19, 2026
Teknologi

Aneka Hal Penting Selain Pembatasan Akses Game untuk Anak

Kementerian Komunikasi dan Digital menargetkan IGRS aktif tahun ini. Psikolog Veronica Adesla menekankan pentingnya ekosistem digital sehat untuk anak.]]>

Hesti Kusuma
Hesti Kusuma Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Aneka Hal Penting Selain Pembatasan Akses Game untuk Anak

Pembatasan akses game bagi anak kerap menjadi satu-satunya kebijakan yang dibahas ketika persoalan penggunaan gawai oleh anak mencuat. Padahal, pengaturan waktu layar atau pembatasan usia pada sebuah permainan hanya satu bagian kecil dari persoalan yang jauh lebih luas. Para pemerhati pendidikan, psikologi perkembangan, dan perlindungan anak menilai hasil yang bertahan lama justru bergantung pada sejumlah hal lain yang berjalan bersamaan: pendampingan orang tua, literasi digital, ketersediaan ruang bermain, pola tidur, hingga penegakan aturan di tingkat platform dan sekolah.

Pendampingan orang tua lebih menentukan daripada pelarangan

Pembatasan akses tanpa pendampingan cenderung mudah dipatahkan. Anak dapat berpindah perangkat, memakai akun milik orang lain, atau bermain di rumah teman. Karena itu, sejumlah praktisi menempatkan dialog sebagai instrumen utama. Orang tua perlu mengetahui jenis permainan yang dimainkan anak, memahami mekanisme di dalamnya, dan menyepakati aturan bersama, bukan sekadar menetapkan larangan sepihak.

Kesepakatan yang dibuat bersama anak, misalnya durasi bermain pada hari sekolah dan akhir pekan, dinilai lebih efektif dibanding pengawasan yang bersifat mendadak. Yang turut menentukan adalah konsistensi. Aturan yang ditegakkan hanya pada beberapa hari pertama kemudian dilonggarkan akan kehilangan daya ikatnya. Orang tua juga diminta memeriksa fitur kontrol orang tua yang tersedia pada konsol, ponsel, dan platform distribusi game, termasuk pengaturan pembelian di dalam aplikasi yang sering luput diperhatikan.

Selain itu, keteladanan menjadi faktor yang jarang disorot. Anak yang melihat orang tuanya menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar akan sulit memahami alasan pembatasan yang diterapkan kepadanya. Pola penggunaan gawai di dalam rumah, bukan hanya pada anak, menentukan keberhasilan aturan yang disusun.

Literasi digital dan pemahaman label usia

Di Indonesia, klasifikasi permainan diatur melalui Indonesia Game Rating System yang membagi kategori berdasarkan kelompok usia, mulai dari usia dini hingga dewasa. Label tersebut mencakup keterangan mengenai kekerasan, konten seksual, bahasa kasar, penggunaan narkotika, perjudian, dan interaksi daring. Sayangnya, tidak semua orang tua membaca label ini sebelum mengunduh permainan.

Literasi digital yang memadai mencakup kemampuan mengenali mekanisme permainan yang dirancang menahan pemain lebih lama, seperti hadiah harian, misi berulang, dan sistem pertemanan daring. Anak perlu diajari mengenali pola tersebut agar tidak sekadar mematuhi batas waktu, tetapi memahami alasan di baliknya. Pemahaman serupa penting untuk fitur obrolan dalam permainan, yang membuka peluang perundungan maupun kontak dengan orang tak dikenal.

Ruang bermain, tidur, dan aktivitas fisik

Pembatasan waktu layar tidak akan berjalan bila tidak ada alternatif kegiatan. Ketersediaan lapangan, taman, dan ruang publik yang aman bagi anak menjadi prasyarat yang bersifat struktural. Di kawasan padat penduduk, ruang bermain sering kali tidak tersedia, sehingga gawai menjadi satu-satunya pilihan hiburan.

Aspek kesehatan juga tidak bisa dipisahkan. Paparan layar pada malam hari berpotensi mengganggu waktu tidur anak. Kurang tidur berdampak pada konsentrasi di sekolah, suasana hati, dan daya tahan tubuh. Karena itu, pengaturan waktu bermain sebaiknya disertai kesepakatan mengenai jam tidur dan waktu bebas layar, terutama menjelang tidur dan saat makan bersama.

Aktivitas fisik yang cukup dan interaksi tatap muka dengan teman sebaya berperan penting bagi perkembangan sosial anak. Sejumlah organisasi kesehatan menekankan bahwa anak usia dini memerlukan lebih banyak waktu untuk bermain aktif dan interaksi langsung dibanding waktu di depan layar. Pembatasan game tanpa menyediakan kegiatan pengganti berisiko hanya memindahkan persoalan, bukan menyelesaikannya.

Peran platform, sekolah, dan komunitas

Tanggung jawab tidak sepenuhnya berada di pundak keluarga. Penyedia layanan permainan memiliki kewajiban memastikan sistem verifikasi usia berjalan, menyediakan mekanisme pelaporan konten dan perilaku, serta membatasi fitur yang tidak sesuai bagi pengguna anak. Transparansi mengenai praktik pengumpulan data pengguna juga menjadi bagian dari perlindungan anak di ruang digital.

Sekolah dapat mengambil peran melalui pendidikan literasi digital yang masuk ke dalam kegiatan belajar, bukan hanya sebagai imbauan sesaat. Guru perlu memiliki pemahaman mengenai permainan yang populer di kalangan murid agar komunikasi dengan orang tua berjalan efektif. Sementara itu, komunitas di tingkat lingkungan dapat menyediakan kegiatan alternatif seperti olahraga, seni, atau kegiatan keagamaan yang berlangsung rutin.

Keseimbangan, bukan pelarangan menyeluruh

Berbagai pendekatan tersebut mengarah pada satu kesimpulan: pembatasan akses game penting, tetapi tidak memadai bila berdiri sendiri. Yang dibutuhkan adalah kombinasi antara aturan yang jelas, pendampingan yang konsisten, pemahaman mengenai risiko dan manfaat teknologi, serta lingkungan yang menyediakan pilihan kegiatan bagi anak. Tanpa itu, pembatasan hanya akan menjadi aturan di atas kertas yang mudah dilanggar begitu pengawasan mengendur.

Pendekatan yang seimbang juga mengakui bahwa permainan digital memiliki sisi positif, seperti melatih pemecahan masalah, kerja sama tim, dan keterampilan motorik halus. Yang menjadi persoalan bukan keberadaan permainan itu sendiri, melainkan cara penggunaannya. Karena itu, kebijakan yang menyeluruh semestinya menempatkan anak sebagai subjek yang dibimbing, bukan objek yang semata-mata dilarang.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Hesti Kusuma

Peneliti muda yang tertarik pada data, inflasi, dan daya beli masyarakat.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter