19, 2026
Nasional

Makan di Kereta Api Kini Bisa Pilih Lauk ala Warteg

Teguh Setiawan
Teguh Setiawan Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Perjalanan jarak jauh dengan kereta api kini tidak lagi identik dengan pilihan menu makanan yang seragam. Penumpang di sejumlah layanan kereta api antarkota mulai bisa memilih sendiri lauk-pauk yang ingin disantap, menyerupai cara orang membeli makan di warung tegal (warteg). Perubahan ini menandai pergeseran cara pengelola jasa angkutan kereta api memandang kebutuhan konsumen selama di perjalanan.

Selama bertahun-tahun, makanan di kereta api dijual dalam paket yang sudah ditentukan. Penumpang hanya bisa memilih satu dari beberapa paket nasi dengan lauk tertentu, atau membeli makanan kemasan dari petugas yang berkeliling. Kini, di sejumlah rangkaian kereta, penumpang dapat menentukan kombinasi lauk sesuai selera, mulai dari ayam goreng, ikan, tempe, tahu, sayur, hingga sambal, dengan harga yang menyesuaikan jumlah lauk yang diambil.

Dari Paket Tertutup ke Pilihan Bebas

Perubahan model layanan ini pada dasarnya meniru pola yang sudah lama akrab bagi masyarakat Indonesia. Di warteg, pembeli melihat langsung aneka lauk yang tersedia, lalu memilih sendiri sesuai selera dan anggaran. Pola itu dianggap lebih adil karena penumpang tidak perlu membayar untuk lauk yang tidak disukai, sekaligus memberi ruang bagi selera yang berbeda-beda di dalam satu gerbong.

Pengelola layanan kereta api menyebut konsep ini sebagai upaya menyesuaikan diri dengan kebiasaan makan penumpang. Selama ini, keluhan yang sering muncul bukan hanya soal rasa, tetapi juga soal kesesuaian menu. Penumpang dengan pantangan tertentu, anak-anak, atau mereka yang menginginkan porsi lebih kecil kerap kesulitan menemukan pilihan yang pas. Dengan sistem pilih sendiri, keluhan semacam itu diharapkan berkurang.

Cara Memesan dan Memilih Lauk

Secara teknis, layanan ini dijalankan melalui beberapa jalur. Penumpang dapat memesan lebih awal melalui aplikasi resmi pengelola kereta api sebelum keberangkatan, lalu memilih lauk yang tersedia pada hari perjalanan. Selain itu, pemesanan juga dimungkinkan melalui petugas layanan di atas kereta, terutama bagi penumpang yang baru memutuskan membeli makanan setelah kereta berjalan.

Pemesanan lewat aplikasi

Melalui aplikasi, penumpang dapat melihat daftar lauk yang tersedia beserta harganya. Pilihan lauk biasanya dibatasi agar penyajian tetap cepat, misalnya dua hingga empat jenis lauk utama ditambah sayur dan pelengkap. Pesanan kemudian dikaitkan dengan nomor kursi dan jadwal keberangkatan, sehingga makanan bisa diantar ke tempat duduk pada waktu yang ditentukan.

Penyajian di tempat duduk

Setelah pesanan masuk, makanan disiapkan di dapur kereta atau di titik layanan yang telah ditentukan, lalu diantar ke kursi penumpang oleh petugas. Untuk menjaga kualitas, makanan yang disajikan di atas kereta umumnya dimasak atau dipanaskan ulang sesuai prosedur keamanan pangan yang berlaku. Pramugara dan pramugari juga bertugas memastikan pesanan sampai ke kursi yang benar, terutama pada rangkaian kereta yang penuh.

Ragam Lauk dan Kisaran Harga

Pilihan lauk yang ditawarkan cukup beragam, mengikuti pola makan sehari-hari masyarakat. Selain lauk hewani seperti ayam dan ikan, tersedia pula lauk nabati seperti tempe dan tahu, aneka sayur, serta sambal sebagai pelengkap. Nasi tersedia dalam porsi standar, sementara penumpang yang menginginkan porsi lebih besar dapat menambah sendiri sesuai ketentuan yang berlaku.

Soal harga, skema yang digunakan umumnya berbasis jumlah lauk. Semakin banyak lauk yang dipilih, semakin besar biaya yang dikeluarkan. Pendekatan ini dinilai lebih transparan dibanding paket tertutup, karena penumpang dapat mengukur sendiri pengeluarannya. Meski demikian, harga makanan di atas kereta tetap berada pada kisaran yang lebih tinggi dibandingkan harga di warung biasa, sejalan dengan biaya operasional penyajian selama perjalanan.

Mengurangi Sisa Makanan

Selain soal selera, perubahan model layanan ini disebut membawa dampak pada pengelolaan limbah makanan. Sistem paket tertutup kerap menyisakan makanan yang tidak habis karena penumpang tidak menyukai lauk tertentu. Dengan sistem pilih sendiri, jumlah makanan yang terbuang diharapkan menurun karena penumpang hanya mengambil apa yang benar-benar akan dimakan.

Bagi pengelola, pola ini juga memudahkan perencanaan stok. Data pesanan yang masuk sebelum keberangkatan dapat digunakan untuk memperkirakan jumlah bahan yang perlu disiapkan, sehingga pemborosan dapat ditekan. Namun, sistem ini menuntut koordinasi yang lebih rapi antara tim pemesanan, dapur, dan petugas di atas kereta, terutama pada jadwal keberangkatan yang padat.

Respons Penumpang dan Catatan Kualitas

Respons penumpang terhadap layanan ini beragam. Sebagian menyambut baik karena merasa lebih leluasa menentukan menu, terutama untuk perjalanan panjang yang memakan waktu berjam-jam. Sebagian lain menilai kecepatan penyajian perlu terus ditingkatkan, sebab pada jam makan siang atau makan malam antrean pesanan bisa menumpuk di satu gerbong.

Aspek kebersihan dan keamanan pangan menjadi perhatian utama. Penyajian makanan di ruang terbatas menuntut standar higienis yang ketat, mulai dari penyimpanan bahan, proses pemasakan, hingga pengemasan sebelum diantar ke kursi. Pengelola layanan menyatakan prosedur tersebut menjadi bagian dari evaluasi rutin, termasuk pemantauan suhu makanan dan kebersihan peralatan saji.

Perubahan ini juga memperlihatkan bagaimana layanan transportasi publik bergerak mengikuti kebiasaan konsumen. Makan di kereta tidak lagi sekadar kebutuhan mengisi perut selama perjalanan, tetapi menjadi bagian dari pengalaman perjalanan itu sendiri. Dengan pilihan lauk ala warteg, penumpang mendapatkan ruang untuk menentukan sendiri apa yang ingin disantap, sementara pengelola dituntut menjaga konsistensi rasa, kecepatan layanan, dan kebersihan di setiap perjalanan.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Teguh Setiawan

Penulis yang mendalami isu sosial, pendidikan, dan kebijakan publik.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter