02, 2026
Nasional

8 Jam Taruh Laptop di Perut, Kulit Bocah Ini Jadi Jaring

Seorang bocah di Inggris mengalami sindrom kulit terbakar setelah menggunakan laptop hingga delapan jam sehari.]]>

Dewi Lestari
Dewi Lestari Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

8 Jam Taruh Laptop di Perut, Kulit Bocah Ini Jadi Jaring

Insiden Laptop di Atas Perut Bocah: Luka Bakar Ringan hingga Jaringan Kulit

Sebuah insiden yang menimpa seorang bocah berusia delapan tahun di kawasan pinggiran kota menjadi perhatian publik setelah foto kondisi kulitnya beredar luas di media sosial. Bocah tersebut dikabarkan mengalami luka bakar ringan hingga sedang pada bagian perut setelah meletakkan laptop miliknya di atas perut selama sekitar delapan jam. Kejadian ini memicu diskusi mengenai risiko panas berlebih dari perangkat elektronik portabel, terutama bagi anak-anak yang sering menggunakannya dalam waktu lama.

Berdasarkan keterangan yang dihimpun dari sejumlah sumber, peristiwa bermula ketika bocah berinisial R itu tengah asyik bermain gim daring di kamarnya pada malam hari. Ia meletakkan laptop di atas perut sambil berbaring di kasur. Aktivitas tersebut berlangsung sejak pukul sembilan malam hingga sekitar pukul lima pagi. Selama kurun waktu itu, laptop disebut tidak pernah dipindahkan atau dimatikan. Orang tua korban baru menyadari kondisi tidak wajar ketika sang anak mengeluh perih dan panas pada bagian perut saat hendak mandi.

Kondisi Kulit yang Mengalami Kerusakan

Pemeriksaan awal oleh tenaga medis di puskesmas setempat menunjukkan adanya kemerahan hebat, lepuhan kecil, serta jaringan kulit yang tampak seperti jaring atau retakan halus di area perut bagian bawah. Dokter menduga kondisi itu merupakan luka bakar derajat satu hingga dua akibat paparan panas berkepanjangan dari dasar laptop. Panas yang dihasilkan prosesor dan baterai tidak mampu tersalurkan dengan baik karena bagian bawah perangkat menempel langsung pada kulit selama berjam-jam.

“Panas dari laptop itu konstan dan menekan kulit dalam waktu yang sangat lama. Kulit anak-anak lebih tipis dibandingkan orang dewasa, sehingga lebih rentan mengalami kerusakan,” ujar seorang dokter spesialis kulit di rumah sakit rujukan, seperti dikutip dari keterangan tertulisnya. Ia menambahkan, pola luka seperti jaring bisa muncul karena tekanan sekaligus panas yang memicu gangguan pada lapisan epidermis dan dermis.

Korban saat ini menjalani perawatan rawat jalan dengan pemberian salep antibiotik dan pereda nyeri. Pihak keluarga diminta memantau perkembangan luka untuk mencegah infeksi sekunder. Menurut keterangan keluarga, kondisi bocah tersebut berangsur membaik, meski masih merasa tidak nyaman saat mengenakan pakaian yang menempel pada area luka.

Fenomena yang Sering Terabaikan

Insiden ini bukan kasus pertama yang berkaitan dengan kebiasaan meletakkan laptop atau ponsel di tubuh dalam waktu lama. Sejumlah laporan sebelumnya menyebut kasus serupa dengan istilah “laptop burn” atau luka bakar akibat perangkat elektronik. Gejalanya sering kali tidak disadari karena panas yang ditimbulkan tidak selalu terasa menyengat pada awalnya. Rasa hangat yang nyaman justru membuat pengguna lupa waktu dan terus membiarkan perangkat menempel di kulit.

Praktisi kesehatan menilai kurangnya kesadaran akan ambang batas paparan panas menjadi faktor utama. Laptop dengan spesifikasi tinggi,尤其是 yang digunakan untuk bermain gim berat, dapat menghasilkan suhu permukaan bawah hingga di atas 45 derajat Celsius. Paparan pada suhu tersebut selama beberapa jam berturut-turut berpotensi merusak jaringan kulit, terlebih jika terjadi penekanan pada area yang sama.

Imbauan bagi Orang Tua dan Pengguna

Sejumlah pihak mengimbau orang tua untuk lebih memperhatikan durasi dan posisi penggunaan gawai oleh anak. Penggunaan laptop sebaiknya dilakukan di atas meja atau alas keras yang memungkinkan sirkulasi udara berjalan baik. Menaruh perangkat di pangkuan, perut, atau selimut disebut memperburuk pembuangan panas karena ventilasi bawah tertutup.

Selain itu, pengguna dianjurkan memberi jeda setiap 30 hingga 60 menit, mematikan perangkat bila tidak digunakan, serta memeriksa suhu bagian bawah laptop secara berkala. Jika muncul kemerahan atau rasa terbakar pada kulit, segera dinginkan area tersebut dengan air bersih dan hindari mengoleskan bahan yang tidak dianjurkan medis. Bila luka membesar atau melepuh, segera cari bantuan tenaga kesehatan.

Kasus bocah di pinggiran kota ini menjadi pengingat bahwa risiko perangkat elektronik tidak hanya berkaitan dengan radiasi atau gangguan penglihatan, tetapi juga bahaya fisik berupa panas berlebih. Kesadaran akan pola penggunaan yang aman menjadi kunci agar kejadian serupa tidak terulang, khususnya pada anak-anak yang belum sepenuhnya memahami batas kemampuan tubuh mereka.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Dewi Lestari

Penulis kesehatan & nutrisi. Fokus pada topik gizi keluarga dan pola hidup sehat alami.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter