, menciptakan lingkungan keluarga yang mendukung pola makan sehat tanpa menekankan berat badan dapat membantu mengurangi risiko. Anak yang merasa aman secara emosional lebih kecil kemungkinannya mengembangkan gangguan makan sebagai mekanisme koping.

Lingkungan sekolah juga memegang peranan penting. Program edukasi tentang literasi digital dan kesehatan mental perlu diperkuat agar remaja mampu menyaring informasi yang mereka terima. Guru dan konselor sekolah dapat dilatih untuk mengenali tanda-tanda awal gangguan makan, sehingga intervensi dapat dilakukan lebih cepat sebelum kondisi memburuk.

Implikasi Lebih Luas bagi Kebijakan Digital

Temuan studi ini memperkuat seruan berbagai pihak agar platform media sosial lebih bertanggung jawab dalam melindungi pengguna muda. Beberapa negara telah mulai mempertimbangkan regulasi yang membatasi akses anak di bawah usia tertentu terhadap media sosial, serta mewajibkan verifikasi usia yang lebih ketat.

Namun, para peneliti mengingatkan bahwa regulasi saja tidak cukup. Diperlukan pendekatan menyeluruh yang melibatkan keluarga, sekolah, pembuat kebijakan, dan industri teknologi. Tanpa kolaborasi lintas sektor, upaya melindungi anak dari dampak negatif ponsel pintar akan berjalan setengah hati.

Studi ini menjadi alarm bagi masyarakat bahwa keputusan sederhana seperti memberikan ponsel kepada anak berusia 12 tahun dapat memiliki konsekuensi jangka panjang yang serius. Kesadaran akan risiko ini diharapkan mendorong orang tua dan pemangku kepentingan untuk lebih bijak dalam mengelola hubungan anak dengan teknologi, demi menjaga kesehatan mental dan fisik generasi mendatang.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Anisa Permata

Penulis yang mendalami isu sosial, pendidikan, dan kebijakan publik.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter