80 Ton Garam Ditebar di Langit Riau, Bagaimana Kondisi Karhutla Sekarang?
Pemerintah terus melakukan berbagai upaya untuk menangani kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau. Salah satu tindakan yang dilakukan adalah penyebaran garam hingga mencapai 80 ton untuk memicu hujan buatan atau hujan semprot. Program ini dilaksanakan dalam rangka mengatuti kondisi kualitas udara yang semakin buruk di beberapa wilayah di Riau akibat kabut asap tebal.
Upaya Pemerintah Mengatasi Karhutla
Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Riau bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah melaksanakan operasi hujan buatan sejak beberapa pekan terakhir. Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Riau, Edy Sofyan, mengatakan bahwa penyebaran garam ini merupakan bagian dari serangkaian upaya untuk memadamkan titik api dan mengurangi intensitas kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah di provinsi tersebut.
"Kita sudah melakukan penyebaran garam sebanyak 80 ton selama operasi hujan buatan berlangsung. Garam ini disebar di atas area yang terdapat titik api dan wilayah yang rawan kabut asap," ujar Edy saat dihubungi, Jumat (15/9/2023).
Menurutnya, penyebaran garam bertujuan untuk meningkatkan aktivitas presipitasi di udara. Partikel-partikel garam berfungsi sebagai inti kondensasi yang memicu terbentuknya tetesan air hujan. Dengan adanya hujan, diharapkan kebakaran di lahan dan hutan dapat padam serta kualitas udara dapat membaik.
Kondisi Terkini Karhutla di Riau
Sejak beberapa bulan terakhir, Riau kembali diguncang oleh musim kemarau yang berkepanjangan. Kondisi ini memicu terjadinya banyak kebakaran hutan dan lahan yang menyebabkan kabut asap tebal. Hingga saat ini, masih ada beberapa titik api aktif yang tersebar di beberapa kabupaten dan kota di Riau, seperti Kabupaten Kampar, Pelalawan, dan Dumai.
Berdasarkan data dari Satuan Tugas Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan Riau, jumlah titik api aktif per Sabtu (16/9/2023) mencapai 25 titik. Dari jumlah tersebut, 15 titik berada di area hutan dan 10 titik di area lahan. Kebakaran di lahan mayoritas disebabkan oleh aktivitas pembukaan lahan secara ilegal menggunakan cara dibakar.
Kondisi kualitas udara di beberapa wilayah di Riau juga terus memburuk. Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di beberapa titik monitoring mencapai angka 300-an yang berada dalam kategori tidak sehat. Kabupaten Pelalawan dan Kampar menjadi dua wilayah dengan kualitas udara terburuk di Riau saat ini.
"Kita mohon masyarakat untuk tetap waspada. Kualitas udara di beberapa wilayah masih dalam kategori tidak sehat. Hindari kegiatan di luar ruangan jika memungkinkan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan mereka yang memiliki penyakit kronis," kata Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Karhutla Riau, Riko.
Dampak bagi Kesehatan dan Aktivitas Masyarakat
Kabut asap tebal yang berlangsung cukup lama memberikan dampak signifikan bagi kesehatan masyarakat. Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Arifin Ahmad di Pekanbaru melaporkan peningkatan pasien dengan keluhan gangguan pernafasan sejak seminggu terakhir. Klinik-klinik swasta juga melaporkan hal serupa.
"Kami menerima pasien dengan keluhan batuk, sesak napas, iritasi mata, dan sakit tenggorokan. Mayoritas adalah anak-anak dan lanjut usia. Jumlah pasien meningkat sekitar 30-40% dibandingkan kondisi normal," kata Kepala RSUD Arifin Ahmad, dr. Ahmad Fauzi.
Selain dampak kesehatan, kabut asap juga mengganggu aktivitas ekonomi dan transportasi. Beberapa penerbangan dari dan ke Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru sempat terganggu karena visibilitas yang menurun. Aktivitas perikanan di beberapa wilayah juga terhambat akibat kondisi cuaca yang berkabut.
Masa Depan Penanganan Karhutla
Pemerintah Provinsi Riau bersama pemerintah pusat berkomitmen untuk menangani karhutla secara komprehensif. Selain operasi hujan buatan, pihak juga melakukan patroli dan pemadaman api secara masif. Tidak ketinggalan, pencegahan juga menjadi fokus utama dengan melakukan sosialisasi dan penegakan hukum terhadap pelaku pembukaan lahan dengan cara dibakar.
"Kami akan terus melakukan berbagai upaya untuk mengatasi karhutla. Tapi yang paling penting adalah kesadaran semua pihak untuk menjaga lingkungan. Jangan membakar hutan dan lahan karena dampaknya sangat luas," kata Gubernur Riau, Syamsuar.
Dengan berbagai upaya yang dilakukan, diharapkan kondisi karhutla di Riau dapat segera mereda. Pemerintah terus memantau perkembangan cuaca dan kondisi kebakaran untuk segera mengambil langkah-langkah antisipatif jika diperlukan.
Komentar (0)