30, 2026
Olahraga

Tegaskan FIFA ASEAN Cup Bukan Piala AFF, John Herdman Soroti Rotasi dan Kedalaman Skuad

<img src="https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2026/03/24/69c282613c003-pelatih-timnas-indonesia-john-herdman_gemini_665_374.jpg" align="left" hspace="7" width="100" />

Kirana Wijaya
Kirana Wijaya Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, angkat bicara soal penyelenggaraan FIFA ASEAN Cup yang belakangan ramai disebut sebagai Piala AFF. Ia menegaskan turnamen tersebut kini berada di bawah payung FIFA sehingga identitas dan formatnya berbeda dari kompetisi lama. Pernyataan ini disampaikan Herdman di tengah persiapan timnya menghadapi agenda padat sepak bola Asia Tenggara.

Menurut Herdman, perubahan nama menjadi FIFA ASEAN Cup bukan sekadar pergantian label. Ia menilai ada konsekuensi teknis dan kompetitif yang harus dipahami semua pihak, terutama pelatih dan pemain. Turnamen ini, kata dia, menuntut standar persiapan yang lebih tinggi karena penyelenggaraannya mengikuti regulasi dan kalender FIFA.

Bukan Sekadar Ganti Nama

Herdman menyoroti bahwa banyak pihak masih menggunakan istilah Piala AFF ketika membahas kompetisi yang sama. Ia menilai penyebutan itu tidak lagi tepat karena struktur turnamen telah mengalami penyesuaian. Perubahan ini, menurutnya, perlu disosialisasikan agar publik tidak salah memahami level dan bobot kompetisi.

Ia menambahkan, kehadiran FIFA dalam pengelolaan turnamen membawa implikasi pada aspek teknis seperti jadwal pertandingan, kesiapan fasilitas, hingga standar perwasitan. Semua elemen itu, kata Herdman, harus diantisipasi sejak awal oleh setiap tim peserta, termasuk Indonesia.

Rotasi Pemain Jadi Kunci

Dalam sesi pernyataannya, Herdman menekankan pentingnya rotasi pemain. Ia menilai jadwal pertandingan yang rapat membuat setiap tim tidak bisa mengandalkan sebelas pemain yang sama sepanjang turnamen. Rotasi bukan pilihan, melainkan keharusan jika ingin menjaga performa di setiap laga.

Herdman menjelaskan, rotasi memungkinkan pemain utama tetap segar saat menghadapi pertandingan krusial. Sebaliknya, pemain pelapis mendapat menit bermain yang cukup untuk menjaga ritme kompetitif. Menurutnya, pendekatan ini juga menjadi cara untuk mengurangi risiko cedera yang kerap meningkat pada turnamen dengan jeda pendek.

Ia menekankan bahwa keputusan rotasi tidak boleh dilakukan secara acak. Setiap pergantian pemain harus didasarkan pada analisis kondisi fisik, lawan yang dihadapi, serta kebutuhan taktik. Herdman menyebut tim pelatih memiliki data beban kerja pemain yang dijadikan dasar pengambilan keputusan.

Kedalaman Skuad sebagai Penentu

Selain rotasi, Herdman menyoroti kedalaman skuad sebagai faktor penentu keberhasilan di FIFA ASEAN Cup. Ia menilai tim yang hanya memiliki kualitas di starting line-up akan kesulitan melewati rangkaian pertandingan padat. Kualitas pemain pengganti, katanya, sama pentingnya dengan pemain inti.

Ia mengungkapkan bahwa proses seleksi pemain dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan seluruh turnamen, bukan hanya satu atau dua pertandingan. Pemain yang mampu beradaptasi dengan beberapa posisi menjadi nilai tambah tersendiri. Fleksibilitas semacam itu, menurut Herdman, memberi tim pelatih ruang lebih luas untuk menyusun strategi.

Herdman juga menyebut kompetisi domestik sebagai fondasi kedalaman skuad. Semakin banyak pemain yang rutin tampil di level klub dengan intensitas tinggi, semakin besar peluang mereka berkontribusi di tim nasional. Karena itu, ia mendorong pemain untuk menjaga performa di klub masing-masing.

Standar Fisik dan Mental

Aspek fisik menjadi perhatian lain dalam pernyataan Herdman. Ia menjelaskan bahwa turnamen di bawah naungan FIFA menuntut standar kebugaran yang tinggi. Pemain harus siap berlari lebih banyak, bertahan lebih lama, dan pulih lebih cepat di antara pertandingan.

Selain fisik, Herdman menekankan kesiapan mental. Ia menilai tekanan di turnamen tingkat regional tidak lebih ringan dibandingkan kompetisi lain. Pemain dituntut mampu mengelola ekspektasi, terutama ketika menghadapi laga-laga besar yang menentukan langkah tim.

Ia menyebut tim pelatih menerapkan pendekatan menyeluruh, mulai dari pemulihan, nutrisi, hingga sesi latihan yang disesuaikan dengan kondisi pemain. Semua itu, kata dia, dilakukan agar para pemain berada dalam kondisi terbaik saat bertanding.

Fokus pada Proses

Meski berbicara soal target, Herdman memilih menekankan proses. Ia menilai hasil akhir adalah konsekuensi dari persiapan yang baik. Fokus saat ini, katanya, adalah memastikan setiap pemain memahami peran dan tanggung jawabnya dalam skema tim.

Ia juga menegaskan bahwa evaluasi dilakukan secara berkelanjutan. Setiap pertandingan menjadi bahan pembelajaran, baik saat menang maupun kalah. Pendekatan itu diharapkan membuat tim berkembang dari laga ke laga.

Dampak bagi Sepak Bola Asia Tenggara

Perubahan status turnamen menjadi FIFA ASEAN Cup dinilai membawa dampak lebih luas bagi sepak bola Asia Tenggara. Herdman menilai kompetisi ini bisa menjadi ajang peningkatan kualitas bagi semua peserta. Persaingan yang ketat, katanya, akan mendorong setiap negara memperbaiki pembinaan dan pengelolaan tim nasional.

Ia berharap publik memahami perbedaan mendasar antara Piala AFF dan FIFA ASEAN Cup. Pemahaman yang benar, menurutnya, membantu menciptakan ekspektasi yang lebih realistis sekaligus mengapresiasi usaha para pemain dan staf pelatih.

Dengan rotasi yang terencana dan kedalaman skuad yang memadai, Herdman meyakini Indonesia dapat bersaing di turnamen ini. Namun ia mengingatkan bahwa keberhasilan tidak datang instan. Diperlukan kerja keras, disiplin, dan konsistensi dari seluruh elemen tim untuk mencapai hasil yang diinginkan.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Kirana Wijaya

Penulis lepas yang menulis tentang startup, teknologi, dan ekosistem digital Indonesia.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter