19, 2026
Nasional

Antisipasi Dampak Asap Karhutla Saat Hari Santri, Pesantren di Pekanbaru Siapkan Perlindungan

<img src="https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2020/10/22/5f915b664cdd0-perayaan-hari-santri-nasional-di-depok_665_374.jpg" align="left" hspace="7" width="100" />

Melati Handayani
Melati Handayani Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Pekanbaru — Sejumlah pesantren di Pekanbaru, Riau, menyiapkan langkah perlindungan bagi para santri menjelang peringatan Hari Santri Nasional di tengah ancaman kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Persiapan itu mencakup penyediaan masker, pengaturan aktivitas di luar ruangan, hingga pemantauan kesehatan santri secara berkala.

Kabut asap yang menyelimuti sebagian wilayah Riau dalam beberapa waktu terakhir menjadi perhatian serius pengelola pesantren. Pasalnya, kegiatan di lingkungan pesantren sebagian besar berlangsung di luar ruangan, mulai dari kegiatan belajar, olahraga, hingga aktivitas keagamaan bersama. Paparan asap dalam waktu lama dikhawatirkan meningkatkan risiko gangguan saluran pernapasan, terutama bagi santri yang masih berusia anak dan remaja.

Kualitas Udara Jadi Perhatian Utama

Pengelola pesantren menilai kualitas udara menjadi faktor yang harus dipantau setiap hari sebelum menentukan bentuk kegiatan. Ketika konsentrasi partikel asap dinilai tinggi, kegiatan yang biasanya digelar di halaman atau lapangan akan dipindahkan ke dalam ruangan. Kebijakan itu diambil agar santri tetap dapat mengikuti kegiatan belajar dan pembinaan keagamaan tanpa terpapar asap secara berlebihan.

Selain memindahkan lokasi kegiatan, sejumlah pesantren membatasi durasi aktivitas di luar kelas. Kegiatan seperti upacara, senam pagi, dan olahraga bersama dijadwalkan ulang atau diganti dengan aktivitas di dalam ruangan yang memiliki ventilasi terkontrol. Pengelola juga mengimbau santri agar tidak berlama-lama berada di area terbuka ketika kondisi udara sedang memburuk.

Penyediaan masker menjadi salah satu kebutuhan utama. Masker dibagikan kepada santri yang harus beraktivitas di luar ruangan, termasuk ketika menuju asrama, masjid, atau ruang makan. Pengelola pesantren mengingatkan bahwa penggunaan masker yang tepat, terutama jenis yang mampu menyaring partikel halus, jauh lebih efektif dibandingkan masker kain biasa dalam kondisi berasap.

Pengawasan Kesehatan Santri Diperketat

Pemeriksaan Gejala Dini

Pesantren meningkatkan pengawasan terhadap kondisi kesehatan santri, khususnya gejala yang berkaitan dengan gangguan pernapasan seperti batuk, pilek, sakit tenggorokan, sesak napas, serta iritasi pada mata dan kulit. Pengurus asrama diminta melaporkan santri yang menunjukkan gejala tersebut agar segera mendapat penanganan dari petugas kesehatan pesantren atau puskesmas terdekat.

Langkah itu dinilai penting karena santri tinggal bersama dalam satu lingkungan asrama sehingga penularan penyakit saluran pernapasan dapat berlangsung cepat. Pemeriksaan rutin, penyediaan air minum yang cukup, serta dorongan untuk menjaga kebersihan diri menjadi bagian dari upaya pencegahan yang dilakukan pesantren.

Ketersediaan Obat dan Rujukan

Sejumlah pesantren memperkuat persediaan obat-obatan dasar di klinik internal, termasuk obat penurun demam, obat batuk, dan tetes mata. Pesantren juga menyiapkan jalur rujukan cepat ke fasilitas kesehatan terdekat apabila ada santri yang kondisinya memerlukan penanganan lebih lanjut. Koordinasi dengan puskesmas setempat dilakukan agar penanganan dapat berlangsung tanpa hambatan.

Penyesuaian Kegiatan Hari Santri Nasional

Peringatan Hari Santri Nasional tetap akan digelar, namun dengan penyesuaian. Panitia kegiatan di sejumlah pesantren mempertimbangkan untuk mengurangi rangkaian acara di luar ruangan, seperti apel dan pawai, serta memperbanyak kegiatan di dalam aula atau masjid. Kegiatan seperti istighosah, pembacaan shalawat, lomba keagamaan, dan diskusi bertema kepesantrenan dinilai lebih aman karena berlangsung di ruang tertutup.

Pengelola pesantren menyebut semangat peringatan Hari Santri Nasional tidak berkurang meski rangkaian acara dibatasi. Nilai-nilai yang ingin ditanamkan, seperti kemandirian, kedisiplinan, dan pengabdian kepada masyarakat, tetap menjadi inti dari setiap kegiatan yang digelar.

Selain itu, pesantren mengimbau para wali santri dan keluarga untuk turut memperhatikan kondisi kesehatan anak. Orang tua diminta segera memberi tahu pengurus asrama apabila anak memiliki riwayat penyakit pernapasan seperti asma, sehingga pemantauan dapat dilakukan lebih intensif.

Dorongan Penanganan Karhutla

Di sisi lain, kondisi kabut asap ini kembali menyoroti persoalan karhutla yang berulang setiap tahun di sejumlah wilayah di Riau. Lingkungan pesantren dan sekolah menjadi kelompok yang paling terdampak karena aktivitas belajar tidak dapat sepenuhnya dihentikan. Pengelola pesantren berharap penanganan titik api dan penegakan hukum terhadap penyebab kebakaran dapat dilakukan secara menyeluruh agar kualitas udara segera membaik.

Pemantauan kualitas udara secara berkala, koordinasi dengan dinas kesehatan dan badan penanggulangan bencana daerah, serta kesiapan prosedur darurat di lingkungan pesantren menjadi bagian dari langkah antisipasi yang terus dilakukan. Dengan begitu, peringatan Hari Santri Nasional di Pekanbaru diharapkan tetap berlangsung aman, tertib, dan khidmat di tengah tantangan kabut asap yang belum sepenuhnya hilang.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Melati Handayani

Peliput olahraga nasional dan perkembangan liga domestik.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter