04, 2026
Teknologi

Pramono Segera Putuskan Penerapan Ganjil-Genap di Jl Gajah Mada-Kota Tua

Gubernur DKI Jakarta Pramono mengkaji ulang penerapan ganjil-genap di Jalan Gajah Mada dan sekitarnya. Keputusan akan segera diambil usai evaluasi dilakukan.]]>

Lestari Maharani
Lestari Maharani Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Pramono Segera Putuskan Penerapan Ganjil-Genap di Jl Gajah Mada-Kota Tua

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung akan segera mengambil keputusan terkait penerapan kebijakan ganjil-genap di kawasan Jalan Gajah Mada hingga Kota Tua, Jakarta Barat. Keputusan tersebut diambil setelah Pemprov DKI Jakarta melakukan sejumlah kajian bersama instansi terkait, termasuk Dinas Perhubungan DKI Jakarta dan kepolisian, untuk menekan kepadatan lalu lintas di koridor barat ibu kota yang selama ini dikenal sebagai salah satu titik paling padat, terutama pada akhir pekan dan hari libur.

Kawasan Gajah Mada hingga Kota Tua memang memiliki karakteristik lalu lintas yang kompleks. Selain menjadi jalur utama penghubung menuju kawasan wisata Kota Tua, kawasan ini juga dilintasi kendaraan logistik, angkutan umum, serta kendaraan pribadi yang datang dari arah Jalan Hayam Wuruk, Mangga Besar, dan Glodok. Pada jam-jam tertentu, khususnya Sabtu dan Minggu, antrean kendaraan kerap memanjang hingga beberapa kilometer, terutama di sekitar kawasan wisata Kota Tua yang selalu ramai dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Kajian Pemprov DKI dan Dasar Pertimbangan

Pemprov DKI Jakarta menilai penerapan ganjil-genap di kawasan ini perlu dipertimbangkan secara matang. Kebijakan ini bukan hal baru bagi Jakarta, sebab ganjil-genap sudah diterapkan di sejumlah ruas jalan protokol, seperti Jalan Sudirman, Jalan Thamrin, dan beberapa ruas jalan lain di kawasan pusat bisnis. Namun, memperluas kebijakan tersebut ke kawasan Gajah Mada–Kota Tua memiliki tantangan tersendiri karena kawasan ini bukan hanya jalur lintas, melainkan juga area ekonomi dan wisata yang melibatkan banyak pelaku usaha, pedagang kaki lima, serta kawasan cagar budaya.

Menurut keterangan Pemprov DKI, hasil kajian sementara menunjukkan bahwa ganjil-genap berpotensi mengurangi volume kendaraan pribadi hingga kisaran 20 sampai 30 persen pada jam-jam sibuk. Angka tersebut dianggap signifikan untuk memperlancar arus lalu lintas sekaligus mengurangi emisi gas buang di kawasan yang masuk dalam kawasan pengendalian pencemaran udara. Meski demikian, Pemprov juga menekankan pentingnya penyediaan angkutan umum yang memadai sebelum kebijakan diberlakukan secara penuh.

Respons Berbagai Pihak

Rencana ini mendapat tanggapan beragam dari masyarakat dan pelaku usaha. Sebagian warga menyambut baik karena berharap kemacetan di kawasan Kota Tua berkurang, terutama pada akhir pekan. Mereka menilai ganjil-genap bisa mendorong lebih banyak orang menggunakan transportasi umum seperti TransJakarta, KRL, atau angkutan pengumpan yang menuju kawasan Kota Tua.

Namun, sejumlah pelaku usaha di sekitar Gajah Mada dan Kota Tua menyampaikan kekhawatiran. Mereka menilai pembatasan kendaraan pribadi berpotensi menurunkan jumlah pengunjung, terutama pelanggan yang datang menggunakan mobil pribadi. Kalangan pedagang juga meminta Pemprov mempertimbangkan dampak ekonomi sebelum kebijakan diterapkan, misalnya dengan menyiapkan kantong parkir di luar kawasan serta memperkuat layanan angkutan umum yang menghubungkan titik parkir dengan area wisata.

Pengamat transportasi menilai kebijakan ganjil-genap sebaiknya tidak berdiri sendiri. Menurut mereka, pembatasan kendaraan pribadi perlu disertai perbaikan layanan transportasi publik, penataan parkir di tepi jalan, serta penegakan hukum terhadap pelanggar aturan lalu lintas. Tanpa dukungan tersebut, dikhawatirkan kendaraan pribadi hanya akan berpindah mencari jalur alternatif dan menimbulkan kemacetan baru di ruas-ruas jalan sekitar.

Opsi Jadwal dan Skema Penerapan

Dinas Perhubungan DKI Jakarta menyiapkan sejumlah opsi terkait waktu penerapan. Salah satunya adalah memberlakukan ganjil-genap pada hari kerja dengan jam tertentu, serta opsi lain berupa penerapan khusus pada akhir pekan dan hari libur nasional ketika volume kunjungan ke Kota Tua melonjak. Pemerintah juga mempertimbangkan kemungkinan penerapan ganjil-genap terbatas pada kendaraan pribadi, sementara kendaraan angkutan umum, kendaraan logistik, dan kendaraan darurat tetap dikecualikan.

Selain ganjil-genap, Pemprov DKI tengah menyiapkan sejumlah langkah pendamping, antara lain penambahan armada TransJakarta pada rute menuju Kota Tua, penataan jalur pejalan kaki, serta pengaturan kembali titik parkir di kawasan Gajah Mada, Hayam Wuruk, dan Glodok. Langkah ini dinilai penting agar kebijakan tidak hanya memindahkan masalah kemacetan, tetapi benar-benar mengurangi beban lalu lintas di kawasan tersebut.

Waktu Keputusan dan Sosialisasi

Pramono Anung menyatakan keputusan akan diambil dalam waktu dekat setelah seluruh kajian dan masukan dari instansi terkait rampung. Ia menegaskan keputusan tersebut akan mempertimbangkan aspek mobilitas warga, keberlangsungan usaha, serta pelestarian kawasan Kota Tua sebagai cagar budaya dan destinasi wisata unggulan Jakarta.

Jika ganjil-genap disetujui, Pemprov DKI akan melakukan sosialisasi terlebih dahulu sebelum penindakan diberlakukan. Sosialisasi dinilai penting agar masyarakat memahami aturan, jadwal, ruas jalan yang terdampak, serta sanksi bagi pelanggar. Pemprov juga akan menyiapkan kanal informasi resmi untuk menjawab pertanyaan warga dan pelaku usaha selama masa peralihan.

Sejumlah pihak berharap kebijakan ini benar-benar didasarkan pada data lapangan yang mutakhir, bukan sekadar perluasan kebijakan serupa di ruas lain. Mereka menilai keberhasilan ganjil-genap di Gajah Mada–Kota Tua akan menjadi tolok ukur apakah kebijakan pembatasan kendaraan pribadi layak diperluas ke kawasan lain di Jakarta, khususnya kawasan wisata dan pusat perdagangan yang memiliki karakteristik serupa.

Terlepas dari pilihan yang diambil, publik menantikan kepastian jadwal dan skema penerapan. Keputusan yang transparan, berbasis kajian, dan disertai solusi transportasi publik yang memadai akan menjadi kunci agar kebijakan ganjil-genap di kawasan Gajah Mada hingga Kota Tua dapat diterima luas dan berjalan efektif.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Lestari Maharani

Kolumnis yang gemar mengupas isu perdagangan internasional dan rantai pasok.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter