Sejumlah aktivis lingkungan yang tergabung dalam Greenpeace mulai turun dari Patung Selamat Datang di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, setelah sebelumnya membentangkan spanduk di bagian atas monumen ikonik tersebut. Proses penurunan berlangsung bertahap dan berlangsung dalam waktu yang relatif lama karena harus melewati struktur patung setinggi belasan meter yang permukaannya licin serta tidak dirancang sebagai jalur pemanjat.
Aksi pembentangan spanduk menjadi puncak dari rangkaian kegiatan yang dilakukan kelompok tersebut di kawasan pusat kota. Setelah pesan yang ingin disampaikan terbaca oleh pengguna jalan dan warga yang melintas, para aktivis memulai prosedur turun satu per satu dengan pengawasan rekan-rekan mereka yang berada di bawah. Penurunan dilakukan dengan peralatan panjat serta tali pengaman yang telah dipasang sebelum aksi dimulai.
Monumen Ikonik sebagai Panggung Kampanye
Patung Selamat Datang di Bundaran HI sejak lama menjadi salah satu titik paling terlihat di Jakarta. Posisinya yang berada di tengah simpang utama membuat kawasan ini dilalui ribuan kendaraan setiap hari, mulai dari kendaraan pribadi, angkutan umum, hingga bus kota. Keramaian itulah yang membuat lokasi ini kerap dipilih sebagai panggung penyampaian pesan kepada publik, baik oleh kelompok lingkungan, serikat pekerja, maupun gerakan sosial lainnya.
Bagi organisasi seperti Greenpeace, visibilitas menjadi pertimbangan utama. Pesan yang dibentangkan di ketinggian monumen berpotensi dilihat oleh lebih banyak orang dibandingkan aksi di ruang tertutup, termasuk oleh mereka yang tidak mengikuti pemberitaan media secara aktif. Dalam banyak kampanye sebelumnya, kelompok ini memang mengandalkan aksi visual di ruang publik untuk memancing perhatian dan memicu diskusi.
Prosedur Keselamatan dalam Penurunan
Penurunan dari ketinggian menuntut kesiapan teknis. Para aktivis yang terlibat umumnya telah melalui pelatihan panjat dan memiliki pengalaman dalam aksi serupa. Peralatan yang digunakan mencakup harness, carabiner, serta tali utama yang diikatkan pada titik-titik jangkar di sekitar struktur patung.
Selain peralatan, faktor cuaca menjadi pertimbangan penting. Angin kencang di kawasan terbuka seperti Bundaran HI dapat mempersulit gerakan, terutama saat aktivis harus melepas tumpuan dan bergantung pada tali. Karena itu, penurunan biasanya dilakukan dengan ritme yang lambat dan hati-hati, dengan komunikasi terus-menerus antara aktivis di atas dan tim pendukung di bawah.
Pesan yang Diangkat
Aksi di ruang publik semacam ini umumnya membawa tuntutan yang berkaitan dengan isu lingkungan hidup. Greenpeace secara global dikenal mengampanyekan persoalan perubahan iklim, polusi udara, pencemaran plastik di laut, serta perlindungan hutan dan keanekaragaman hayati. Di Indonesia, kelompok ini beberapa kali menyoroti kualitas udara di wilayah metropolitan Jakarta yang kerap berada di tingkat tidak sehat, serta persoalan sampah plastik yang sulit terurai.
Isu-isu tersebut memiliki keterkaitan langsung dengan kehidupan warga kota. Polusi udara, misalnya, berdampak pada kesehatan pernapasan, terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan lanjut usia. Sementara itu, pencemaran plastik di perairan berdampak pada ekosistem laut dan mata pencaharian nelayan. Pesan yang dibentangkan di atas monumen biasanya dirancang singkat dan padat agar mudah ditangkap dalam waktu singkat oleh orang yang melintas.
Pengawasan dan Pengaturan Lalu Lintas
Keberadaan aktivis di atas patung membuat petugas keamanan dan pengelola kawasan meningkatkan pengawasan. Kawasan sekitar monumen biasanya dijaga agar tidak terjadi penumpukan massa yang dapat mengganggu arus lalu lintas. Pengaturan di sekitar bundaran menjadi perhatian karena simpang ini menghubungkan sejumlah ruas jalan utama, termasuk Jalan M.H. Thamrin dan Jalan Sudirman.
Dalam aksi-aksi sebelumnya di lokasi serupa, petugas lebih banyak menempatkan personel untuk mengatur kerumunan dan memastikan tidak ada warga yang ikut memanjat. Pendekatan yang diambil umumnya mengutamakan keselamatan, mengingat risiko jatuh dari ketinggian cukup besar apabila aksi berlangsung tanpa prosedur yang memadai.
Rekam Jejak Aksi di Ruang Publik
Greenpeace bukan kelompok pertama yang menggunakan monumen dan bangunan ikonik sebagai media kampanye. Di berbagai negara, organisasi lingkungan dan gerakan sosial telah membentangkan spanduk dari jembatan, gedung pemerintahan, hingga menara. Metode ini dipilih karena mampu menghasilkan liputan media dan perbincangan di ruang digital dalam waktu singkat.
Meski demikian, aksi semacam ini juga menuai perdebatan. Sebagian pihak menilai penyampaian pendapat di ruang publik merupakan bagian dari kebebasan berekspresi yang dijamin undang-undang. Sebagian lain mempersoalkan aspek ketertiban, keselamatan, serta izin penggunaan ruang publik dan bangunan bersejarah. Perdebatan tersebut biasanya muncul kembali setiap kali aksi serupa dilakukan.
Setelah seluruh aktivis mencapai tanah, spanduk yang sempat dibentangkan dibuka dan dirapikan. Peralatan panjat dikumpulkan, dan kawasan sekitar monumen dikembalikan pada kondisi semula. Aksi pun berakhir tanpa meninggalkan jejak fisik pada struktur patung, seiring dengan proses pembersihan yang dilakukan oleh tim pendukung.
Komentar (0)