29, 2026
Teknologi

5 Makanan yang Disukai Sel Kanker, Banyak Dikonsumsi Warga RI

Kanker disebabkan oleh sel abnormal. Akrilamida, zat kimia dalam makanan, dapat meningkatkan risiko kanker.]]>

Kirana Wijaya
Kirana Wijaya Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

5 Makanan yang Disukai Sel Kanker, Banyak Dikonsumsi Warga RI

5 Makanan yang Disukai Sel Kanker, Banyak Dikonsumsi Warga RI

Penelitian terbaru dalam bidang onkologi gizi menyoroti lima jenis makanan yang menjadi sumber energi utama bagi sel kanker. Temuan ini mengkhawatirkan mengingat makanan-makanan tersebut merupakan bagian dari pola makan sehari-hari masyarakat Indonesia. Para ahli menegaskan bahwa mengurani konsumsi makanan ini dapat membantu menghambat pertumbuhan tumor dan memperkuat sistem kekebalan tubuh pasien kanker.

Gula dan Pemanis Buatan

Gula merupakan sumber energi utama bagi sel kanker. Menurut Dr. Siti Rahayu, spesisi onkologi dari RS Dharmais, "Sel kanker memiliki metabolisme gula yang sangat tinggi, sehingga mereka memanfaatkan glukosa dengan cara yang berbeda dibandingkan sel normal." Gula terdapat dalam berbagai bentuk, mulai dari gula pasir, sirup, hingga pemanis buatan seperti aspartame dan sukralosa. Masyarakat Indonesia yang gemar minum minuman manis, makanan olahan, dan kue-kue berpotensi memberikan pasokan energi berlimpah bagi pertumbuhan tumor. Para peneliti menyarankan untuk mengurani konsumsi gula hingga maksimal 25 gram per hari dan menghindari minuman bersoda serta makanan manufaktur.

Daging Olahan

Daging olahan seperti sosis, bakso, sosis, dan ham menjadi makanan favorit bagi masyarakat Indonesia karena kemudahan akses dan harga terjangkau. Namun, makanan ini mengandung nitrat dan nitrit yang dapat berubah menjadi nitrosamin dalam tubuh. Senyawa ini telah terbukti memicu perkembangan kanker, terutama kanker kolorektal. Prof. Dr. Budiawan, dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, menjelaskan, "Penelitian menunjukkan konsumsi daging olahan secara rutin meningkatkan risiko kanker usus besar hingga 18%." Para ahli merekomendasikan untuk membatasi konsumsi daging olahan hingga maksimal dua kali seminggu dan lebih memilih daging segar.

Makanan Gorengan

Gorengan menjadi camilan favorit di hampir setiap sudut Indonesia. Meski lezat, makanan yang digoreng dengan suhu tinggi dan berulang kali mengandung senyawa akrilamida yang berpotensi karsinogen. Akrilamida terbentuk saat karbohidrat dalam makanan mengalami reaksi Maillard pada suhu tinggi. "Studi laboratorium menunjukkan akrilamida dapat merusak DNA sel dan memicu perkembangan tumor," ujar Dr. Ratna Sari, ahli gizi klinikal. Para peneliti menyarankan untuk mengurani frekuensi mengonsumsi gorengan dan lebih memilih metode memasak seperti direbus, dikukus, atau dipanggang.

Makanan Olahan Tinggi Lemak Trans

Makanan cepat saji seperti burger, pizza, dan makanan kaleng sering mengandung lemak trans yang berbahaya. Lemak trans meningkatkan peradangan dalam tubuh dan mempercepat pertumbuhan sel kanker. "Lemak trans menekan sistem kekebalan tubuh sehingga sulit bagi tubuh untuk melawan sel kanker," jelas Dr. Ahmad Fauzi, peneliti gizi dari IPB University. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan konsumsi makanan cepat saji di Indonesia meningkat 40% dalam lima tahun terakhir, yang menjadi kekhawatiran tersendiri bagi peningkatan insiden kanker.

Makanan Asing dan Aromatisasi Buatan

Bahan pengawet, pewarna, dan pengaroma buatan yang umumnya terdapat dalam makanan kaleng dan makanan instan dapat memicu kerusakan sel. Para ahli menemukan bahwa bahan kimia seperti BHA, BHT, dan propil gallat dapat mempengaruhi apoptosis (kematian sel) sel kanker. "Makanan dengan bahan tambah sintetis sebaiknya dihindari, terutama bagi pasien kanker," tambah Dr. Siti Rahayu. Masyarakat Indonesia yang semakin tinggi konsumsi makanan instan dan makanan kaleng perlu waspada akan dampak jangka panjangnya bagi kesehatan.

Para ahli menekankan pentingnya pola makan sehat yang seimbang untuk mencegah kanker. Mengurani konsumsi lima makanan ini dan meningkatkan asupan sayur-mayur, buah-buahan, biji-bijian, dan protein nabati dapat membantu mengurani risiko kanker. "Perubahan pola makan menjadi langkah preventif yang efektif dan murah dibandingkan biaya pengobatan kanker," tutup Prof. Dr. Budiawan.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Kirana Wijaya

Penulis lepas yang menulis tentang startup, teknologi, dan ekosistem digital Indonesia.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter