Pelatih Timnas Indonesia, Patrick Kluivert, mendapat angin segar menjelang bergulirnya putaran final Piala Asia 2027. Mantan bek Timnas Belanda, Calvin Verdonk, menilai skuad Garuda memiliki modal berharga untuk menantang kekuatan Thailand yang selama ini menjadi salah satu raja sepak bola Asia Tenggara. Pernyataan tersebut mencuat di tengah persiapan panjang yang tengah dijalani skuad Merah Putih menuju turnamen paling bergengsi di benua Asia tersebut.
Modal Kualitas Individu dan Pengalaman Eropa
Verdonk menilai komposisi pemain yang dimiliki Indonesia saat ini jauh berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu. Sejumlah penggawa yang berkarier di Eropa, baik di liga utama maupun kompetisi level kedua, memberi warna baru bagi kekuatan tim. Kehadiran pemain seperti Mees Hilgers, Jayden Oosterwolde, Elkan Baggott, hingga penggawa yang berlaga di Asia seperti Marselino Ferdinan dan Rizky Ridho membuat kedalaman skuad Indonesia dinilai lebih merata.
Menurut Verdonk, pengalaman bertanding di kompetisi Eropa menjadi nilai tambah tersendiri. Pemain yang terbiasa menghadapi intensitas tinggi di klubnya masing-masing akan lebih siap ketika berlaga di ajang internasional. Hal itu dinilai menjadi modal penting ketika Indonesia harus melawan negara-negara dengan kultur sepak bola mapan seperti Thailand, Vietnam, Jepang, Korea Selatan, hingga Iran.
Verdonk juga menyoroti aspek kedisiplinan dan kemampuan bertahan sebagai kunci. Ia menilai Indonesia kini memiliki pemain yang mampu membaca permainan lawan dengan baik, baik saat bertahan dalam blok maupun ketika melakukan transisi cepat ke arah serangan. Kemampuan itu, kata dia, menjadi syarat mutlak untuk bersaing di level Asia.
Thailand Bukan Lawan yang Mudah
Meskipun menaruh keyakinan tinggi terhadap skuad Indonesia, Verdonk tidak menutup mata bahwa Thailand tetap menjadi lawan yang sulit. Thailand memiliki tradisi kuat di sepak bola Asia Tenggara dengan raihan gelar Piala AFF berulang kali, serta sederet pemain yang berpengalaman tampil di kompetisi luar negeri. Gaya permainan cepat dengan umpan-umpan pendek menjadi ciri khas sepak bola Thailand yang sudah terbangun sejak lama.
Verdonk melihat Thailand memiliki keunggulan dalam hal chemistry antarpemain. Sebagian besar pemain inti Thailand sudah lama bermain bersama di level tim nasional sehingga pemahaman taktik antar lini berjalan mulus. Hal ini berbeda dengan Indonesia yang harus menyatukan pemain dari berbagai latar belakang kompetisi. Namun, Verdonk yakin proses adaptasi yang dilakukan Kluivert bersama staf pelatih dapat menutupi kekurangan tersebut.
Ia juga menyoroti aspek mentalitas sebagai pembeda. Menurutnya, pertandingan melawan Thailand di ajang sebesar Piala Asia bukan hanya soal kualitas teknis, tetapi juga kesiapan psikologis. Tim yang lebih tenang dan mampu memanfaatkan peluang biasanya keluar sebagai pemenang.
Persiapan Menuju Piala Asia 2027
Piala Asia 2027 akan digelar di Arab Saudi dan diikuti 24 negara terbaik Asia. Indonesia dipastikan menjadi salah satu peserta setelah melalui babak kualifikasi yang penuh dinamika. Ini akan menjadi penampilan kedua Indonesia di putaran final Piala Asia setelah sebelumnya tampil pada edisi 2023 yang digelar di Qatar.
Pada edisi 2023, Indonesia berhasil menembus babak 16 besar sebelum akhirnya tersingkir oleh Australia. Capaian itu menjadi modal kepercayaan diri bagi skuad Garuda untuk melangkah lebih jauh. Verdonk berharap pada edisi 2027 Indonesia dapat kembali menorehkan sejarah, minimal mengulangi capaian yang sama atau bahkan lebih baik.
Sejumlah agenda telah disiapkan untuk mematangkan persiapan. Selain uji coba internasional melawan tim-tim kuat dari Asia dan Afrika, PSSI juga diharapkan terus mendukung pelatih dalam memantau pemain-pemain keturunan dan penggawa yang berkarier di luar negeri. Verdonk menilai komunikasi antara federasi, pelatih, dan pemain menjadi kunci keberhasilan pembinaan tim nasional.
Kompetisi Domestik sebagai Fondasi
Verdonk juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas kompetisi domestik, khususnya Liga 1, sebagai fondasi pembinaan pemain. Menurutnya, tim nasional yang kuat biasanya lahir dari liga yang kompetitif. Ia berharap klub-klub Liga 1 terus berinvestasi pada pembinaan usia muda dan infrastruktur agar lahir pemain-pemain berkualitas secara berkelanjutan.
Ia menyoroti pentingnya menambah jam terbang bagi pemain muda di level klub. Pemain yang biasa bermain di kompetisi domestik dengan intensitas tinggi akan lebih siap ketika mendapat panggilan tim nasional. Hal ini akan mengurangi kesenjangan antara pemain yang berkarier di luar negeri dengan pemain yang berlaga di dalam negeri.
Peluang Indonesia di Grup
Peluang Indonesia di Piala Asia 2027 sangat bergantung pada hasil undian grup. Jika tergabung dengan tim-tim kuat seperti Jepang, Korea Selatan, atau Iran, tantangan akan jauh lebih berat. Namun, Verdonk menilai Indonesia punya peluang bersaing jika mampu tampil konsisten dan memanfaatkan momentum. Pertemuan dengan tim sekelas Thailand di fase grup bisa menjadi laga penentu yang menarik untuk disaksikan.
Ia menegaskan satu hal yang tidak boleh dilupakan: sepak bola Asia kini kian kompetitif. Negara-negara seperti Uzbekistan, Yordania, dan Tajikistan menunjukkan peningkatan signifikan. Indonesia tidak boleh hanya fokus pada Thailand, tetapi juga harus bersiap menghadapi kejutan dari tim-tim yang sedang naik daun.
Dengan modal pemain berkualitas, pengalaman internasional, serta persiapan yang matang, Verdonk optimistis Indonesia mampu tampil kompetitif di Piala Asia 2027. Kuncinya, kata dia, adalah konsistensi, kerja sama tim, dan kemampuan memanfaatkan setiap peluang yang ada di atas lapangan.
Komentar (0)