Seorang ilmuwan yang sebelumnya dikenal karena prediksinya terkait pandemi COVID-19 kembali menjadi perhatian publik. Kali ini, perhatian tersebut bukan disebabkan oleh peringatan soal virus corona, melainkan karena penyebutan sebuah penyakit lama yang dikenal dengan nama pes paru Siberia. Nama penyakit itu muncul dalam pernyataan yang kemudian menyebar luas di media sosial dan sejumlah pemberitaan internasional. Pertanyaannya kemudian berkembang: seberapa berbahaya penyakit yang secara historis telah menimbulkan wabah mematikan ini?
Apa Itu Pes Paru Siberia
Pes paru Siberia merujuk pada bentuk infeksi paru yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis, organisme yang sama yang bertanggung jawab atas wabah pes bubo yang pernah mengguncang Eropa pada abad pertengahan. Perbedaan utama terletak pada jalur infeksi. Jika pes bubo menyerang kelenjar getah bening, maka pes paru menyerang sistem pernapasan dan dapat menyebar dari manusia ke manusia melalui droplet atau percikan air liur di udara.
Istilah Siberia dalam penyebutan ini berkaitan dengan wilayah geografis tempat sejumlah kasus historis dilaporkan, terutama di kawasan Siberia, Mongolia, dan beberapa daerah stepa di Asia Tengah. Di wilayah tersebut, bakteri Yersinia pestis masih ditemukan secara alami pada populasi hewan pengerat seperti marmot, tikus tanah, dan tikus liar. Manusia yang berinteraksi dengan hewan tersebut atau dengan kutu yang hidup di tubuhnya berisiko terinfeksi.
Sejarah Wabah dan Tingkat Keganasan
Pes paru dikenal sebagai salah satu penyakit menular paling ganas yang pernah tercatat dalam sejarah kesehatan manusia. Pada bentuk paru, tingkat kematian dapat mencapai hampir 100 persen jika tidak diobati sejak dini. Berbeda dengan pes bubo yang memiliki angka kematian lebih rendah, pes paru dapat berkembang dengan cepat, dalam hitungan jam hingga beberapa hari, dan menyebabkan gagal napas.
Wabah pes paru pernah dilaporkan di Manchuria pada awal abad ke-20, dengan korban puluhan ribu jiwa. Peristiwa itu menjadi salah satu rujukan penting dalam literatur epidemiologi karena menunjukkan kemampuan penyakit ini menyebar melalui udara, terutama di lingkungan padat dan tertutup.
Meski demikian, para ahli kesehatan masyarakat menegaskan bahwa konteks saat ini sangat berbeda dengan kondisi abad lalu. Penemuan antibiotik seperti streptomisin, gentamisin, doksisiklin, dan siprofloksasin membuat pes, termasuk pes paru, dapat diobati secara efektif bila terdeteksi lebih awal.
Kasus Modern dan Respons Otoritas Kesehatan
Dalam beberapa dekade terakhir, kasus pes paru masih dilaporkan secara sporadis di sejumlah negara, termasuk Tiongkok, Mongolia, Kirgistan, dan Amerika Serikat. Kasus di Amerika Serikat umumnya terkait dengan pes bubo, tetapi bentuk paru juga pernah tercatat. Otoritas kesehatan di berbagai negara biasanya bergerak cepat melakukan isolasi, pelacakan kontak, dan pemberian antibiotik profilaksis kepada orang-orang yang berisiko tertular.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan pes sebagai penyakit yang dapat menimbulkan kekhawatiran internasional, namun bukan ancaman pandemi seperti influenza atau virus corona baru. Penularan pes paru relatif lebih mudah dikendalikan karena memerlukan kontak erat dan tidak menyebar secara luas tanpa gejala.
Faktor Risiko dan Pencegahan
Faktor risiko utama pes paru meliputi kontak dengan hewan pengerat yang terinfeksi, terutama di daerah endemik, serta tinggal di lingkungan yang padat dan kurang ventilasi. Petugas kesehatan yang menangani pasien tanpa alat pelindung diri juga berisiko tinggi. Karena itu, protokol pengendalian infeksi tetap menjadi kunci.
Pencegahan mencakup pengendalian populasi hewan pengerat, penggunaan insektisida untuk mengendalikan kutu, serta edukasi masyarakat di daerah endemik agar tidak menangani bangkai hewan liar tanpa pelindung. Vaksin pes pernah dikembangkan, tetapi penggunaannya terbatas pada kelompok berisiko tinggi dan tidak tersedia secara luas.
Seberapa Berbahaya bagi Masyarakat Luas
Bagi masyarakat umum yang tinggal jauh dari daerah endemik, risiko pes paru sangat kecil. Penyakit ini tidak menyebar secara sembunyi-sembunyi seperti COVID-19 pada fase awal. Gejalanya biasanya muncul cepat dan jelas, sehingga memudahkan deteksi dini. Selain itu, rantai penularan dapat diputus dengan antibiotik dan isolasi.
Namun, pernyataan seorang tokoh yang menyebut penyakit ini tetap perlu disikapi secara proporsional. Kewaspadaan tanpa kepanikan adalah pendekatan yang dianjurkan para ahli. Artinya, masyarakat tidak perlu menganggapnya sebagai ancaman pandemi baru, tetapi otoritas kesehatan tetap harus memiliki sistem surveilans yang kuat, terutama di wilayah endemik.
Pes paru Siberia bukan penyakit baru. Ia adalah bagian dari sejarah panjang interaksi manusia dengan mikroba yang hidup di alam liar. Kemunculannya kembali dalam diskusi publik lebih banyak berkaitan dengan konteks sosial dan politik, bukan perubahan mendadak pada sifat bakteri itu sendiri. Dengan pengobatan yang tepat dan kewaspadaan yang terukur, penyakit ini dapat dikendalikan.
Komentar (0)