19, 2026
Teknologi

Daftar Bandara Terdampak Karhutla, Ada dari Aceh Sampai Papua

<img src="https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2026/10/12/6accc047dcf5b-pesawat-salah-satu-maskapai-penerbangan-mengalami-penundaan-akibat-kabut-asap_gemini_665_374.jpg" align="left" hspace="7" width="100" />

Mira Permata
Mira Permata Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali berdampak pada sektor penerbangan di sejumlah wilayah Indonesia. Gangguan tidak hanya terjadi di kawasan yang selama ini identik dengan karhutla, seperti Riau dan Kalimantan, tetapi juga dirasakan di bandara-bandara lain yang membentang dari Aceh hingga Papua. Penurunan jarak pandang menjadi persoalan utama yang harus diantisipasi oleh pengelola bandara, maskapai, dan penyedia layanan navigasi penerbangan.

Sebaran Bandara yang Terdampak

Berdasarkan pemantauan terhadap kondisi cuaca dan kualitas udara di sekitar kawasan bandara, sejumlah bandara dilaporkan mengalami penurunan jarak pandang akibat asap yang terbawa angin. Dampak paling terasa pada bandara yang berada di wilayah dengan konsentrasi titik panas tinggi, terutama di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Namun, asap juga dapat terbawa hingga wilayah lain seiring perubahan arah dan kecepatan angin.

Sumatera

Di Aceh, Bandara Sultan Iskandar Muda di Aceh Besar menjadi salah satu bandara yang perlu mewaspadai dampak asap, terutama ketika titik panas muncul di kawasan sekitarnya. Di Sumatera Utara, Bandara Kualanamu di Deli Serdang juga menghadapi risiko serupa, mengingat posisinya yang cukup dekat dengan wilayah perkebunan dan lahan gambut. Riau, yang menjadi salah satu episentrum karhutla, membuat Bandara Sultan Syarif Kasim II di Pekanbaru sangat rentan terganggu.

Selanjutnya, Bandara Sultan Thaha di Jambi serta Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II di Palembang, Sumatera Selatan, turut masuk dalam daftar wilayah yang kerap terdampak kabut asap. Kondisi ini biasanya memburuk pada pagi hari ketika asap masih terperangkap di lapisan udara bawah sebelum terurai menjelang siang.

Kalimantan

Di Kalimantan Barat, Bandara Supadio di Pontianak menjadi salah satu bandara yang paling sering merasakan dampak asap, terutama pada musim kemarau. Kalimantan Tengah dengan Bandara Tjilik Riwut di Palangka Raya serta Kalimantan Selatan dengan Bandara Syamsudin Noor di Banjarbaru juga menghadapi persoalan yang sama. Karakteristik lahan gambut yang mudah terbakar dan sulit dipadamkan membuat asap dapat bertahan lama dan menimbulkan gangguan berulang.

Papua dan Wilayah Lain

Di bagian timur Indonesia, sejumlah bandara di Papua juga tercatat mengalami penurunan jarak pandang akibat asap, antara lain Bandara Sentani di Jayapura, Bandara Mopah di Merauke, dan Bandara Mozes Kilangin di Timika. Selain itu, bandara di wilayah Nusa Tenggara dan Sulawesi juga perlu mengantisipasi dampak serupa, meski intensitasnya umumnya lebih rendah dibandingkan Sumatera dan Kalimantan.

Dampak terhadap Operasional Penerbangan

Penurunan jarak pandang berdampak langsung pada keselamatan penerbangan. Pengelola bandara wajib memantau nilai visibility secara berkala, sementara penyedia layanan navigasi penerbangan menyesuaikan prosedur pendaratan dan lepas landas sesuai kondisi aktual. Apabila jarak pandang berada di bawah ambang batas yang ditetapkan, penerbangan dapat ditunda, dialihkan ke bandara alternatif, atau dibatalkan.

Maskapai juga menerapkan prosedur operasi khusus, termasuk penambahan bahan bakar cadangan untuk mengantisipasi kemungkinan pengalihan penerbangan. Penumpang pun berpotensi mengalami keterlambatan, perubahan jadwal, hingga pembatalan. Selain itu, kualitas udara yang buruk di sekitar bandara menjadi perhatian tersendiri bagi kesehatan pekerja bandara dan penumpang.

Langkah Mitigasi dan Koordinasi

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara rutin menyampaikan informasi prakiraan sebaran asap, termasuk arah pergerakan kabut berdasarkan data angin. Informasi tersebut menjadi acuan bagi otoritas bandara dan maskapai dalam mengambil keputusan operasional. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama pemerintah daerah dan instansi terkait terus melakukan upaya pemadaman, baik melalui operasi darat maupun udara.

Kementerian Perhubungan melalui kantor otoritas bandara setempat melakukan inspeksi keselamatan serta memastikan fasilitas navigasi dan penerangan berfungsi optimal. Koordinasi antara pengelola bandara, maskapai, dan layanan lalu lintas udara diperkuat agar setiap perubahan kondisi dapat direspons cepat. Pemantauan titik panas juga dilakukan untuk mengetahui sumber asap dan memperkirakan dampaknya terhadap bandara terdekat.

Imbauan bagi Penumpang

Calon penumpang diimbau memeriksa status penerbangan secara berkala melalui kanal resmi maskapai sebelum berangkat ke bandara. Penumpang juga disarankan menyiapkan waktu tambahan dan memahami kebijakan pengembalian dana atau penjadwalan ulang apabila terjadi pembatalan. Penggunaan masker tetap dianjurkan, terutama bagi penumpang yang memiliki riwayat gangguan pernapasan.

Dengan kondisi cuaca yang dinamis, dampak karhutla terhadap penerbangan dapat berubah dari hari ke hari. Pemantauan berkelanjutan, koordinasi lintas lembaga, serta kepatuhan terhadap prosedur keselamatan menjadi kunci agar operasional penerbangan tetap berjalan aman tanpa mengabaikan faktor risiko yang ada.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Mira Permata

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter