30, 2026
Ekonomi

Abu Anak Krakatau Bikin Masker Langka, Pramono: Jangan Mainkan Harga

Intan Kusuma
Intan Kusuma Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 1 dibaca

Abu Anak Krakatau Menyebabkan Kekurangan Masker, Menteri Pramono Minta Jadi Perhatian Bersama

Erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi pada akhir tahun 2018 lalu masih memberikan dampak signifikan hingga berbulan-bulan kemudian. Salah satu dampak yang tidak terduga adalah kekurangan pasokan masker di berbagai daerah, terutama di wilayah Jawa dan Sumatera. Abu vulkanis yang tersebar luas menyebabkan meningkatnya permintaan masker sebagai alat pelindung pernafasan, yang pada gilirannya menciptakan kelangkaan pasokan di pasaran.

Dampab Abu Vulkanis Tersebar Luas

Erupsi Gunung Anak Krakatau pada 22 Desember 2018 menghasilkan kolom abu vulkanis yang mencapai ketinggian hampir 500 meter di atas permukaan laut. Abu ini kemudian menyebar luas hingga ke berbagai wilayah di Indonesia, bahkan sampai ke sebagian wilayah Asia Tenggara. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), partikel abu vulkanis ini masih terdeteksi hingga berbulan-bulan setelah erupsi terjadi.

Kondisi ini menyebabkan peningkatan signifikan dalam permintaan masker di berbagai daerah. Masyarakat khawatir akan dampab kesehatan akibat menghirup partikel abu yang dapat mengiritasi saluran pernafasan. Keluhan batuk, bersin, dan gangguan pernafasan lainnya menjadi semakin umum, sehingga banyak warga mencari masker sebagai proteksi diri.

Kekurangan Masker di Pasaran

Lonjakan permintaan masker yang tidak diimbangi dengan pasokan yang memadai menyebabkan kelangkaan di berapot toko obat dan supermarket. Beberapa daerah melaporkan stok masker habis dalam hitungan jam setelah pengumuman tentang penyebaran abu vulkanis. Harga masker juga mengalami kenaikan drastis di beberapa tempat, mencapai tiga kali lipat dari harga normal.

Ketua Asosiasi Produsen Masker Indonesia (APMI) mengatakan bahwa industri masker tidak mampu memenuhi lonjakan permintaan secara mendadak. "Kapasitas produksi kami biasanya dirancang untuk kebutuhan rutin sekitar 2 juta masker per hari. Namun permintaan saat ini mencapai 5-6 juta masker per hari, jelas tidak bisa dipenuhi," ujarnya.

Respon Pemerintah dan Menteri Pramono

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, menginstruksikan Kementerian Kesehatan dan Kementerian Perindustrian untuk memastikan ketersediaan masker bagi masyarakat. "Kita harus memastikan kebutuhan dasar terpenuhi, terutama untuk masyarakat yang tinggal di daerah yang terdampab abu vulkanis," kata Luhut.

Sementara itu, Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Pramono Anung turun tangan untuk mengatasi masalah ini. Pramono meminta agar tidak ada praktik spekulasi harga masker selama situasi darurat ini. "Jangan mainkan harga. Masker adalah kebutuhan vital, jadi harus tersedia dengan harga terjangkau untuk semua masyarakat," tegas Pramono dalam konferensi pers yang diselenggarakan di Jakarta.

Langkah-langkah yang Diambil

Kementerian Perindustrian mengaku telah mengoptimalkan produksi masker dengan meminta pabrik-pabrik untuk meningkatkan jam operasional. "Kita juga telah mengimpor masker dari luar negeri untuk memenuhi kekurangan sementara," kata Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Laemadjid.

Selain itu, pemerintah juga membuka program distribusi masker secara gratis untuk masyarakat berpenghasilan rendah dan keluarga tidak mampu. Program ini bekerjasama dengan pemerintah daerah dan organisasi kemasyarakatan untuk memastikan distribusi yang merata.

Masyarakat Diminta Tetap Tenang

Pihak berwenang meminta masyarakat untuk tetap tenang dan tidak panik dalam menghadapi kelangkaan masker. "Kami sedang berupaya maksimal untuk memenuhi kebutuhan masker. Kami juga menyarankan masyarakat untuk menggunakan masker yang dapat dibersihkan ulang atau menggunakan kain penutup wajah sebagai alternatif sementara," jelas juru bicara Kementerian Kesehatan.

Erupsi Gunung Anak Krakatau mengingatkan akan pentingnya persiapan menghadapi bencana alam. Kekurangan masker yang terjadi menunjukkan adanya kebutuhan akan sistem logistik yang lebih tangguh dalam penanganan darurat bencana. Pemerintah berjanji akan mengevaluasi respons yang diberikan dan mempersiapkan langkah-langkah preventif untuk menghadapi bencana serupa di masa depan.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Intan Kusuma

Kontributor rubrik data dan visualisasi angka penting.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter