Telepon Terakhir Dini Mau Rayakan Ultah Anak Sebelum Dibunuh Suami Siri
Sebuah tragedi keluarga yang menyayat hati terjadi di wilayah Jakarta Timur, dimana seorang istri bernama Dini (32) tewas dibunuh oleh suaminya sendiri, Ahmad (35). Kasus ini menjadi sorotan karena korban sempat melakukan telepon terakhir kepada keluarganya dengan niat merayakan ulang tahun anaknya yang akan datang, namun takdir berkata lain.
Kronologi Kekerasan dalam Rumah Tangga
Menurut keterangan polisi, kejadian bermula pada Sabtu (15/1) dini hari. Saat itu, Dini berada di rumah bersama suami dan dua anak mereka yang masih berusia 5 dan 7 tahun. Sebelum terjadi pembunuhan, Dini sempat menelepon ibunya untuk merencanakan perayaan ulang tahun anak sulungnya yang akan jatuh pada minggu depan.
"Ibu, besok mau beli kue untuk ulang tahun kakak ya? Anaknya minta perayaan sederhana di rumah," ujar Dini dalam rekaman telepon yang diperoleh polisi.
Tak lama setelah telepon tersebut, tetangga mendengar teriakan keras datang dari dalam rumah. Beberapa saat kemudian, suasana menjadi hening. Seorang tetangga yang curiga melihat Ahmad keluar rumah dengan kondisi mencurigakan dan membawa tas ransel besar.
Penemuan Mayat dan Penangkapan Pelaku
Pada Minggu (16/1) pagi, kerabat Dini yang khawatir karena tidak bisa menghubunginya mendatangi rumah. Setelah mendobrak pintu karena tidak ada yang membuka, mereka menemukan mayat Dini dalam kondisi sudah tidak bernyawa di dalam kamar tidur. Tubuh korban memMultiple luka tusukan di bagian dada dan leher.
"Korban ditemukan dalam keadaan terlentang di atas ranjang dengan luka tusukan di bagian dada. Di sekitar mayat terdapat bekas darah yang cukup banyak," ujar Kapolsek Jakarta Timur, Kompol Budi Santoso dalam konferensi pers.
Polisi segera melakukan penyelidikan dan mendapatkan informasi dari tetangga tentang kecurigaan terhadap Ahmad. Melalui koordinasi dengan Satuan Reserse Kriminal (Reskrim), polisi berhasil menangkap Ahmad di sebuah kos-kosan di Bekasi pada Senin (17/1) malam.
Motif Pembunuhan dan Latar Belakang
Dalam pengakapannya kepada polisi, Ahmad mengakui telah membunuh istrinya. Ia mengaku sudah merencanakan pembunuhan tersebut selama seminggu terakhir karena marah besar dengan sikap Dini yang sering mengeluh tentang kondisi keuangan keluarga.
"Saya sudah capek dia selalu ngeluh ngeluh. Padahal saya sudah bekerja keras tapi tidak pernah cukup baginya," kata Ahmad saat diperiksa polisi.
Penyelidikan lebih lanjut menunjukkan bahwa kasus ini bukan kali pertama terjadi kekerasan dalam rumah tangga. Dini sempat melaporkan kekerasan yang dilakukan Ahmad ke polisi pada tahun 2020 lalu, namun akhirnya memilih mundur laporannya karena tekanan dari keluarga.
Respons Kepolisian dan Masyarakat
Kepala Polres Jakarta Timur AKBP Rudi Setiawan mengatakan pihaknya akan menyeluruhkan penyidikan kasus ini. "Kami akan memeriksa semua saksi dan meminta visum et repertum untuk mengetahui penyebab kematian korban secara pasti," ujarnya.
Kasus ini kembali menyoroti masalah kekerasan dalam rumah tangga yang masih menjadi masalah serius di masyarakat. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengimbau masyarakat yang mengalami kekerasan untuk segera melapor kepada pihak berwenang dan tidak menutupi masalah yang dialami.
"Kekerasan dalam rumah tangga sering kali terjadi di tengah masyarakat namun banyak yang tidak dilaporkan karena rasa malu atau tekanan dari lingkungan," kata anggota KPAI, Maria Ulfah.
Sementara itu, keluarga korban masih berduka atas kepergian Dini. Mereka berencana untuk mengurus jenazah Dini untuk dimakamkan pada Selasa (18/1) besok.
Polisi masih menyelidiki apakah ada motif lain di balik pembunuhan tersebut dan akan memeriksa keterangan anak-anak korban sebagai saksi. Kasus ini akan disidik dengan pasal 338 KUHP tentang pembunuhan dengan ancaman hukuman mati atau penjara seumur hidup.
Komentar (0)