Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) memilih tidak mengenakan almamater kuning kebanggaan kampus saat menggelar aksi demonstrasi di kawasan Tugu Tani, Jakarta Pusat. Keputusan itu bukan tanpa alasan. Sejumlah pertimbangan, mulai dari soal simbolik hingga aspek keamanan, disebut menjadi dasar mengapa atribut resmi kemahasiswaan itu sengaja ditinggalkan di rumah.
Dalam aksi jalanan, almamater biasanya menjadi penanda identitas paling mudah dikenali. Warna kuning yang khas, logo universitas, serta nama fakultas membuat peserta aksi langsung terhubung dengan institusi asalnya. Namun pada aksi di Tugu Tani, BEM UI memilih tampil tanpa atribut tersebut. Pilihan itu dinilai sebagai bagian dari strategi penyampaian pesan, bukan sekadar soal penampilan.
Almamater Dinilai sebagai Atribut Institusi, Bukan Alat Perjuangan
Alasan pertama yang dikemukakan adalah soal posisi almamater sebagai atribut resmi institusi pendidikan. Almamater melekat pada Universitas Indonesia sebagai lembaga, bukan pada mahasiswa sebagai individu warga negara. Ketika mahasiswa turun ke jalan untuk menyuarakan persoalan publik, kata BEM UI, substansi yang dibawa adalah kepentingan rakyat, bukan kepentingan kampus.
Karena itu, penggunaan almamater dikhawatirkan membuat pesan aksi menjadi kabur. Publik bisa membaca aksi tersebut sebagai sikap resmi sebuah universitas, padahal yang berbicara adalah organisasi mahasiswa yang berdiri sebagai bagian dari masyarakat sipil. Dengan tidak memakai almamater, BEM UI ingin menegaskan bahwa tuntutan yang disampaikan lahir dari kesadaran warga, bukan dari kepentingan institusi tertentu.
Pertimbangan lain adalah menjaga kampus tetap berada di luar arus kepentingan politik praktis. Universitas diharapkan menjadi ruang netral bagi semua pihak. Ketika almamater hadir dalam aksi yang bersinggungan dengan isu politik, risiko kampus terseret ke dalam pusaran konflik menjadi lebih besar. BEM UI menilai pemisahan antara simbol institusi dan sikap organisasi mahasiswa merupakan hal yang penting untuk dijaga.
Solidaritas dengan Warga dan Makna Simbolik Pakaian
Selain soal netralitas institusi, keputusan itu juga mengandung makna simbolik. Almamater kerap dipandang sebagai penanda keistimewaan, akses, dan posisi sosial tertentu. Dalam aksi di Tugu Tani, BEM UI ingin melebur bersama masyarakat biasa. Tanpa almamater, mahasiswa tampil sebagai bagian dari rakyat yang sama-sama merasakan dampak kebijakan publik.
Pandangan ini sejalan dengan tradisi gerakan mahasiswa yang menempatkan diri sebagai bagian dari kekuatan sosial. Pakaian sederhana, kaus, dan jaket biasa dipilih agar jarak antara peserta aksi dan warga yang menyaksikan tidak terlalu lebar. Pesan yang ingin disampaikan bukanlah superioritas akademik, melainkan kesetaraan dalam menghadapi persoalan bersama.
Pertimbangan Keamanan dan Risiko Hukum
Aspek keamanan juga disebut menjadi salah satu pertimbangan. Almamater memuat informasi yang cukup jelas mengenai identitas pemakainya, mulai dari nama universitas hingga fakultas. Dalam situasi aksi yang dinamis, keterbukaan identitas semacam itu dapat menimbulkan risiko bagi mahasiswa, baik risiko fisik maupun risiko hukum di kemudian hari.
BEM UI menilai perlindungan terhadap anggotanya perlu diperhitungkan tanpa mengorbankan substansi tuntutan. Dengan tidak memakai almamater, peserta aksi memiliki ruang yang lebih aman untuk menyampaikan pendapat di muka umum. Prinsip itu dipegang sejalan dengan jaminan kebebasan berekspresi dan menyampaikan pendapat yang diatur dalam konstitusi.
Meski demikian, BEM UI menegaskan bahwa pilihan tersebut tidak mengurangi legitimasi aksi. Identitas organisasi tetap dinyatakan secara terbuka melalui atribut lain, seperti spanduk, poster, dan pernyataan sikap resmi yang dibacakan di lokasi. Dengan begitu, publik tetap mengetahui siapa yang menyuarakan tuntutan tersebut.
Respons Publik dan Konteks Aksi Mahasiswa
Keputusan tidak memakai almamater mendapat perhatian dari berbagai kalangan. Sebagian menilai langkah itu sebagai bentuk kedewasaan berpolitik mahasiswa yang mampu memisahkan antara identitas kampus dan sikap organisasi. Sebagian lain mempertanyakan apakah almamater seharusnya tetap dipakai sebagai penanda kehormatan akademik dalam setiap aksi.
Perdebatan semacam ini bukan hal baru dalam sejarah gerakan mahasiswa di Indonesia. Almamater pernah menjadi simbol perlawanan, tetapi juga sering dipandang sebagai pembatas antara mahasiswa dan masyarakat. Setiap generasi aktivis kampus memiliki pertimbangan sendiri dalam memaknai atribut tersebut, bergantung pada konteks dan tujuan aksi yang dijalankan.
BEM UI memilih jalan tersendiri dengan melepas atribut itu di Tugu Tani. Pilihan tersebut dinyatakan sebagai hasil kesepakatan organisasi, bukan keputusan individual. Bagi BEM UI, yang paling penting adalah pesan yang sampai kepada publik dan terbukanya ruang dialog atas persoalan yang diangkat.
Aksi di Tugu Tani pun menjadi bagian dari rangkaian panjang penyampaian aspirasi mahasiswa terhadap kebijakan publik. Dalam kerangka itu, almamater hanyalah satu dari sekian banyak simbol. Yang dinilai menentukan adalah isi tuntutan, argumentasi yang dibangun, serta konsistensi sikap setelah aksi berakhir. BEM UI menegaskan bahwa pelepasan almamater tidak boleh dibaca sebagai melemahnya keberpihakan, melainkan sebagai cara memilih medan perjuangan yang lebih luas sebagai warga negara.
Komentar (0)