30, 2026
Teknologi

Waspada WhatsApp Mendadak Minta OTP, Cepat Aktifkan Fitur Ini

Waspadai kode verifikasi WhatsApp yang tiba-tiba muncul. Ini bisa jadi tanda upaya pembajakan akun. Simak!]]>

Andi Prasetyo
Andi Prasetyo Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Waspada WhatsApp Mendadak Minta OTP, Cepat Aktifkan Fitur Ini

Jakarta — Modus penipuan melalui aplikasi pesan singkat WhatsApp kembali marak terjadi di Indonesia. Kali ini, pelaku mengincar kode verifikasi satu kali atau one-time password (OTP) milik korban dengan cara berpura-pura sebagai pihak resmi, teman, hingga layanan pelanggan. Kode OTP yang diminta secara mendadak itu kemudian digunakan pelaku untuk membajak akun WhatsApp korban.

Berdasarkan laporan yang dihimpun dari berbagai kanal pengaduan masyarakat, pelaku umumnya menghubungi korban melalui panggilan suara atau pesan teks. Mereka mengaku sebagai petugas operator seluler, pihak bank, kurir paket, atau bahkan rekan kerja yang sedang dalam kesulitan. Dalih yang digunakan beragam, mulai dari verifikasi data, paket tertahan, hingga akun yang akan diblokir jika tidak segera diverifikasi.

Modus Operandi yang Semakin Beragam

Pengamat keamanan siber menilai pola serangan ini bukan hal baru, namun terus mengalami evolusi. Pelaku tidak lagi hanya mengandalkan pesan massal, tetapi juga melakukan pendekatan personal agar korban percaya. Dalam sejumlah kasus, pelaku telah lebih dulu mengetahui sebagian data pribadi korban, seperti nama lengkap, nomor telepon, hingga nama kontak terdekat.

Data tersebut kemudian digunakan untuk meyakinkan korban bahwa pelaku benar-benar pihak yang berwenang. Setelah korban percaya, pelaku meminta kode OTP yang dikirim melalui SMS atau aplikasi autentikasi. Padahal, kode tersebut merupakan kunci utama untuk memindahkan akun WhatsApp ke perangkat lain.

Jika kode OTP berhasil didapatkan, pelaku dapat mengaktifkan akun WhatsApp korban di ponsel mereka. Akibatnya, korban kehilangan akses ke akun sendiri, sementara pelaku leluasa menghubungi kontak-kontak korban untuk meminta uang atau menyebarkan tautan berbahaya.

Kenapa OTP Tidak Boleh Dibagikan

Kode OTP bersifat rahasia dan hanya ditujukan untuk pemilik akun. Layanan resmi, termasuk WhatsApp, bank, maupun operator telekomunikasi, tidak pernah meminta kode tersebut kepada pengguna. Permintaan OTP secara mendadak melalui telepon atau pesan justru merupakan tanda kuat adanya upaya penipuan.

WhatsApp sendiri telah berulang kali menegaskan bahwa pihaknya tidak akan pernah menghubungi pengguna untuk meminta kode verifikasi enam digit. Kode itu hanya muncul ketika pengguna hendak memverifikasi nomor telepon di perangkat baru. Artinya, jika seseorang menerima kode OTP tanpa melakukan proses verifikasi, ada pihak lain yang sedang mencoba mengambil alih akun.

Aktifkan Verifikasi Dua Langkah

Langkah paling efektif untuk mencegah pembajakan akun adalah mengaktifkan fitur verifikasi dua langkah atau two-step verification di WhatsApp. Fitur ini menambahkan lapisan keamanan berupa PIN enam digit yang harus dimasukkan setiap kali nomor telepon diverifikasi ulang di perangkat baru.

Dengan verifikasi dua langkah aktif, pelaku tidak bisa langsung menguasai akun meskipun berhasil mendapatkan kode OTP. Mereka tetap membutuhkan PIN yang hanya diketahui pemilik akun. Fitur ini tersedia secara gratis dan dapat diaktifkan melalui menu Pengaturan, lalu Akun, kemudian Verifikasi Dua Langkah.

Selain mengaktifkan verifikasi dua langkah, pengguna juga disarankan untuk tidak pernah membagikan kode OTP kepada siapa pun, termasuk orang yang mengaku sebagai pihak resmi. Pengguna juga perlu waspada terhadap tautan mencurigakan yang dikirim melalui pesan, serta segera menghubungi kontak yang bersangkutan melalui saluran lain jika menerima permintaan mencurigakan.

Langkah Jika Akun Sudah Dibajak

Apabila akun WhatsApp sudah terlanjur diambil alih, korban disarankan segera masuk kembali ke aplikasi menggunakan nomor telepon yang sama. WhatsApp akan mengirim kode OTP baru, dan proses verifikasi ulang dapat dilakukan untuk mengambil alih kembali akun. Jika verifikasi dua langkah sudah aktif, korban harus memasukkan PIN yang telah dibuat sebelumnya.

Korban juga dianjurkan untuk memberi tahu kontak-kontak terdekat agar tidak menanggapi permintaan uang atau tautan mencurigakan yang dikirim dari akun tersebut. Selain itu, korban dapat melaporkan insiden kepada pihak berwenang dan menghubungi layanan dukungan WhatsApp untuk mendapatkan bantuan lebih lanjut.

Praktisi keamanan digital mengingatkan bahwa kejahatan siber berbasis rekayasa sosial atau social engineering menargetkan kelengahan manusia, bukan kelemahan sistem semata. Karena itu, kewaspadaan dan literasi digital menjadi pertahanan utama. Masyarakat diminta tidak mudah panik, tidak terburu-buru, dan selalu memverifikasi setiap permintaan yang berkaitan dengan data pribadi.

Peran Literasi Digital

Peningkatan kasus penipuan OTP menunjukkan pentingnya edukasi berkelanjutan bagi pengguna internet di Indonesia. Kampanye literasi digital perlu menyasar kelompok rentan, seperti lansia dan pengguna baru yang belum familiar dengan mekanisme keamanan akun.

Dengan memahami cara kerja OTP, mengenali ciri-ciri penipuan, dan mengaktifkan fitur keamanan yang tersedia, pengguna dapat melindungi akun sekaligus mencegah kerugian finansial bagi diri sendiri dan orang di sekitar. Kewaspadaan terhadap permintaan OTP mendadak bukan sekadar imbauan, melainkan langkah nyata menjaga keamanan data pribadi di ruang digital.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Andi Prasetyo

Kontributor bidang kebugaran dan olahraga. Menulis tips workout dan gaya hidup aktif.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter