24, 2026
Nasional

AFC Disebut Konfederasi Terburuk, Romain Molina Singgung Dugaan Skandal Pelecehan Seksual hingga Pemerasan

<img src="https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2026/09/17/6aaba327462d4-logo-afc_gemini_665_374.jpg" align="left" hspace="7" width="100" />

Mira Permata
Mira Permata Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

AFC Disebut Konfederasi Terburuk, Romain Molina Singgung Dugaan Skandal Pelecehan Seksual hingga Pemerasan

Sebuah kritikan keras ditujukan kepada Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) oleh jurnalis investigasi Romain Molina. Ia menyebut AFC sebagai konfederasi sepak bola terburuk di dunia dengan menyebutkan berbagai dugaan skandal yang melingkupi organisasi tersebut. Dalam keterangannya, Molina menyinggung dugaan pelecehan seksual, pemerasan, serta praktik-praktik buruk lainnya yang diduga terjadi dalam internal AFC.

Molina, yang dikenal karena laporannya tajam dalam dunia sepak bola, mengungkapkan kritiknya melalui akun media sosialnya. Ia menyatakan bahwa AFC telah menjadi konfederasi dengan masalah terbanyak dibandingkan enam konfederasi sepak bola dunia lainnya. Menurutnya, AFC telah gagal dalam mengelola sepak bola di benua Asia dengan baik dan benar.

Dugaan Skandal Pelecehan Seksual

Salah satu isu utama yang dikeluarkan Molina adalah dugaan adanya praktik pelecehan seksual dalam internal AFC. Ia menyebutkan bahwa ada beberapa pejabat tinggi di AFC yang diduga terlibat dalam kasus pelecehan seksual terhadap staf atau orang terkait dengan organisasi.

Dalam pernyataannya, Molina mengklaim bahwa AFC telah gagal menangani kasus-kasus pelecehan seksual dengan serius. Ia menyoroti bahwa konfederasi ini cenderung menutupi masalah daripada menyelesaikannya secara transparan. Situasi ini menurutnya telah menciptakan lingkungan yang tidak aman bagi korban dan para pelapor.

Dugaan serupa pernah muncul beberapa waktu lalu ketika se mantan pejabat AFC mengungkap adanya budaya kerja yang tidak sehat di dalam organisasi. Ia menyebutkan bahwa beberapa pejabat senior sering menggunakan kekuasaan mereka untuk menekan staf junior, termasuk dalam hal perilaku tidak pantas.

Kasus Pemerasan dan Korupsi

Selain dugaan pelecehan seksual, Molina juga menyebutkan adanya praktik pemerasan dalam internal AFC. Ia mengklaim bahwa beberapa keputusan penting dalam konfederasi ini sering kali dipengaruhi oleh imbalan finansial atau tekanan dari pihak-pihak tertentu.

Kritikan ini muncul tidak lama setelah beberapa kasus korupsi dalam sepak bola Asia terungkap. Beberapa mantan pejabat AFC telah ditangkap karena diduga terlibat dalam skaling korupsi yang merugikan organisasi. Kasus-kasus ini menunjukkan adanya masalah struktural dalam tata kelola AFC.

Molina juga menyoroti bahwa AFC sering kali memberikan sanksi yang tidak sebanding dengan pelanggaran yang dilakukan. Ia membandingkan dengan konfederasi lain yang cenderung memberikan sanksi lebih tegas bagi pelanggar etik dan kode etik organisasi.

Reaksi dari Pihak Terkait

Kritikan tajam dari Molina ini tentunya menimbulkan reaksi dari berbagai pihak. Beberapa analis sepak bola menyatakan setuju dengan pandangan Molina, mengingat sejarah AFC yang penuh dengan kontroversi.

Seorang mantan pejabat AFC yang memilih anonim mengungkapkan bahwa ada benarnya masalah dalam kepengurusan konfederasi. Ia menambahkan bahwa budaya ketakutan dan ketidakjelasan dalam pengambilan keputusan telah menjadi masalah kronis di AFC.

Sementara itu, pihak AFC belum memberikan respons resmi mengenai kritikan dari Molina. Namun, dalam beberapa kesempatan sebelumnya, AFC telah menyatakan komitmennya untuk meningkatkan tata kelola dan transparansi dalam organisasi mereka.

Masa Depan Sepak Bola Asia

Dengan kritikan semakin keras yang ditujukan kepada AFC, pertanyaan tentang masa depan sepak bola Asia muncul. Banyak pihak berharap agar ada perubahan fundamental dalam cara AFC mengelola sepak bola di benua ini.

Beberapa reformator di dalam AFC sendiri telah memulai gerakan untuk mengubah cara kerja organisasi. Mereka menyerukan adanya transparansi lebih dalam pengambilan keputusan, sistem pengadilan internal yang adil, serta perlindungan yang lebih baik bagi para pelapor dan korban.

Kritikan dari Molina dan para aktivis lainnya mungkin menjadi pemicu perubahan nyata dalam AFC. Namun, perubahan tersebut membutuhkan komitmen kuat dari seluruh pihak, terutama dari pemimpin konfederasi yang saat ini menjabat.

Bagi para pecinta sepak bola Asia, harapan agar AFC dapat menjadi konfederasi yang lebih baik dan transparansi masih tetap ada. Dengan adanya sorotan internasional semakin tajam, tekanan untuk melakukan reformasi di AFC akan semakin besar, dan mungkin inilah saat yang tepat untuk perubahan.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Mira Permata

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter