19, 2026
Ekonomi

BI: Perluasan Transaksi Mata Uang Lokal Topang Ketahanan Ekonomi Kawasan

Sandi Setiawan
Sandi Setiawan Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

BI: Perluasan Transaksi Mata Uang Lokal Topang Ketahanan Ekonomi Kawasan

Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa perluasan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi domestik dan internasional menjadi strategi krusial untuk memperkuat ketahanan ekonomi kawasan. Langkah ini dianggap mampu mengurangi ketergantungan pada valuta asing, terutama dolar AS, yang selama ini mendominasi perdagangan internasional.

Deputi Gubernur BI, Erwin Haryono, menjelaskan bahwa penggunaan mata uang lokal tidak hanya memberikan manfaat bagi stabilitas ekonomi Indonesia, tetapi juga berdampak positif pada integrasi ekonomi regional. "Dengan menggunakan mata uang lokal, kita dapat mengurangi risiko fluktuasi nilai tukar dan biaya transaksi yang seringkali menjadi hambatan bagi pelaku usaha," ujarnya dalam sebuah konferensi pers baru-baru ini.

Strategi Perluasan Penggunaan Mata Uang Lokal

BI telah merancang serangkaian strategi untuk memperluas cakupan penggunaan mata uang lokal, baik dalam transaksi domestik maupun internasional. Salah satu strategi utama adalah penandatanganan nota kesepahaman (MoU) tentang penggunaan mata uang lokal antar negara dengan berbagai mitra dagang.

Hingga saat ini, Indonesia telah menandatangani MoU serupa dengan beberapa negara tetangga di Asia Tenggara, seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Selain itu, Indonesia juga sedang dalam tahap pembicaraan dengan negara-negara di Timur Tengah dan Afrika untuk memperluas kerja sama dalam penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan dan investasi.

BI juga berupaya memperkuat infrastruktur sistem pembayaran domestik melalui pengembangan Fast Payment National (FPN). Sistem ini dirancang untuk memungkinkan transaksi antar bank secara real-time dan 24 jam sehari, 7 hari seminggu, dengan biaya yang lebih rendah dibandingkan sistem pembayaran sebelumnya.

Dampak Positif bagi Sektor Riil

Perluasan penggunaan mata uang lokal diharapkan akan memberikan dampak positif signifikan bagi sektor riil ekonomi. Menurut BI, langkah ini akan mengurangi beban biaya transaksi bagi pelaku usaha, terutama bagi para eksportir dan importir yang seringkali menghadapi risiko fluktuasi nilai tukar.

"Dengan menggunakan mata uang lokal, para pelaku usaha dapat merencanakan keuangan mereka dengan lebih stabil karena tidak perlu lagi khawatir dengan perubahan nilai tukar yang tidak terduga," jelas Erwin Haryono.

Selain itu, penggunaan mata uang lokal juga diharapkan dapat memperkuat posisi rupiah di pasar internasional. Semakin luasnya penerimaan rupiah sebagai alat transaksi dalam perdagangan internasional, semakin kuat pula posisi mata uang Indonesia di mata dunia.

Tantangan yang Dihadapi

Meski memiliki potensi besar, perluasan penggunaan mata uang lokal juga menghadapi sejumlah tantangan. Salah satu tantangan utama adalah masih rendahnya tingkat kepercayaan publik terhadap stabilitas nilai rupiah dalam transaksi internasional.

"Untuk mengatasi tantangan ini, kita perlu memperkuat komunikasi tentang keunggulan penggunaan mata uang lokal dan juga memastikan stabilitas nilai rupiah melalui kebijakan moneter yang tepat," jelas Erwin.

Tantangan lainnya adalah perlu adanya harmonisasi kebijakan antar negara dalam menggunakan mata uang lokal. Setiap negara memiliki sistem perbankan dan regulasi yang berbeda, sehingga diperlukan koordinasi yang baik untuk memastikan implementasi berjalan lancar.

Kerja Sama Regional dan Global

BI terus mendorong kerja sama regional dan global untuk memperluas penerimaan mata uang lokal. Salah satu upaya yang sedang digalakan adalah melalui ASEAN, di mana negara-negara anggota berdiskusi tentang potensi penggunaan mata uang lokal dalam transaksi intra-ASEAN.

"Kita sedang mempelajari model-model yang telah berhasil diterapkan di negara lain, seperti penggunaan yuan dalam perdagangan dengan China atau euro dalam perdagangan di Eropa. Tujuannya adalah untuk menemukan model yang paling sesuai untuk diterapkan di kawasan kita," jelas Erwin.

Selain itu, BI juga aktif berpartisipasi dalam forum internasional seperti G20 dan Bank for International Settlements (BIS) untuk membahas potensi penggunaan mata uang lokal dalam transaksi global.

Peran Sektor Swasta

BI menekankan bahwa peran sektor swata sangat krusial dalam mendukung perluasan penggunaan mata uang lokal. Perbankan dan lembaga keuangan lain diminta untuk mengembangkan produk dan layanan yang mendukung transaksi menggunakan mata uang lokal.

Selain itu, BI juga berharap perusahaan-perusahaan besar, terutama yang aktif dalam perdagangan internasional, dapat menjadi pelopor dalam menggunakan mata uang lokal dalam transaksi mereka.

Dengan berbagai upaya yang sedang dilakukan, BI optimis bahwa penggunaan mata uang lokal akan terus berkembang dan memberikan kontribusi signifikan bagi ketahanan ekonomi Indonesia dan kawasan. Perluasan penggunaan mata uang lokal diharapkan tidak hanya mengurangi ketergantungan pada valuta asing, tetapi juga memperkuat integrasi ekonomi regional dan meningkatkan posisi Indonesia di panggung internasional.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Sandi Setiawan

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter