TEP UI-Kementrans Dokumentasikan Lima Sub-Suku Dayak di Kalimantan
Tim Etnografi Partisipatif (TEP) Universitas Indonesia bekerjasama dengan Kementerian Transportasi melaksanakan dokumentasi etnografi terhadap lima sub-suku Dayak di Kalimantan. Kegiatan ini bertujuak untuk merekam kearifan lokal, tradisi, dan nilai-nilai budaya yang terkait dengan transportasi dan mobilitas dalam kehidupan masyarakat pribumi.
Lima Sub-Suku yang Diteliti
Dalam pelaksanaannya, tim fokus pada lima sub-suku Dayak, yaitu Dayak Iban, Dayak Kenyah, Dayak Kayan, Dayak Ngaju, dan Dayak Kutai. Setiap sub-suku memiliki keunikan dalam pola pergerakan, sistem transportasi tradisional, serta hubungan budaya dengan alam yang menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari.
Peneliti kepala dari TEP UI, Prof. Dr. Ahmad Sofian, menjelaskan bahwa pemilihan kelima sub-suku ini didasarkan pada representativitas geografis dan keberagaman budaya. "Setiap sub-suku memiliki ciri khas dalam mengelola transportasi dan mobilitas, yang tercermin dalam perahu tradisional, jalur perdagangan kuno, dan ritual terkait perjalanan," ujarnya.
Metodologi Penelitian Partisipatif
Penelitian ini menggunakan pendekatan etnografi partisipatif yang melibatkan aktif masyarakat setempat sebagai subjek penelitian sekaligus mitra. Selama satu bulan, tim menetap di desa-desa yang menjadi tempat tinggal sub-suku tersebut untuk melakukan observasi mendalam, wawancara mendalam, dan dokumentasi visual.
"Kami tidak hanya sekadar mencatat, tetapi juga mempelajari bagaimana masyarakat Dayak memahami dunia melalui transportasi dan pergerakan. Ada filosofi di balik setiap perjalanan, pemilihan jalur, dan bahkan perawatan perahu tradisional," jelas salah satu peneliti, Dr. Maya Sari.
Temuan Penting dalam Dokumentasi
Dari hasil dokumentasi, tim menemukan berbagai kearifan lokal terkait transportasi yang belum banyak diketahui publik. Salah satunya adalah sistem navigasi tradisional Dayak Iban yang menggunakan pola bintang dan alam liar sebagai panduan dalam berlayar di sungai-sungai Kalimantan.
Sementara itu, Dayak Kenyah dan Dayak Kayan menunjukkan sistem transportasi darat yang canggih menggunakan tandu tradisional yang disebut "tawak" yang dapat dibawa oleh beberapa orang. Tawak tidak hanya fungsi sebagai alat transportasi, tetapi juga simbol status sosial dalam masyarakat.
Dayak Ngaju dikenal dengan ritual "Tiwah" yang kompleks, sebuah upacara kematian yang membutuhkan perencanaan transportasi jarak jauh untuk mengangkat jenazah ke lokasi pemakaman tradisional. Proses ini melibatkan rute perjalanan yang telah ditetapkan secara turun-temurun dan memerlukan koordinasi antar kelompok.
Dampak bagi Pembangunan Infrastruktur Transportasi
Kepala Biro Komunikasi Kementerian Transportasi, Budi Santoso, menegaskan bahwa hasil dokumentasi ini akan menjadi referensi penting dalam perencanaan infrastruktur transportasi di daerah terpencil. "Kami ingin memastikan bahwa pembangunan transportasi tidak mengabaikan kearifan lokal. Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari cara masyarakat Dayak menjaga keberlanjutan transportasi secara tradisional," ujarnya.
Salah satu contoh adalah sistem pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan yang diamati pada pembuatan perahu tradisional Dayak. Masyarakat menggunakan kayu secara selektif dan menerapkan sistem tanam ulang untuk menjaga keseimbangan ekosistem.
Upaya Pelestarian Budaya
Selain sebagai dokumen untuk perencanaan transportasi, hasil penelitian ini juga diharapkan dapat berkontribusi pada pelestarian budaya. Tim TEP UI dan Kementerian Transportasi berencana membuat pameran traveling dan buku dokumentasi yang akan disebarkan ke berbagai daerah di Indonesia.
"Kita harus ingat bahwa transportasi bukan hanya soal infrastruktur fisik, tetapi juga bagian dari identitas budaya bangsa. Dengan memahami cara masyarakat Dayak mengelola mobilitas, kita bisa membangun sistem transportasi yang lebih inklusif dan berkelanjutan," tambah Prof. Ahmad Sofian.
Penelitian ini merupakan bagian dari program yang lebih luas yang akan memetakan kearifan lokal terkait transportasi di seluruh Indonesia, dengan fokus khusus pada masyarakat pribumi dan pulau-pulau terpencil.
Komentar (0)