24, 2026
Nasional

Tanpa Jay Idzes, Sassuolo Bisa Jadi Samsak Kedua Como setelah Manchester United

<img src="https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2026/09/06/6a9d7d90811d8-bek-sassuolo-jay-idzes-ketiga-dari-kiri_gemini_665_374.jpg" align="left" hspace="7" width="100" />

Rizky Amelia
Rizky Amelia Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

**Tanpa Jay Idzes, Sassuolo Bisa Jadi Samsak Kedua Como setelah Manchester United** Kehilangan Jay Idzes bukan sekadar kehilangan satu pemain dari starting eleven. Bagi Sassuolo, absennya bek timnas Indonesia itu berpotensi merusak keseimbangan seluruh struktur pertahanan. Idzes bukan hanya pemain yang bertugas menyapu bola atau memenangi duel udara; ia adalah penghubung antara lini belakang, gelandang, dan transisi serangan. Ketika sosok seperti itu tidak tersedia, risiko Sassuolo tampil goyah—bahkan berpotensi menjadi “samsak” berikutnya bagi Como, setelah Manchester United dalam narasi pertemuan sebelumnya—menjadi sangat nyata. Dalam konteks pratinjau pertandingan, peringatan itu tidak berlebihan. Como bukan tim yang hanya menunggu lawan melakukan kesalahan. Mereka cenderung agresif menekan, cepat menutup ruang di lini tengah, dan berani mengirim banyak pemain ke area pertahanan lawan. Jika Sassuolo kehilangan pemimpin di lini belakang, tekanan seperti itu bisa berubah menjadi mimpi buruk. Bola-bola pendek dari belakang yang biasanya lebih tenang dengan kehadiran Idzes berisiko berubah menjadi umpan berbahaya, sedangkan koordinasi garis pertahanan bisa terlambat mengantisipasi pergerakan penyerang Como. Idzes memberi Sassuolo lebih dari sekadar kekuatan fisik. Ia memiliki kemampuan membaca arah serangan, menutup celah sebelum bola sampai ke kaki lawan, dan memberi instruksi kepada rekan-rekan di sekitarnya. Dalam situasi bertahan, bek dengan karakter seperti itu berperan sebagai “dirigen” yang mengatur siapa harus maju, siapa harus menjaga kedalaman, dan kapan harus melakukan pressing. Tanpa dirinya, Sassuolo perlu waktu untuk membangun komunikasi baru. Masalahnya, pertandingan tidak selalu memberi waktu untuk beradaptasi. Como akan melihat celah itu. Mereka bisa memancing Sassuolo keluar dari posisi, lalu menyerang ruang di belakang bek sayap. Mereka juga bisa memanfaatkan umpan-umpan diagonal ke area antara bek tengah dan bek sayap, wilayah yang biasanya menjadi tanggung jawab Idzes. Jika Sassuolo tidak segera menutup ruang itu, pertahanan mereka akan mudah terpecah. Bola kedua di sekitar kotak penalti juga bisa menjadi masalah besar, terutama jika gelandang bertahan tidak cukup cepat turun membantu. Narasi tentang Manchester United menjadi relevan karena menunjukkan bahwa Como tidak gentar menghadapi tim dengan nama besar. Dalam cerita yang berkembang, Como disebut mampu membuat Manchester United tampak kehilangan kontrol, seolah-olah menjadi lawan yang dipakai untuk memukul dan menguji kekuatan. Jika reputasi itu dibawa ke pertandingan melawan Sassuolo, maka Sassuolo wajib waspada. Sebutan “samsak kedua” bukan berarti Sassuolo pasti kalah telak, tetapi menggambarkan risiko: jika mereka pasif, kehilangan bentuk, dan membiarkan Como bermain dengan ritme sendiri, pertandingan bisa berjalan berat sebelah. Namun, Sassuolo tidak harus menerima nasib itu. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan. Pertama, mereka perlu bermain lebih kompak dan tidak membuka jarak terlalu lebar antar lini. Kedua, risiko umpan pendek dari belakang harus dikelola lebih hati-hati. Jika tekanan Como tinggi, Sassuolo bisa menggunakan umpan panjang terarah atau mencari pemain target di lini depan. Ketiga, gelandang bertahan harus lebih disiplin menjaga area di depan bek tengah, terutama saat Como melakukan overload di satu sisi. Sassuolo juga perlu memanfaatkan aspek lain: bola mati, transisi cepat, dan disiplin foul. Melawan tim yang agresif, kadang pertahanan terbaik adalah membuat lawan tidak nyaman. Sassuolo bisa memperlambat tempo, memancing pelanggaran di area aman, dan menggunakan set piece sebagai senjata. Jika mereka hanya bertahan pasif di kotak penalti, Como akan dengan senang hati mengurung mereka dan menunggu kesalahan. Yang paling penting, absennya Idzes tidak boleh membuat Sassuolo kehilangan keberanian. Kehilangan pemain kunci memang mengurangi kualitas, tetapi bukan berarti pertandingan sudah selesai sebelum dimulai. Pelatih perlu menemukan solusi taktis, entah dengan menurunkan bek pengganti yang lebih konservatif, mengubah formasi menjadi tiga bek, atau meminta gelandang lebih banyak membantu pertahanan. Sassuolo harus tampil sebagai tim yang utuh, bukan kumpulan pemain yang saling menunggu. Dengan segala risiko itu, laga melawan Como akan menjadi ujian kedewasaan bagi Sassuolo. Jika mereka mampu menjaga kompak, disiplin, dan tidak panik saat ditekan, predikat “samsak” bisa dibatalkan. Sebaliknya, jika Idzes benar-benar absen dan Sassuolo tidak segera menemukan pengganti perannya, Como bisa mengulang narasi yang pernah mereka buat terhadap Manchester United: menjadikan lawan tampak tak berdaya. Bagi Sassuolo, pertandingan ini bukan hanya soal kehilangan satu bek, tetapi soal apakah mereka masih punya struktur, karakter, dan keberanian untuk bertahan sebagai tim.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Rizky Amelia

Reporter Senior. Meliput dinamika politik nasional, kebijakan publik, dan isu parlemen selama 8 tahun. Alumni FISIP UI.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter