Tangis Perpisahan, Messi Tutup 21 Tahun Karier di Timnas Argentina
Lionel Messi resmi mengakhiri perjalanan panjangnya bersama tim nasional Argentina setelah 21 tahun membela La Albiceleste. Momen emosional itu terjadi dalam laga yang berlangsung di Stadion Monumental, Buenos Aires, ketika penyerang berusia 39 tahun tersebut tidak mampu menahan air mata saat meninggalkan lapangan untuk terakhir kalinya.
Pemain yang kini memperkuat Inter Miami itu tampil sebagai starter dalam pertandingan yang ditandai sebagai laga perpisahannya. Sepanjang pertandingan, Messi beberapa kali terlihat menyeka matanya. Peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan langsung disambut oleh tangis pemain yang identik dengan nomor punggung 10 tersebut. Ia kemudian berjalan pelan mengelilingi lapangan, memberi hormat kepada puluhan ribu penonton yang memadati stadion.
Debut pada 2005 hingga Tiga Trofi Mayor
Messi pertama kali membela tim nasional senior Argentina pada 17 Agustus 2005 dalam laga melawan Hungaria. Saat itu ia baru berusia 18 tahun dan masuk sebagai pemain pengganti. Debut tersebut tidak berjalan mulus karena ia dikeluarkan dari lapangan hanya beberapa menit setelah masuk. Namun, perjalanan panjangnya kemudian berubah menjadi salah satu kisah paling gemilang dalam sejarah sepak bola internasional.
Perjalanan Menuju Puncak
Selama 21 tahun berseragam Argentina, Messi mencatat lebih dari 190 penampilan dan mencetak lebih dari 110 gol. Ia menjadi pemain dengan penampilan terbanyak sekaligus pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah tim nasional Argentina. Deretan rekor itu menempatkannya sebagai salah satu pemain paling berpengaruh dalam sejarah sepak bola dunia.
Puncak karier internasionalnya terjadi ketika Argentina menjuarai Copa America 2021 di Brasil. Gelar tersebut mengakhiri puasa trofi mayor Argentina selama 28 tahun. Kemenangan itu menjadi titik balik yang mengangkat beban psikologis yang selama bertahun-tahun membebani Messi dan skuad Argentina.
Setahun kemudian, Messi memimpin Argentina menjuarai Piala Dunia 2022 di Qatar. Dalam final yang berlangsung dramatis melawan Prancis, Argentina menang melalui adu penalti. Messi mencetak dua gol dalam laga tersebut dan dinobatkan sebagai pemain terbaik turnamen. Gelar itu melengkapi koleksi trofinya dan memperkuat posisinya dalam perdebatan sebagai pemain terbaik sepanjang masa.
Sebelumnya, Messi juga membawa Argentina menjuarai Copa America 2024 dan meraih medali emas Olimpiade 2008 bersama tim U-23. Selain itu, ia beberapa kali membawa Argentina ke final turnamen besar, termasuk Piala Dunia 2014, Copa America 2015, dan Copa America 2016, meski harus puas sebagai runner-up.
Momen Perpisahan yang Emosional
Dalam pidato singkatnya di tengah lapangan setelah pertandingan, Messi menyampaikan rasa terima kasih kepada para pendukung, rekan setim, dan seluruh staf yang telah mendampinginya selama lebih dari dua dekade. Ia menyebut kebanggaan membela Argentina sebagai hal terbesar dalam kariernya.
"Ini bukan keputusan yang mudah. Saya sudah memberikan segalanya untuk tim ini. Terima kasih kepada semua orang yang selalu percaya," ujar Messi seperti dikutip dari pernyataannya di stadion.
Rekan-rekan setimnya tampak tidak dapat menyembunyikan kesedihan. Beberapa pemain senior yang pernah berjuang bersama Messi, termasuk Angel Di Maria dan Nicolas Otamendi, turut hadir dalam momen tersebut. Pelatih kepala Argentina, Lionel Scaloni, menyebut Messi sebagai pemain yang mengubah standar sepak bola Argentina.
Warisan untuk Generasi Berikutnya
Keputusan Messi untuk pensiun dari tim nasional menandai berakhirnya sebuah era. Selama lebih dari dua dekade, ia menjadi ikon yang menginspirasi jutaan anak di Argentina dan seluruh dunia. Akademi-akademi sepak bola di Argentina mencatat peningkatan jumlah pendaftar sejak Messi membawa negaranya juara dunia pada 2022.
Federasi Sepak Bola Argentina (AFA) menyatakan akan mengabadikan kontribusi Messi melalui sejumlah program pembinaan usia muda. Presiden AFA, Claudio Tapia, menyebut warisan Messi tidak hanya soal trofi, tetapi juga soal mentalitas dan kerja keras yang ia tanamkan pada generasi pemain berikutnya.
Di luar lapangan, Messi dikenal melalui yayasan yang bergerak di bidang kesehatan anak dan pendidikan. Ia juga menjadi duta untuk sejumlah program kemanusiaan internasional. Figur publik Argentina menilai sosok Messi sebagai simbol ketekunan yang jarang ditemui dalam dunia olahraga modern.
Tantangan Baru Tanpa Messi
Argentina kini menghadapi tantangan membangun tim tanpa sosok yang selama ini menjadi poros permainan. Sejumlah nama muda seperti Julian Alvarez, Enzo Fernandez, dan Alejandro Garnacho diharapkan mengambil peran lebih besar. Scaloni menegaskan bahwa proses regenerasi akan berjalan bertahap.
Pengamat sepak bola menilai kepergian Messi meninggalkan ruang kosong yang sulit diisi. Namun, mereka juga melihat peluang bagi Argentina untuk membangun identitas baru dengan tetap mengacu pada standar tinggi yang ditetapkan selama era Messi.
Bagi Messi sendiri, fokusnya kini tertuju pada karier di level klub bersama Inter Miami. Meski demikian, ia tidak menutup kemungkinan tetap terlibat dalam sepak bola Argentina di masa depan, baik sebagai mentor maupun dalam peran lain di luar lapangan.
Perpisahan di Monumental menjadi penutup dari babak panjang yang penuh liku. Tangis yang mengiringi langkah terakhirnya di lapangan menjadi simbol dari perjalanan yang tidak selalu mulus, tetapi berakhir dengan pengakuan dan kehormatan. Argentina kehilangan kaptennya, tetapi namanya telah tercatat permanen dalam sejarah sepak bola dunia.
Masa Depan La Albiceleste
Pertanyaan besar yang kini muncul adalah bagaimana Argentina menjaga momentum pasca-Messi. Piala Dunia berikutnya menjadi ujian pertama bagi skuad tanpa pemain paling berpengaruh dalam sejarah mereka. Publik Argentina berharap warisan yang ditinggalkan Messi tetap hidup dalam mentalitas tim.
Dengan 21 tahun pengabdian, puluhan rekor, dan tiga trofi mayor, perjalanan Messi bersama tim nasional Argentina menjadi salah satu kisah paling lengkap dalam sejarah olahraga. Tangis perpisahan di Buenos Aires menandai akhir dari sebuah era, sekaligus awal dari babak baru bagi sepak bola Argentina.
Komentar (0)