16, 2026
Nasional

Terkepung Asap Karhutla, Sejumlah Wilayah Kalimantan Berpotensi Hujan

Galih Pratama
Galih Pratama Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Terkepung Asap Karhutla, Sejumlah Wilayah Kalimantan Berpotensi Hujan

Kalimantan tengah menghadapi tantangan serius akibat kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah. Kondisi ini membuat kualitas udara di provinsi seperti Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur menurun drastis, dengan indeks standar pencemar udara (ISPU) mencapai kategori tidak sehat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan potensi hujan lokal di beberapa wilayah tersebut dalam waktu dekat, meskipun upaya pemadaman kebakaran masih terus dilakukan.

Situasi Kebakaran Hutan dan Lahan Saat Ini

Sejak awal musim kemarau tahun ini, Kalimantan menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak oleh karhutla. Data Satelit Penginderaan Jauh (SPJ) menunjukkan adanya titik api tersebar di berbagai kabupaten dan kota, terutama di daerah dengan tutupan lahan gambut yang luas. Kebakaran yang terjadi tidak hanya mengakibatkan kerusakan ekosistem, tetapi juga menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan masyarakat dan aktivitas ekonomi.

Menurut informasi dari Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga saat ini sudah lebih dari 50 hektare area hutan dan lahan terbakar di Kalimantan. Kebakarian ini didominasi oleh aktivitas pembukaan lahan secara ilegal yang menggunakan metode bakar. Kondisi kering yang berkepanjangan menjadi pemicu utama penyebaran api yang sulit dikendalikan.

Dampak Kesehatan Masyarakat

Kabut asap tebal yang menyelimuti udara di Kalimantan telah menyebabkan peningkatan kasus gangguan pernapasan di kalangan masyarakat. Rumah sakit di beberapa wilayah melaporkan adanya lonjakan pasien gejala ISPA, asma, dan iritasi mata. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit kronis menjadi yang paling terdampak.

Dokter spesisi paru-paru dari RSUD Palangka Raya mengungkapkan bahwa dalam seminggu terakhir, jumlah pasien dengan keluhan gangguan pernapasan meningkat hingga 40 persen. "Kondisi ini sangat mengkhawatirkan mengingat partikel-partikel halus dalam asap dapat menembus sistem pernapasan dan menyebabkan efek jangka panjang jika terpapar secara terus-menerus," ujarnya.

Upaya Pemadaman dan Penanggulangan

Pemerintah daerah bersama TNI/Polri dan relawan telah melakukan berbagai upaya pemadaman api. Tim pemadam kebakaran darurat dibentuk di setiap kabupaten yang terdampak, dilengkapi dengan alat-alat berat seperti excavator untuk membuat parit pengendali api. Selain itu, pemerintah juga menggandeng masyarakat setempat dalam program patroli dan penjagaan wilayah rawan kebakaran.

Kepala BPBD Kalimantan Tengah, Ahmad Yani, menjelaskan bahwa selain pemadaman, pihaknya juga melakukan penyuluhan kepada masyarakat tentang bahaya kebakaran hutan dan lahan. "Kami terus mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, terutama pembakaran lahan secara ilegal," tegasnya.

Perkiraan Cuaca dan Potensi Hujan

BMKG memprediksi adanya potensi hujan lokal di sebagian wilayah Kalimantan dalam beberapa hari ke depan. Kepala Stasiun Meteorologi Palangka Raya, Budi Santoso, menjelaskan bahwa adanya potensi hujan disebabkan oleh adanya pola angin yang membawa kelembaban dari arah laut. "Meskipun ada potensi hujan, kita tidak bisa bergantung sepenuhnya karena intensitasnya mungkin tidak merata dan hanya terjadi di beberapa wilayah saja," katanya.

BMKG juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada meski ada potensi hujan. "Hujan lokal mungkin tidak cukup untuk memadamkan seluruh titik api yang masih terjadi. Oleh karena itu, upaya pemadaman masih perlu dilakukan secara intensif," tambah Budi.

Dampak Lingkungan Jangka Panjang

Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi berulang-ulang di Kalimantan menimbulkan dampak lingkungan yang serius. Lapisan gambut yang terbakar memerlukan waktu bertahun-tahun untuk pulih, bahkan dalam kondisi yang ideal. Selain itu, emisi karbon yang dilepaskan ke atmosfer juga berkontribusi terhadap perubahan iklim global.

Seorang ahli lingkungan dari Universitas Palangka Raya, Dr. Siti Nurhaliza, menekankan pentingnya perlindungan ekosistem gambit sebagai penyerap karbon alami. "Kerusakan pada ekosistem gambit tidak hanya mengurangi kapasitas penyerapan karbon, tetapi juga melepaskan karbon yang telah tersimpan selama berabad-abad," jelasnya.

Langkah Jangka Panjang untuk Pencegahan

Untuk mencegah kejadian serupa di masa depan, pemerintah perlu mengambil langkah-langkah jangka panjang yang komprehensif. Upaya ini meliputi penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku pembakaran lahan, revitalisasi lahan gambut melalui program rewetting, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat yang tidak bergantung pada kegiatan degradasi lingkungan.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar menyatakan bahwa pemerintah tengah menyusur kebijakan zonasi lahan yang lebih ketat untuk mencegah konflik antara kebutuhan lahan dengan pelestarian lingkungan. "Kita perlu mencari solusi yang berkelanjutan di mana kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan dapat terwujud bersama-sama," ujarnya.

Dengan kondisi saat ini, masyarakat di wilayah terdampak karhutla diminta untuk tetap waspada dan mengikuti anjuran pemerintah mengenai penggunaan masker dan membatasi aktivitas di luar rumah saat kualitas udara sedang buruk. Upaya kolektif dari semua pihak diharapkan dapat mempercepat pemulihan kondisi lingkungan dan kesehatan masyarakat di Kalimantan.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Galih Pratama

Menulis tentang kesehatan lingkungan, polusi, dan gaya hidup hijau.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter