08, 2026
Teknologi

3 Tahun Perang Gaza: 74.000 Tewas, Konflik Belum Usai

Perang Gaza yang dimulai 7 Oktober 2023 masih berlanjut, dengan lebih dari 74.000 warga Palestina tewas.]]>

Arief Pratama
Arief Pratama Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

3 Tahun Perang Gaza: 74.000 Tewas, Konflik Belum Usai

Perang Gaza Memasuki Tahun Keempat: Lebih dari 74 Ribu Jiwa Melayang, Gencatan Senjata Masih Jauh dari Harapan

Konflik bersenjata di Jalur Gaza telah memasuki tahun ketiga sejak eskalasi besar-besaran yang meletus pada Oktober 2023. Hingga laporan terbaru ini disusun, jumlah korban tewas di pihak Palestina dilaporkan telah melampaui 74.000 jiwa, sementara korban luka-luka mencapai lebih dari 170.000 orang. Angka tersebut menjadikan perang ini sebagai salah satu konflik paling mematikan dalam sejarah modern kawasan Timur Tengah, dengan proporsi korban sipil yang sangat tinggi, termasuk perempuan dan anak-anak.

Kementerian Kesehatan Gaza, yang beroperasi di bawah otoritas setempat, secara rutin memperbarui data korban. Meskipun angka-angka tersebut tidak dapat diverifikasi secara independen karena akses jurnalis internasional ke Gaza masih sangat dibatasi, sejumlah organisasi kemanusiaan internasional dan badan-badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa data tersebut secara umum mencerminkan skala kehancuran yang terjadi. PBB bahkan menyebut kondisi di Gaza sebagai "krisis kemanusiaan terburuk abad ini".

Sebagian besar wilayah Jalur Gaza dilaporkan telah mengalami kerusakan infrastruktur yang sangat parah. Rumah sakit, sekolah, tempat ibadah, jaringan air bersih, serta fasilitas listrik lumpuh total atau beroperasi jauh di bawah kapasitas. Lebih dari 1,9 juta warga Gaza, atau sekitar 85 persen dari total populasi, dilaporkan telah mengungsi ke wilayah selatan yang padat, terutama di sekitar Rafah dan Deir al-Balah. Mereka hidup dalam kondisi serba terbatas, dengan akses pangan, air bersih, dan layanan medis yang sangat minim.

Laporan terbaru dari Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) menyebutkan bahwa bantuan kemanusiaan yang masuk ke Gaza masih jauh dari cukup. Berbagai hambatan administratif, pemeriksaan keamanan yang ketat, serta kerusakan jalan dan infrastruktur membuat distribusi bantuan berjalan lambat. Beberapa organisasi internasional memperingatkan risiko kelaparan massal di wilayah utara Gaza, yang telah lama terisolasi dari pasokan bantuan rutin.

Upaya Diplomasi dan Perundingan Gencatan Senjata

Di jalur diplomatik, berbagai upaya untuk mencapai gencatan senjata permanen terus dilakukan. Mediasi yang melibatkan Qatar, Mesir, dan Amerika Serikat telah berlangsung selama berbulan-bulan, namun belum membuahkan hasil yang bertahan lama. Kesepakatan gencatan senjata sementara sempat tercapai pada November 2023, yang memungkinkan pertukaran tawanan dan jeda kemanusiaan selama beberapa hari. Namun, setelah periode tersebut berakhir, pertempuran kembali berkobar dengan intensitas yang lebih tinggi.

Perbedaan mendasar antara pihak-pihak yang bertikai mengenai syarat penghentian permanen permusuhan, masa depan pemerintahan Gaza pasca-konflik, serta status para tahanan menjadi penghambat utama. Beberapa putaran negosiasi dilaporkan hampir mencapai kesepakatan, tetapi selalu gagal pada tahap akhir. Masyarakat internasional, termasuk negara-negara Arab dan Uni Eropa, terus menyerukan penghentian kekerasan dan dimulainya kembali proses politik yang lebih komprehensif.

Di sisi lain, ketegangan regional turut meningkat. Serangan balasan dan operasi militer tidak hanya terbatas di Gaza, tetapi juga merembet ke wilayah perbatasan Lebanon, Suriah, serta jalur pelayaran Laut Merah. Kelompok milisi yang bersekutu dengan Iran, seperti Hizbullah dan Houthi, melancarkan serangan terhadap sasaran-sasaran Israel dan kapal-kapal yang melintas di Laut Merah, memicu respons militer dari koalisi pimpinan Amerika Serikat. Eskalasi ini menimbulkan kekhawatiran akan meletusnya perang regional yang lebih luas.

Dampak Sosial, Ekonomi, dan Psikologis

Dampak perang tidak hanya terbatas pada korban jiwa dan kerusakan fisik. Kondisi psikologis warga Gaza, terutama anak-anak, dilaporkan mengalami tekanan luar biasa. UNICEF memperkirakan bahwa hampir seluruh anak-anak di Gaza membutuhkan dukungan kesehatan mental dan psikososial. Banyak dari mereka kehilangan anggota keluarga, rumah, dan akses pendidikan selama lebih dari dua tahun.

Secara ekonomi, Jalur Gaza praktis lumpuh. Tingkat pengangguran dilaporkan mencapai lebih dari 80 persen, sementara aktivitas pertanian dan perikanan—yang sebelumnya menjadi tulang punggung ekonomi lokal—nyaris terhenti total. Bank-bank tidak beroperasi normal, dan sistem keuangan runtuh. Bantuan tunai dari lembaga internasional menjadi satu-satunya sumber penghidupan bagi sebagian besar keluarga.

Di Israel, perang juga meninggalkan luka mendalam. Serangan roket dan serangan lintas batas masih terjadi secara sporadis, memaksa warga di kota-kota selatan seperti Sderot dan Ashkelon hidup dalam ketidakpastian. Tekanan politik di dalam negeri meningkat, dengan demonstrasi rutin yang menuntut pemerintah memprioritaskan pembebasan tawanan yang masih ditahan di Gaza.

Hingga kini, belum ada tanda-tanda bahwa konflik akan segera berakhir. Komunitas internasional terus mendesak agar solusi dua negara kembali dijadikan kerangka utama penyelesaian, meskipun realitas di lapangan menunjukkan bahwa implementasi gagasan tersebut semakin sulit diwujudkan. Tiga tahun perang telah mengubah lanskap Gaza secara permanen, dan pemulihannya diperkirakan akan memakan waktu puluhan tahun serta biaya puluhan miliar dolar.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Arief Pratama

Peneliti muda yang tertarik pada data, inflasi, dan daya beli masyarakat.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter