04, 2026
Teknologi

AI Makin Marak di Indonesia, Tapi 83% Perusahaan Masih Terganjal Silo Data

Investasi AI di Indonesia meningkat, namun tantangan seperti silo data dan kualitas data menghambat skala operasional. Simak fondasi yang harus dilakukan.]]>

Eko Wibowo
Eko Wibowo Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

AI Makin Marak di Indonesia, Tapi 83% Perusahaan Masih Terganjal Silo Data

Adopsi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di Indonesia terus menunjukkan tren peningkatan yang signifikan. Berbagai sektor industri, mulai dari perbankan, ritel, manufaktur, hingga layanan kesehatan, mulai mengintegrasikan teknologi ini ke dalam operasional mereka untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing. Namun, di balik geliat tersebut, sebuah tantangan mendasar masih menjadi penghambat utama: fragmentasi data atau yang lebih dikenal dengan istilah silo data.

Berdasarkan laporan terbaru mengenai kesiapan data di kawasan Asia Tenggara, sekitar 83 persen perusahaan di Indonesia mengaku masih mengalami kesulitan dalam mengimplementasikan AI secara optimal. Kendala utamanya bukan terletak pada ketersediaan algoritma atau tenaga ahli, melainkan pada struktur data internal yang terpecah-pecah antar departemen. Data pelanggan, data operasional, dan data keuangan sering kali tersimpan dalam sistem yang berbeda dan tidak saling terhubung, sehingga menyulitkan proses pelatihan model AI yang akurat.

Dampak Silo Data terhadap Kinerja AI

Silo data terjadi ketika satu unit bisnis atau departemen menyimpan data mereka sendiri tanpa berbagi atau mengintegrasikannya dengan unit lain. Dalam konteks perusahaan modern, kondisi ini menciptakan apa yang disebut sebagai "pulau-pulau data" yang tidak dapat diakses secara menyeluruh oleh sistem AI. Akibatnya, model AI yang dikembangkan hanya mampu memberikan wawasan parsial, bukan gambaran utuh yang dibutuhkan untuk pengambilan keputusan strategis.

Seorang analis teknologi enterprise menjelaskan bahwa AI membutuhkan data dalam jumlah besar, bervariasi, dan yang terpenting, terintegrasi. Ketika data terkunci di dalam silo, kualitas keluaran AI akan menurun drastis. Misalnya, sebuah bank yang ingin menggunakan AI untuk penilaian kredit yang lebih presisi memerlukan data transaksi, data demografi, dan riwayat kredit yang tersebar di berbagai divisi. Jika data tersebut tidak disatukan, AI berisiko menghasilkan keputusan yang bias atau tidak akurat.

Selain itu, silo data juga memperlambat siklus inovasi. Tim pengembang AI harus menghabiskan waktu berbulan-bulan hanya untuk melakukan rekonsiliasi data dari berbagai sumber sebelum benar-benar dapat membangun model yang berguna. Ini menciptakan inefisiensi yang signifikan dan meningkatkan biaya pengembangan.

Faktor Penyebab dan Resistensi Internal

Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan silo data tetap bertahan di banyak perusahaan Indonesia. Pertama, adanya budaya organisasi yang bersifat teritorial. Setiap departemen merasa memiliki datanya sendiri dan enggan berbagi karena kekhawatiran akan kehilangan kendali atau relevansi. Kedua, keterbatasan infrastruktur teknologi. Banyak perusahaan masih menggunakan sistem warisan atau legacy systems yang tidak kompatibel dengan platform data modern.

Ketiga, kurangnya tata kelola data yang terpusat. Tanpa kerangka kerja yang jelas mengenai kepemilikan, akses, dan standar kualitas data, upaya integrasi akan berjalan tanpa arah. Keempat, kekhawatiran terkait keamanan dan privasi. Peraturan Perlindungan Data Pribadi yang mulai diterapkan di Indonesia memang penting, namun sering kali ditafsirkan secara berlebihan sehingga menghambat aliran data antar divisi yang sebenarnya sah dilakukan.

Survei menunjukkan bahwa hanya sekitar 17 persen perusahaan di Indonesia yang menganggap infrastruktur data mereka sudah siap untuk mendukung inisiatif AI secara menyeluruh. Sisanya masih bergulat dengan proses pembersihan, penggabungan, dan standardisasi data yang tersebar.

Langkah Strategis Mengatasi Fragmentasi Data

Untuk mengatasi masalah ini, para pakar merekomendasikan beberapa langkah strategis. Pertama, perusahaan perlu membangun data lakehouse atau platform data terpusat yang mampu menampung data terstruktur dan tidak terstruktur dari berbagai sumber. Platform ini harus dilengkapi dengan mekanisme tata kelola yang kuat namun tetap fleksibel.

Kedua, perubahan budaya organisasi menjadi keniscayaan. Manajemen puncak harus mendorong budaya berbagi data dengan menetapkan kebijakan yang jelas, memberikan insentif bagi kolaborasi antar departemen, dan mencontohkan penggunaan data secara lintas fungsi. Ketiga, investasi pada talenta data juga tidak kalah penting. Perusahaan membutuhkan data stewards dan data engineers yang mampu mengelola integrasi data sehari-hari.

Keempat, adopsi standar interoperabilitas. Dengan menggunakan format data dan API yang terbuka, perusahaan dapat mengurangi ketergantungan pada vendor tertentu dan mempermudah integrasi di masa depan. Kelima, pendekatan bertahap. Alih-alih mencoba menyatukan semua data sekaligus, perusahaan dapat memulai dari domain yang paling kritis, seperti data pelanggan, lalu memperluas cakupannya secara bertahap.

Prospek ke Depan

Meskipun tantangan silo data masih besar, prospek adopsi AI di Indonesia tetap cerah. Pemerintah melalui berbagai inisiatif transformasi digital terus mendorong industri untuk meningkatkan literasi data. Selain itu, semakin banyak penyedia layanan cloud yang menawarkan solusi integrasi data dengan biaya yang lebih terjangkau, membuka peluang bagi usaha kecil dan menengah untuk ikut serta.

Perusahaan yang mampu memecahkan masalah silo data diprediksi akan mendapatkan keunggulan kompetitif yang signifikan. Mereka dapat mengoperasikan AI dengan lebih akurat, mengambil keputusan berbasis data secara real-time, dan menciptakan produk atau layanan yang lebih personal. Sebaliknya, perusahaan yang gagal beradaptasi berisiko tertinggal dalam perlombaan digital yang semakin ketat.

Dengan demikian, meskipun AI semakin marak di Indonesia, keberhasilannya sangat bergantung pada kesiapan perusahaan dalam membongkar sekat-sekat data internal. Tanpa itu, investasi besar pada teknologi AI berpotensi hanya menjadi biaya tanpa hasil yang optimal.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Eko Wibowo

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter