14 Kali Erupsi dalam 4 Hari, Anak Krakatau Kini Berstatus Siaga
Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang meningkat dalam beberapa hari terakhir. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat bahwa gunung berapi yang terletak di perairan Selat Sunda ini telah mengalami 14 kali erupsi dalam rentang waktu empat hari terakhir. Aktivitas yang teramati membuat pihak berwenang menaikkan status gunung ini menjadi level Siaga (Level II).
Menurut informasi yang dikeluarkan PVMBG pada Minggu (19/11/2023), aktivitas Anak Krakatau mulai meningkat sejak Kamis (16/11) hingga Sabtu (18/11). Dalam periode tersebut, teramati 14 kali gempa tektonik dangkal, 51 kali gempa vulkanik dangkal, 10 kali gempa tectonic, serta 15 kali gempa eksplosif.
Aktivitas Erupsi yang Teramati
Erupsi yang terjadi di Anak Krakatau umumnya bersifat eksplosif dengan kolom abu setinggi 200-800 meter di atas puncak. Abu vulkanik ini terdispersi ke arah timur dan tenggara. Selain itu, teramati juga adanya guguran lava di bagian barat daya dan barat laut gunung.
Dalam pantauan visual, aktivitas freatik juga teramati dengan kolom abu putih keabu-abuan setinggi 200-500 meter di atas puncak. Letusan eksplosif teramati dengan durasi 30-90 detik dan amplitudo maksimum 25-45 mm.
Kepala PVMBG, Hendra Gunawan, menjelaskan bahwa peningkatan aktivitas vulkanik ini merupakan bagian dari siklus aktivitas Anak Krakatau. "Meskipun aktivitasnya meningkat, kami belum melihat indikasi adahawala erupsi yang lebih besar namun kami tetap waspada," ujarnya.
Peningkatan Status menjadi Siaga
Berdasarkan peningkatan aktivitas tersebut, PVMBG secara resmi menaikkan status Anak Krakatau menjadi Siaga (Level II) pada Minggu (19/11/2023). Status ini diberlakukan setelah sebelumnya berada pada Level Waspada (Level I).
Peningkatan status ini menandakan bahwa aktivitas vulkanik telah meningkat dan dapat berpotensi menimbulkan bahaya bagi aktivitas di sekitar kawah. PVMBG meminta masyarakat tetap waspada dan mengikuti arahan yang diberikan oleh pihak berwenang.
Area Bahaya dan Resiko Potensial
Dengan status Siaga, PVMBG menetapkan zona bahaya sejauh 2 kilometer dari puncak atau kawah Anak Krakatau. Dalam radius ini, potensi bahaya berupa guguran lava, awan panas, dan tefra dapat terjadi kapan saja.
Selain itu, potensi tsunami lokal juga tetap menjadi perhatian utama mengingat lokasi Anak Krakatau yang berada di perairan. Sejarah mencatat, erupsi besar Anak Krakatau pada tahun 1883 mengakibatkan tsunami besar yang menewaskan ribuan orang di pesisir Selat Sunda.
Pihak berwenang juga meminta kepada nelayan dan pengguna perairan lainnya untuk tidak mendekat ke area sejauh 5 kilometer dari puncak gunung. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi potensi guguran material vulkanik yang dapat menyebabkan tsunami lokal.
Persiapan Penanggulangan Bencana
Pemerintah setempat bersama instansi terkait telah mempersiapkan langkah-langkah penanggulangan bencana. Tim SAR darat dan laut ditempatkan di sekitar wilayah terdekat dengan Anak Krakatau untuk antisipasi jika diperlukan evakuasi.
Monitorin Terus Dilakukan
PVMBG akan terus melakukan monitoring intensif terhadap aktivitas Anak Krakatau. Tim vulkanolog akan melakukan observasi visual dan instrumental secara berkala untuk memantau perkembangan aktivitas gunung.
Perubahan aktivitas vulkanik akan segera disampaikan kepada masyarakat melalui media sosial resmi PVMBG dan sistem peringatan dini. Masyarakat diminta untuk selalu mengikuti informasi terkini dari sumber resmi dan tidak terpancing informasi bohong atau tidak berdasar.
Sejarah Anak Krakatau sebagai gunung berapi aktif menunjukkan bahwa aktivitasnya bisa berubah secara cepat. Pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk tidak panik namun tetap waspada dan mematuhi arahan yang diberikan.
Komentar (0)