Menteri Sekretaris Negara Pratikno mengungkapkan bahwa teknologi modifikasi cuaca dengan bahan dry ice atau es kering terbukti efektif dalam upaya mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia. Menurutnya, penyemaian awan menggunakan karbon dioksida padat tersebut mampu mempercepat turunnya hujan di area yang mengalami titik panas, sehingga membantu proses pemadaman serta membasahi lahan gambut yang mudah terbakar.
Pernyataan tersebut disampaikan Mensesneg dalam kaitannya dengan evaluasi kinerja penanganan karhutla yang melibatkan sejumlah kementerian dan lembaga. Ia menilai operasi modifikasi cuaca yang selama ini dijalankan bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memberikan kontribusi nyata, terutama pada periode puncak musim kemarau ketika risiko kebakaran meningkat tajam.
Mekanisme Kerja Dry Ice dalam Penyemaian Awan
Dry ice merupakan bentuk padat dari karbon dioksida yang memiliki suhu sangat rendah, yakni sekitar minus 78,5 derajat Celsius. Dalam operasi modifikasi cuaca, bahan ini diangkut menggunakan pesawat dan disemprotkan ke dalam awan kumulus yang dinilai potensial menghasilkan hujan. Partikel dry ice yang masuk ke dalam awan akan menurunkan suhu secara drastis, memicu proses kondensasi uap air, dan mempercepat pembentukan kristal es.
Proses tersebut pada akhirnya mendorong pertumbuhan awan hujan yang lebih cepat dan memperbesar peluang terjadinya presipitasi di wilayah target. Berbeda dengan penyemaian menggunakan garam atau natrium klorida yang lebih banyak dipakai untuk merangsang pertumbuhan awan, dry ice berperan kuat dalam menurunkan suhu awan sehingga proses pembentukan hujan berlangsung lebih efisien pada kondisi atmosfer tertentu.
Menurut Mensesneg, keunggulan dry ice terletak pada kemampuannya menghasilkan efek pendinginan yang cepat. Kondisi itu dinilai penting ketika titik panas muncul di lahan gambut yang memiliki karakter pembakaran bawah permukaan, sehingga hujan buatan tidak hanya memadamkan api di permukaan, tetapi juga membantu menurunkan suhu dan menjaga kelembapan tanah.
Efektivitas yang Terukur
Pratikno menyebut efektivitas modifikasi cuaca tidak dapat dilepaskan dari dukungan data meteorologi yang akurat. BMKG berperan memetakan keberadaan awan potensial, sementara BRIN menyiapkan bahan semai dan teknologi penerbangan, dan BNPB mengoordinasikan kebutuhan di lapangan. Sinergi itu membuat operasi penyemaian dapat diarahkan ke titik-titik prioritas, termasuk kawasan gambut yang selama ini menjadi sumber asap terbesar.
Ia menambahkan, hasil operasi biasanya diukur melalui penurunan jumlah titik panas yang terdeteksi satelit, intensitas curah hujan di wilayah sasaran, serta berkurangnya luas lahan yang terbakar. Meski demikian, modifikasi cuaca bukan solusi tunggal. Keberhasilannya sangat bergantung pada ketersediaan awan, arah angin, dan kondisi atmosfer. Pada periode kemarau panjang yang ekstrem, jumlah awan yang dapat disemai bisa sangat terbatas sehingga hasilnya tidak selalu sesuai harapan.
Koordinasi Lintas Lembaga Menjadi Kunci
Mensesneg menekankan pentingnya koordinasi lintas kementerian dan lembaga dalam setiap tahapan penanganan karhutla. Selain operasi udara, pemerintah daerah diminta aktif melakukan patroli terpadu, pemantauan titik panas, serta sosialisasi kepada masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan juga disebut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari strategi pencegahan.
Di sisi lain, upaya pembasahan lahan gambut melalui pembangunan sumur bor, kanalisasi, dan pemasangan sekat kanal dinilai tetap diperlukan sebagai langkah pendamping. Operasi modifikasi cuaca berfungsi mempercepat pemadaman dan menekan perluasan api, sedangkan pengelolaan lahan yang baik menjadi kunci agar kebakaran tidak berulang pada musim berikutnya.
Dampak Karhutla yang Luas
Karhutla selama ini menimbulkan dampak serius, mulai dari kabut asap yang mengganggu kesehatan masyarakat, terganggunya jadwal penerbangan, hingga kerugian ekonomi akibat terhentinya aktivitas warga. Ekosistem gambut juga mengalami kerusakan jangka panjang, karena api yang membakar lapisan bawah permukaan sulit dipadamkan dan dapat bertahan berhari-hari bahkan berminggu-minggu.
Karena itu, menurut Mensesneg, kesiapsiagaan harus dibangun sejak awal, termasuk menyiapkan anggaran, personel, armada udara, serta bahan semai sebelum puncak musim kemarau tiba. Pengalaman dari sejumlah operasi sebelumnya menunjukkan bahwa respons cepat pada fase awal jauh lebih efektif dibandingkan pemadaman besar-besaran setelah api meluas.
Pemerintah, lanjutnya, akan terus mengevaluasi metode yang digunakan, termasuk komposisi bahan semai dan pola penyemprotan, agar hasil modifikasi cuaca semakin optimal. Dengan demikian, teknologi modifikasi cuaca diharapkan tidak hanya menjadi respons darurat, tetapi bagian dari sistem mitigasi bencana yang terencana dan berkelanjutan.
Komentar (0)