Amran menurunkan jajaran bawahannya untuk melakukan pengecekan langsung ke lapangan terhadap sejumlah peternak ayam yang dilaporkan berada di ambang kebangkrutan. Langkah itu diambil setelah muncul keluhan dari kalangan peternak mengenai harga jual yang terus menurun sementara biaya produksi, terutama pakan, tetap tinggi.
Penurunan tim ke lapangan disebut sebagai upaya memastikan kondisi riil peternak, bukan sekadar mengandalkan laporan tertulis. Amran meminta hasil pengecekan menjadi dasar penyusunan kebijakan, sehingga bantuan atau intervensi yang diambil benar-benar menyasar persoalan yang dihadapi peternak.
Harga Jual Tertekan, Biaya Produksi Meningkat
Persoalan yang dihadapi peternak ayam tidak tunggal. Di tingkat peternak, harga jual ayam hidup disebut kerap berada di bawah harga pokok produksi. Kondisi itu diperparah oleh kenaikan harga pakan yang merupakan komponen biaya terbesar dalam usaha budidaya ayam. Selain itu, fluktuasi permintaan pasar membuat posisi tawar peternak semakin lemah, terutama bagi peternak dengan skala usaha kecil dan menengah.
Sejumlah peternak mengaku terpaksa menjual ternak di bawah harga normal agar tidak menanggung biaya pakan yang terus berjalan. Pola itu, jika berlangsung lama, berpotensi memicu kebangkrutan karena modal usaha terkuras dan utang kepada pemasok pakan maupun lembaga pembiayaan tidak mampu dibayar.
Dalam sejumlah kasus, peternak juga menghadapi keterbatasan akses terhadap pasar. Rantai distribusi yang panjang membuat harga di tingkat konsumen tidak selalu sebanding dengan harga yang diterima peternak. Selisih harga itu menjadi salah satu titik yang diminta ditelusuri oleh tim yang diterjunkan ke lapangan.
Arahan Amran kepada Jajaran
Amran meminta bawahannya untuk tidak hanya mencatat keluhan, tetapi juga memverifikasi data produksi, biaya, dan harga jual di tingkat peternak. Pendataan diminta dilakukan per kecamatan agar diperoleh gambaran utuh mengenai sebaran peternak yang paling terdampak.
Selain itu, jajaran terkait diminta berkoordinasi dengan dinas yang menangani peternakan, perdagangan, serta koperasi dan usaha kecil. Koordinasi itu dinilai penting karena persoalan harga ayam bersinggungan dengan kebijakan pasokan, distribusi, dan stabilisasi harga.
Fokus Pemeriksaan di Lapangan
Ada beberapa hal yang menjadi fokus pemeriksaan. Pertama, jumlah populasi ternak dan kapasitas kandang yang dimiliki peternak. Kedua, struktur biaya produksi, khususnya harga pakan dan bibit. Ketiga, harga jual yang diterima peternak dibandingkan harga di tingkat pedagang dan konsumen. Keempat, ada tidaknya tunggakan utang yang berpotensi menimbulkan persoalan hukum di kemudian hari.
Tim juga diminta mendengar langsung keluhan peternak mengenai praktik perdagangan yang dinilai merugikan, termasuk penentuan harga secara sepihak oleh pembeli. Hasilnya akan dihimpun sebagai bahan rapat koordinasi bersama instansi terkait.
Peternak Berharap Ada Solusi Konkret
Kalangan peternak menyambut baik langkah pengecekan langsung tersebut, namun berharap hasilnya tidak berhenti pada laporan. Mereka mendorong adanya solusi konkret, antara lain stabilisasi harga ayam hidup, kemudahan akses pakan dengan harga terjangkau, serta pendampingan bagi peternak yang mengalami kesulitan pembiayaan.
Sebagian peternak juga mengusulkan adanya kerja sama dengan jaringan pasar modern, rumah potong, maupun industri pengolahan agar hasil produksi dapat terserap dengan harga yang lebih stabil. Skema kemitraan dinilai dapat menjadi alternatif, dengan catatan posisi peternak tidak berada dalam kondisi yang sepenuhnya bergantung pada satu pihak pembeli.
Selain itu, muncul harapan agar ada pelatihan manajemen usaha bagi peternak skala kecil. Pengelolaan kandang, pencatatan biaya, dan perencanaan produksi dinilai menjadi kunci agar usaha peternakan lebih tahan terhadap gejolak harga.
Tindak Lanjut dan Pengawasan
Amran menegaskan bahwa hasil pengecekan akan ditindaklanjuti dengan langkah-langkah yang melibatkan lintas instansi. Pengawasan terhadap rantai distribusi, peninjauan ulang kebijakan pasokan, serta penyiapan skema bantuan menjadi bagian dari rencana tindak lanjut yang dibahas bersama jajaran terkait.
Pemerintah daerah juga diminta menyiapkan mekanisme pelaporan bagi peternak yang mengalami kesulitan, sehingga persoalan dapat ditangani lebih cepat sebelum berkembang menjadi kebangkrutan. Pendampingan teknis dan akses informasi harga disebut menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi peternak.
Meski demikian, sejumlah pihak mengingatkan bahwa persoalan harga ayam bersifat lintas daerah dan dipengaruhi pasokan dari luar wilayah. Karena itu, penanganan di tingkat lokal dinilai perlu disertai koordinasi yang lebih luas agar kebijakan yang diambil tidak bertabrakan dengan kepentingan daerah lain.
Hingga saat ini, proses pengecekan dan pendataan masih berlangsung. Hasil lengkapnya diharapkan menjadi dasar bagi pengambilan keputusan, termasuk kemungkinan intervensi harga, penyaluran bantuan, dan perbaikan tata niaga hasil peternakan. Bagi peternak, kejelasan arah kebijakan menjadi hal yang dinantikan, mengingat usaha mereka menyangkut penghidupan sehari-hari dan keberlanjutan produksi pangan di daerah.
Komentar (0)