06, 2026
Nasional

Warga Batam Mengeluh Tak Dapat Air Sejak Ada Data Center

Warga Kavling Sambau, Batam, keluhkan air mati berbulan-bulan, diduga akibat pembangunan data center. BP Batam akan cek sumber aliran air.]]>

Lestari Maharani
Lestari Maharani Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Warga Batam Mengeluh Tak Dapat Air Sejak Ada Data Center

Sejumlah warga di Batam, Kepulauan Riau, mengeluh mengalami gangguan pasokan air bersih dalam beberapa pekan terakhir. Keluhan itu muncul bersamaan dengan beroperasinya sejumlah pusat data atau data center berskala besar di kawasan industri setempat. Warga menduga kebutuhan air yang sangat besar untuk operasional pusat data ikut mengurangi pasokan yang selama ini mereka andalkan.

Keluhan paling banyak datang dari permukiman di sekitar Kecamatan Sei Beduk, Batam Center, dan kawasan Sagulung. Warga mengaku air keran dari jaringan perpipaan tidak mengalir selama berjam-jam, bahkan ada yang tidak mendapat pasokan sama sekali selama dua hingga tiga hari. Kondisi itu memaksa mereka membeli air tangki, menampung air hujan, atau mencari sumber air lain untuk kebutuhan mandi, mencuci, dan memasak.

Pusat Data dan Konsumsi Air

Pusat data merupakan fasilitas yang menyimpan perangkat komputasi dalam jumlah besar dan beroperasi selama 24 jam tanpa henti. Perangkat tersebut menghasilkan panas tinggi sehingga memerlukan sistem pendingin. Selain pendingin berbasis udara, sebagian pusat data menggunakan sistem pendingin berbasis air yang lebih efisien namun membutuhkan volume air besar dan berkelanjutan.

Selain untuk pendinginan, air juga digunakan pada proses pengolahan udara, pencucian peralatan, serta sistem pendukung kebakaran. Sejumlah operator pusat data menyatakan telah menerapkan daur ulang air untuk menekan konsumsi. Namun, warga menilai pemakaian air industri tetap terasa dampaknya pada pasokan rumah tangga di musim kemarau atau saat debit sumber air menurun.

Tanggapan Pemerintah dan Pengelola Air

Pemerintah Kota Batam menyatakan tengah menelusuri penyebab pasti gangguan pasokan air. Dinas terkait dan perusahaan daerah air minum diminta memetakan titik-titik yang paling parah mengalami kekurangan. Beberapa pejabat menyebut penurunan debit air baku di sejumlah waduk dan sumber air permukaan turut memengaruhi layanan, terutama saat curah hujan rendah.

Pengelola jaringan air bersih mengklaim telah melakukan penjadwalan distribusi dan penambahan pasokan dari instalasi pengolahan. Mereka juga menyebut tengah berkoordinasi dengan kawasan industri untuk memastikan pengambilan air tidak melampaui izin yang diberikan. Meski demikian, warga mengaku jadwal distribusi sering tidak sesuai dan informasi mengenai waktu pengaliran air sulit diperoleh.

Keluhan Warga

Seorang warga Batam Center mengungkapkan air mulai mengalir hanya pada dini hari dengan tekanan rendah. Ia harus bangun sebelum subuh untuk menampung air di ember dan bak mandi. Menurutnya, keadaan itu merepotkan, terutama bagi keluarga dengan anak kecil dan lansia. Warga lain menyebut biaya pembelian air tangki membebani pengeluaran rumah tangga.

Sejumlah pelaku usaha kecil, seperti warung makan dan usaha laundry, juga terdampak. Mereka mengaku harus mengurangi operasional atau membeli air tambahan agar tetap bisa melayani pelanggan. Beberapa di antaranya menyatakan mulai mempertimbangkan bekerja sama dengan penyedia air swasta meski biayanya lebih mahal.

Isu Tata Kelola Sumber Daya Air

Pengamat tata kelola sumber daya air menilai pertumbuhan pusat data di kawasan industri perlu dibarengi dengan kajian daya dukung lingkungan, termasuk ketersediaan air. Menurut mereka, izin pengambilan air untuk kebutuhan industri semestinya memperhitungkan kebutuhan dasar masyarakat dan kondisi sumber air pada musim kemarau.

Mereka juga menyoroti pentingnya pengawasan berkala terhadap volume pengambilan air yang dilakukan perusahaan. Data pemakaian air industri dinilai perlu dibuka kepada publik secara berkala agar warga dapat mengetahui seberapa besar tekanan terhadap sumber daya air setempat. Transparansi itu disebut penting untuk mencegah konflik antara kebutuhan industri dan kebutuhan rumah tangga.

Dorongan Perbaikan Infrastruktur

Anggota legislatif daerah mendesak pemerintah mempercepat perbaikan infrastruktur perpipaan yang selama ini mengalami kebocoran dan kehilangan air. Menurut mereka, tingkat kehilangan air dalam jaringan distribusi masih cukup tinggi sehingga pasokan yang tersedia tidak sampai sepenuhnya ke pelanggan. Perbaikan pipa tua dan peningkatan kapasitas instalasi pengolahan disebut menjadi langkah mendesak.

Selain itu, sejumlah pihak mengusulkan penerapan teknologi hemat air di pusat data, seperti pendinginan cair tertutup dan pemanfaatan air daur ulang. Langkah tersebut dinilai dapat menekan konsumsi air baru tanpa mengganggu keandalan operasional fasilitas digital yang menjadi salah satu penopang ekonomi daerah.

Menunggu Solusi Berkelanjutan

Hingga kini warga masih menunggu kepastian pasokan air yang stabil. Mereka berharap pemerintah dan pengelola air memberikan informasi yang jelas, jadwal distribusi yang konsisten, serta solusi jangka panjang terhadap keterbatasan sumber air. Warga juga meminta agar kebutuhan air rumah tangga diprioritaskan dalam pengelolaan sumber daya air di wilayah tersebut.

Kasus di Batam menjadi gambaran tantangan yang kerap muncul ketika pertumbuhan pusat data dan industri digital berjalan cepat tanpa diimbangi perencanaan infrastruktur air yang memadai. Penyelesaiannya menuntut koordinasi antara pemerintah daerah, pengelola air, operator pusat data, dan masyarakat agar kebutuhan semua pihak dapat terpenuhi secara adil dan berkelanjutan.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Lestari Maharani

Kolumnis yang gemar mengupas isu perdagangan internasional dan rantai pasok.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter