06, 2026
Nasional

Anak Krakatau dan Gunung Ibu Erupsi Lagi, Waspada "Zona Terlarang"

Dua gunung api di Indonesia, Anak Krakatau dan Gunung Ibu, erupsi berdekatan. Badan Geologi imbau masyarakat tidak mendekati area berbahaya.]]>

Lestari Saputra
Lestari Saputra Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Anak Krakatau dan Gunung Ibu Erupsi Lagi, Waspada "Zona Terlarang"

Dua gunung berapi aktif di Indonesia kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik pada Jumat, 21 Februari 2025. Anak Krakatau di Selat Sunda dan Gunung Ibu di Halmahera Barat, Maluku Utara, dilaporkan mengalami erupsi dengan karakteristik berbeda. Otoritas vulkanologi menegaskan pentingnya kepatuhan terhadap zona terlarang di sekitar kedua gunung untuk mencegah risiko korban jiwa.

Anak Krakatau Semburkan Abu Setinggi Ratusan Meter

Anak Krakatau, gunung api yang berada di perairan Selat Sunda, Provinsi Lampung, kembali erupsi pada Jumat pagi. Berdasarkan laporan Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau, kolom abu teramati setinggi kurang lebih 400 meter di atas puncak, atau sekitar 557 meter di atas permukaan laut. Abu vulkanik berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah timur laut.

Erupsi tercatat dalam seismogram dengan amplitudo maksimum 50 milimeter dan durasi sekitar 40 detik. Aktivitas ini merupakan bagian dari fase erupsi yang telah berlangsung sejak beberapa pekan terakhir. Meski demikian, status gunung masih berada pada Level II atau Waspada, tanpa perubahan signifikan yang mengarah pada eskalasi lebih tinggi.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengingatkan masyarakat, nelayan, dan wisatawan untuk tidak mendekati kawasan kawah dalam radius 2 kilometer dari pusat erupsi. Zona terlarang ini ditetapkan karena potensi lontaran material pijar, abu panas, dan gas vulkanik yang dapat membahayakan keselamatan.

Selain itu, warga di pesisir Banten dan Lampung diminta tetap tenang dan tidak terpancing informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Hingga saat ini, tidak ada laporan mengenai gangguan penerbangan maupun kerusakan infrastruktur akibat erupsi tersebut. Bandara Radin Inten II Lampung dan Bandara Soekarno-Hatta tetap beroperasi normal.

Gunung Ibu Erupsi dengan Lontaran Lava Pijar

Di Maluku Utara, Gunung Ibu yang terletak di Kecamatan Ibu, Kabupaten Halmahera Barat, juga mengalami erupsi pada hari yang sama. Gunung dengan ketinggian sekitar 1.325 meter di atas permukaan laut itu menyemburkan kolom abu setinggi 800 meter dari puncak. Abu vulkanik mengarah ke barat daya dan barat.

Petugas Pos Pengamatan Gunung Api Ibu di Desa Gam Ici mencatat erupsi terjadi pada pukul 07.32 WIT. Amplitudo gempa erupsi tercatat 28 milimeter dengan durasi 55 detik. Suara gemuruh dilaporkan terdengar hingga pos pengamatan, disertai lontaran lava pijar yang jatuh di sekitar kawah.

Gunung Ibu saat ini berstatus Level III atau Siaga, level tertinggi kedua dalam skala peringatan vulkanik Indonesia. PVMBG telah mengeluarkan rekomendasi agar masyarakat tidak beraktivitas dalam radius 4 kilometer dari pusat kawah. Zona terlarang ini diperluas dari sebelumnya 3 kilometer seiring meningkatnya intensitas erupsi dalam beberapa hari terakhir.

Warga yang bermukim di sekitar aliran sungai yang berhulu di puncak Gunung Ibu juga diminta mewaspadai potensi banjir lahar dingin, terutama saat curah hujan tinggi. Material vulkanik yang menumpuk di lereng dapat terbawa air dan mengancam permukiman di hilir.

Ribuan Warga Terdampak dan Langkah Mitigasi

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Halmahera Barat mencatat lebih dari 2.000 warga di lima desa terdampak langsung oleh erupsi Gunung Ibu. Desa-desa tersebut meliputi Gam Ici, Togola Wayoli, Togola Sangir, Duono, dan Goin. Sebagian warga telah mengungsi ke lokasi yang lebih aman, sementara sebagian lainnya masih bertahan karena alasan ekonomi dan keterikatan dengan lahan pertanian.

Pemerintah daerah bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus melakukan evakuasi bertahap. Posko pengungsian didirikan di beberapa titik dengan fasilitas kesehatan, dapur umum, dan layanan psikososial. Masker dan obat-obatan juga dibagikan untuk mengantisipasi dampak abu vulkanik terhadap saluran pernapasan.

Di sisi lain, aktivitas penerbangan di Bandara Sultan Babullah Ternate tetap berjalan normal. Otoritas bandara belum menerima laporan adanya gangguan akibat abu vulkanik. Maskapai diminta terus memantau informasi dari PVMBG dan BMKG sebelum melakukan penerbangan.

Pentingnya Kepatuhan pada Zona Terlarang

PVMBG menekankan bahwa zona terlarang bukan sekadar imbauan administratif, melainkan batas keselamatan yang berbasis kajian ilmiah. Radius 2 kilometer dari Anak Krakatau dan 4 kilometer dari Gunung Ibu ditetapkan berdasarkan analisis sebaran material erupsi, pola angin, serta potensi awan panas.

Masyarakat diimbau tidak mendekati kawasan tersebut untuk tujuan apa pun, termasuk wisata, penelitian tanpa izin, maupun aktivitas ekonomi. Pengalaman erupsi sebelumnya menunjukkan bahwa korban jiwa sering kali terjadi karena kelalaian terhadap zona terlarang.

Kedua gunung tersebut merupakan bagian dari cincin api Pasifik, kawasan dengan aktivitas tektonik dan vulkanik tinggi. Indonesia memiliki 127 gunung api aktif, dan sekitar 65 di antaranya berstatus di atas normal. Pemantauan 24 jam terus dilakukan oleh pos-pos pengamatan di seluruh wilayah.

Imbauan untuk Masyarakat

Masyarakat diminta mengikuti informasi resmi dari PVMBG, BNPB, dan BPBD setempat. Hoaks dan informasi yang tidak jelas sumbernya dapat memicu kepanikan yang tidak perlu. Warga yang berada di kawasan rawan bencana juga diharapkan menyiapkan tas siaga bencana, mengenali jalur evakuasi, dan memahami tanda-tanda erupsi.

Dengan meningkatnya aktivitas vulkanik, kewaspadaan menjadi kunci. Kepatuhan terhadap zona terlarang bukan hanya melindungi diri sendiri, tetapi juga memudahkan kerja tim evakuasi dan penyelamat. Alam memberikan tanda, dan tugas manusia adalah merespons dengan bijak.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Lestari Saputra

Pemerhati energi dan transisi hijau di kawasan Asia Tenggara.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter