30, 2026
Teknologi

Taliban Mulai Dapat "Pemberontak" Baru, Melawan karena Larangan Musik

Sopir taksi di Afghanistan melawan larangan musik Taliban dengan memutar lagu secara sembunyi-sembunyi.]]>

Nadia Santoso
Nadia Santoso Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Taliban Mulai Dapat "Pemberontak" Baru, Melawan karena Larangan Musik

Taliban Hadapi Pemberontakan Baru: Melawan karena Larangan Musik

Pemerintahan Taliban di Afghanistan kembali menghadapi gelombang perlawanan baru. Kali ini, bukan dari sisa-sisa pasukan pemerintah sebelumnya atau kelompok bersenjata besar, melainkan dari sekelompok kecil pemuda yang mengangkat senjata dengan alasan yang jarang terdengar dalam sejarah konflik: larangan musik.

Sejumlah laporan dari dalam Afghanistan menyebutkan munculnya kelompok-kelompok bersenjata baru di beberapa provinsi yang menyatakan tujuan utama mereka adalah menentang kebijakan Taliban yang melarang segala bentuk musik, baik dimainkan secara langsung maupun melalui perangkat elektronik. Kelompok ini menyebut diri mereka sebagai "pejuang budaya" dan mengklaim bahwa musik adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Afghanistan.

Larangan Musik yang Memicu Kemarahan

Sejak kembali berkuasa pada Agustus 2021, Taliban memang menerapkan serangkaian kebijakan yang ketat berdasarkan tafsir mereka terhadap hukum syariah. Salah satu kebijakan yang paling kontroversial adalah larangan terhadap musik. Taliban menganggap musik sebagai hal yang melalaikan umat dari ibadah dan dapat merusak moral, terutama bagi generasi muda.

Larangan ini tidak hanya berlaku di ruang publik, tetapi juga di acara pernikahan, restoran, dan bahkan di dalam kendaraan pribadi. Anggota pasukan Taliban dilaporkan melakukan razia di pasar-pasar dan memusnahkan alat musik, menghancurkan perangkat pemutar musik, dan menangkap siapa saja yang kedapatan memutar lagu.

Kebijakan ini mendapat penolakan luas, terutama dari kalangan muda yang tumbuh dengan musik sebagai bagian dari budaya populer. Bagi banyak orang Afghanistan, musik bukan hanya hiburan, tetapi juga sarana ekspresi diri, pelestarian budaya, dan bahkan bentuk perlawanan.

Perlawanan Bersenjata dari Kalangan Muda

Menurut sumber-sumber lokal yang enggan disebutkan namanya karena alasan keamanan, kelompok bersenjata baru ini sebagian besar terdiri dari pemuda berusia antara 18 hingga 30 tahun. Mereka berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari mantan musisi jalanan, pelajar, hingga pedagang kecil yang bisnisnya hancur karena larangan hiburan.

Mereka tidak memiliki struktur organisasi besar seperti kelompok perlawanan tradisional. Sebaliknya, mereka bergerak dalam sel-sel kecil yang tersebar di provinsi seperti Kabul, Herat, Mazar-i-Sharif, dan Kandahar. Senjata yang mereka gunakan sebagian besar adalah senjata ringan yang diperoleh dari pasar gelap atau sisa-sisa konflik sebelumnya.

Meskipun skala operasi mereka masih terbatas, aksi-aksi mereka mulai menimbulkan kekhawatiran di kalangan petinggi Taliban. Beberapa serangan terhadap pos pemeriksaan Taliban dan konvoi kecil dilaporkan terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Mereka juga dilaporkan menyebarkan pamflet dan pesan digital yang menyerukan perlawanan terhadap larangan musik.

Reaksi Taliban

Taliban sendiri belum memberikan pernyataan resmi terkait kemunculan kelompok ini. Namun, beberapa komandan lapangan Taliban dikabarkan telah meningkatkan patroli di daerah-daerah yang dianggap rawan. Mereka juga dilaporkan melakukan penangkapan terhadap sejumlah pemuda yang diduga terlibat dalam kegiatan musik bawah tanah.

Seorang pejabat Taliban yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan bahwa larangan musik adalah keputusan final dan tidak akan diubah. Ia menegaskan bahwa siapa pun yang melanggar akan menghadapi konsekuensi hukum sesuai syariah. Namun, ia juga mengakui bahwa tantangan terhadap kebijakan ini semakin sulit diatasi, terutama karena dukungan dari sebagian masyarakat yang lelah dengan pembatasan kebebasan.

Dampak Sosial dan Budaya

Larangan musik telah menciptakan luka sosial yang mendalam di Afghanistan. Banyak musisi profesional terpaksa meninggalkan negara atau beralih ke pekerjaan lain. Sekolah musik ditutup, dan generasi muda kehilangan ruang untuk mengekspresikan kreativitas mereka.

Di sisi lain, musik bawah tanah justru berkembang pesat. Para pemuda merekam lagu-lagu secara diam-diam menggunakan ponsel, menyebarkannya melalui aplikasi pesan terenkripsi, dan mengadakan pertemuan rahasia di rumah-rumah pribadi. Fenomena ini menunjukkan bahwa musik tidak bisa sepenuhnya dihapus dari kehidupan masyarakat.

Beberapa analis menilai bahwa perlawanan bersenjata yang dipicu oleh larangan musik mungkin tidak akan menggulingkan Taliban. Namun, hal ini menjadi simbol bahwa kebijakan-kebijakan represif mereka mulai menuai reaksi dari kelompok yang sebelumnya apolitis. Musik, yang seharusnya menjadi perekat sosial, justru berubah menjadi pemicu konflik baru.

Masa Depan yang Tidak Pasti

Kemunculan kelompok "pemberontak musik" ini menambah daftar panjang tantangan yang dihadapi Taliban. Selain tekanan internasional, krisis ekonomi, dan perlawanan dari kelompok-kelompok besar seperti ISIS-K dan Front Perlawanan Nasional, kini mereka harus menghadapi musuh yang lahir dari kebijakan budaya mereka sendiri.

Apakah kelompok ini akan berkembang menjadi gerakan yang lebih besar, atau hanya menjadi gejolak kecil yang cepat padam, masih menjadi tanda tanya. Yang jelas, larangan musik telah membuka babak baru dalam konflik Afghanistan, di mana senjata dan senar gitar sama-sama menjadi simbol perlawanan.

Bagi banyak pemuda Afghanistan, perjuangan mereka bukan sekadar soal musik. Ini adalah perjuangan untuk hak dasar mengekspresikan diri, untuk merayakan kehidupan di tengah kekerasan, dan untuk menolak ideologi yang mencoba mengontrol setiap aspek keberadaan mereka. Sebuah perlawanan yang lahir dari nada, tetapi bergema jauh melampaui suara.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Nadia Santoso

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter