30, 2026
Teknologi

Waka MPR Tekankan Pentingnya Percepat Realisasi Program PLTS 100 GW RI

Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno menekankan pentingnya percepatan program PLTS 100 GW di Indonesia, dengan fokus pada investasi, regulasi, dan teknologi.]]>

Lestari Maharani
Lestari Maharani Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Waka MPR Tekankan Pentingnya Percepat Realisasi Program PLTS 100 GW RI

Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia menegaskan pentingnya percepatan realisasi program pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt yang telah dicanangkan pemerintah. Program ini dinilai menjadi salah satu pilar utama dalam upaya transformasi energi nasional menuju sumber daya yang lebih bersih, berkelanjutan, dan ramah lingkungan.

Menurutnya, target 100 gigawatt PLTS bukan sekadar angka ambisius, melainkan kebutuhan mendesak mengingat semakin nyatanya dampak perubahan iklim serta komitmen Indonesia dalam mengurangi emisi gas rumah kaca sesuai perjanjian internasional. Ia menyoroti bahwa Indonesia memiliki potensi energi surya yang melimpah sepanjang tahun, sehingga lambatnya realisasi program tersebut menjadi persoalan yang perlu segera diatasi bersama.

Potensi Energi Surya yang Belum Dimaksimalkan

Indonesia sebagai negara tropis dengan paparan sinar matahari sepanjang tahun memiliki kapasitas teknis energi surya yang sangat besar. Meski demikian, pemanfaatan energi surya dalam bauran energi nasional masih tergolong rendah dibandingkan potensi yang tersedia. Kondisi ini menjadi perhatian serius di kalangan legislatif karena menyangkut ketahanan energi jangka panjang dan kedaulatan energi negara.

Waka MPR menilai bahwa percepatan PLTS 100 GW harus diikuti dengan reformasi regulasi yang mendukung, penyederhanaan perizinan, serta kepastian investasi bagi pelaku usaha. Ia menekankan bahwa hambatan birokrasi dan ketidakpastian aturan sering menjadi penyebab utama tertundanya proyek-proyek energi terbarukan di daerah.

Kolaborasi Pusat dan Daerah Menjadi Kunci

Dalam berbagai kesempatan, ia mengingatkan bahwa keberhasilan program PLTS tidak dapat hanya bergantung pada pemerintah pusat. Pemerintah daerah, termasuk provinsi, kabupaten, dan kota, perlu dilibatkan secara aktif dalam penyediaan lahan, perizinan, serta integrasi dengan rencana pembangunan wilayah. Tanpa sinergi lintas tingkat pemerintahan, target 100 GW berpotensi hanya menjadi wacana tanpa realisasi nyata.

Selain itu, aspek sosial dan ekonomi juga menjadi perhatian. Pengembangan PLTS skala besar diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan keterlibatan industri dalam negeri, serta mendorong tumbuhnya ekosistem manufaktur komponen solar panel di dalam negeri. Dengan demikian, program ini tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga pada pertumbuhan ekonomi nasional secara keseluruhan.

Dukungan Infrastruktur dan Teknologi

Waka MPR juga menyoroti pentingnya penguatan infrastruktur jaringan listrik agar mampu menampung pasokan listrik dari pembangkit surya yang bersifat intermiten. Diperlukan investasi pada sistem penyimpanan energi, jaringan transmisi cerdas, serta peningkatan kapasitas tenaga ahli di bidang energi terbarukan. Tanpa dukungan teknologi dan sumber daya manusia yang memadai, pemanfaatan PLTS secara optimal akan sulit tercapai.

Ia mendorong pemerintah untuk terus menjalin kemitraan dengan negara-negara yang telah berpengalaman dalam pengembangan energi surya, baik dalam bentuk transfer teknologi, pelatihan, maupun kerja sama investasi. Menurutnya, kolaborasi internasional merupakan langkah strategis untuk mempercepat pembelajaran dan menghindari kesalahan yang pernah dialami negara lain.

Target Bauran Energi Terbarukan

Program PLTS 100 GW merupakan bagian dari target nasional untuk meningkatkan porsi energi terbarukan dalam bauran energi primer. Pemerintah menargetkan pencapaian bauran energi terbarukan yang signifikan dalam beberapa tahun ke depan, sejalan dengan komitmen penurunan emisi karbon. Namun, sejumlah pengamat menilai target tersebut memerlukan percepatan yang luar biasa mengingat pertumbuhan kapasitas terpasang energi terbarukan selama ini berjalan relatif lambat.

Waka MPR menegaskan bahwa percepatan realisasi PLTS harus menjadi prioritas lintas kementerian dan lembaga. Ia mengingatkan bahwa keterlambatan dalam transisi energi akan menimbulkan biaya ekonomi dan lingkungan yang lebih besar di masa depan, termasuk ketergantungan yang terus berlanjut pada energi fosil yang harganya fluktuatif dan cadangannya semakin menipis.

Pengawasan dan Akuntabilitas

Dalam perannya sebagai lembaga negara, MPR mendorong adanya pengawasan yang ketat terhadap pelaksanaan program PLTS 100 GW. Transparansi dalam pengadaan, pengelolaan anggaran, serta evaluasi berkala atas capaian setiap tahapan menjadi prasyarat agar program ini berjalan sesuai rencana dan memberi manfaat maksimal bagi rakyat.

Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk akademisi, organisasi masyarakat sipil, dan dunia usaha, untuk ikut mengawal program ini. Partisipasi publik dinilai penting agar kebijakan energi tidak hanya menjadi domain pemerintah, tetapi menjadi agenda bersama menuju kemandirian energi yang berkelanjutan.

Dengan percepatan yang terukur dan tata kelola yang baik, program PLTS 100 GW diharapkan menjadi tonggak penting dalam sejarah transisi energi Indonesia. Keberhasilannya tidak hanya diukur dari jumlah kapasitas terpasang, tetapi juga dari kemampuan negara dalam menciptakan sistem energi yang adil, bersih, dan berdaya saing bagi generasi mendatang.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Lestari Maharani

Kolumnis yang gemar mengupas isu perdagangan internasional dan rantai pasok.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter