30, 2026
Teknologi

Arab Saudi Mau Borong F-35, China Dicemaskan Curi Teknologinya

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyetujui potensi penjualan senilai USD 24,3 miliar kepada Arab Saudi untuk 48 jet tempur canggih F-35.]]>

Hendra Hartono
Hendra Hartono Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Arab Saudi Mau Borong F-35, China Dicemaskan Curi Teknologinya

Arab Saudi Borong F-35, Kekhawatiran Teknologi Bocor ke China Mencuat

Rencana Arab Saudi untuk membeli sejumlah besar jet tempur siluman F-35 buatan Amerika Serikat memunculkan kekhawatiran serius di kalangan pejabat pertahanan Washington. Kekhawatiran utama bukan sekadar soal nilai transaksi yang mencapai miliaran dolar, melainkan risiko kebocoran teknologi rahasia ke China. Isu ini mencuat setelah Riyadh secara terbuka menyatakan minatnya memperkuat armada udara dengan pesawat generasi kelima tersebut, sementara hubungan Arab Saudi dengan Beijing semakin erat dalam beberapa tahun terakhir.

F-35 Lightning II merupakan pesawat tempur paling canggih yang dimiliki Amerika Serikat. Teknologinya mencakup kemampuan siluman atau stealth, sensor fusion, sistem perang elektronik, serta perangkat lunak misi yang sangat dirahasiakan. Washington selama ini hanya menjual pesawat ini kepada sekutu terdekatnya, seperti Israel, Jepang, Korea Selatan, dan negara-negara NATO. Arab Saudi belum pernah mendapatkan akses ke platform tersebut meskipun merupakan pembeli senjata Amerika Serikat terbesar di kawasan Timur Tengah.

Kekhawatiran Intelijen dan Posisi Israel

Sejumlah pejabat Amerika Serikat dikabarkan menilai bahwa memberi Arab Saudi akses ke F-35 berisiko membuka celah bagi China untuk mempelajari teknologi siluman tersebut. Kekhawatiran ini diperkuat oleh kedekatan Riyadh dengan Beijing, terutama setelah kesepakatan kerja sama strategis yang ditandatangani kedua negara pada 2022. China juga diketahui tengah mengembangkan pesawat tempur siluman sendiri, J-20 dan J-35, yang oleh analis Barat dianggap sebagai upaya mengejar ketertinggalan dari Amerika Serikat.

Meski tidak ada bukti konkret bahwa Arab Saudi akan menyerahkan data teknis F-35 ke China, kalangan legislator Amerika Serikat menuntut jaminan keamanan yang ketat sebelum menyetujui penjualan. Mereka merujuk pada pengalaman masa lalu, ketika teknologi rudal dan drone Amerika dilaporkan dipelajari pihak ketiga setelah jatuh ke tangan negara pengguna. Sejumlah anggota Kongres juga menyinggung keharusan menjaga keunggulan kualitatif militer Israel atau QME, yang telah menjadi pilar kebijakan Amerika Serikat di Timur Tengah selama puluhan tahun.

Israel sendiri dilaporkan menentang rencana penjualan F-35 ke Arab Saudi kecuali ada jaminan bahwa keunggulan militernya tetap terjaga. Tel Aviv telah memiliki skuadron F-35I Adir dan menganggap dominasi udara sebagai bagian dari strategi pertahanan nasionalnya. Normalisasi hubungan antara Israel dan Arab Saudi melalui kerangka Abraham Accord disebut menjadi salah satu faktor yang bisa melunak sikap Washington, tetapi tidak menghilangkan kekhawatiran soal China.

Kepentingan Ekonomi dan Diplomasi

Bagi Arab Saudi, F-35 bukan sekadar alat pertahanan. Pesawat ini menjadi simbol status sebagai mitra strategis utama Amerika Serikat dan memperkuat posisi Riyadh dalam menghadapi ancaman regional, terutama dari Iran. Arab Saudi selama ini mengandalkan armada F-15 dan Typhoon, tetapi keduanya tidak memiliki kemampuan siluman yang membuatnya rentan terhadap sistem pertahanan udara modern. Pengalaman perang di Yaman menunjukkan bahwa koalisi pimpinan Saudi menghadapi kendala serius dalam menghadapi rudal dan drone yang diluncurkan kelompok Houthi.

Pemerintahan Amerika Serikat di bawah Presiden Joe Biden sendiri sempat membekukan penjualan senjata ofensif ke Arab Saudi karena perang Yaman dan rekam jejak hak asasi manusia. Namun, dinamika geopolitik setelah perang Ukraina dan ketegangan dengan China telah mendorong Washington untuk meninjau kembali kebijakan tersebut. Arab Saudi juga semakin aktif menjajaki alternatif, termasuk pembelian jet tempur dari Prancis, Inggris, dan bahkan diskusi dengan China mengenai pesawat J-35. Langkah ini dipandang sebagai upaya Riyadh menekan Amerika Serikat agar tidak terlalu kaku dalam negosiasi.

Analis pertahanan menilai bahwa transaksi F-35 ke Arab Saudi, jika terwujud, akan menjadi salah satu penjualan senjata paling sensitif dalam sejarah Amerika Serikat. Pengawasan ketat terhadap transfer teknologi, pemantauan operasional, serta pembatasan penggunaan akan menjadi syarat utama. Tanpa jaminan tersebut, Kongres Amerika Serikat kemungkinan besar akan memblokir atau menunda penjualan, meskipun keputusan akhir tetap berada di tangan pemerintah dengan mempertimbangkan kepentingan diplomatik dan ekonomi yang lebih luas.

Dampak bagi Keseimbangan Kekuatan Regional

Jika Arab Saudi benar-benar memperoleh F-35, keseimbangan kekuatan di Timur Tengah berpotensi berubah signifikan. Uni Emirat Arab juga dikabarkan menginginkan pesawat serupa, dan penjualan ke Riyadh dapat membuka jalan bagi permintaan serupa dari negara Teluk lainnya. Di sisi lain, Iran dipastikan akan merespons dengan memperkuat aliansi militernya bersama Rusia dan China, termasuk kemungkinan mempercepat pengembangan kemampuan siluman sendiri.

Yang lebih penting, polemik F-35 ini mencerminkan persaingan Amerika Serikat-China yang semakin meluas ke Timur Tengah. Riyadh kini berdiri di persimpangan antara menjaga hubungan historis dengan Washington dan merangkul peluang ekonomi dengan Beijing. Keputusan soal F-35 akan menjadi indikator seberapa jauh Arab Saudi bersedia mengikatkan diri pada orbit keamanan Amerika Serikat, sekaligus menguji seberapa besar Washington bersedia mengambil risiko teknologi demi mempertahankan pengaruhnya di kawasan. Sampai sekarang, negosiasi masih berlangsung dan belum ada keputusan resmi mengenai jumlah unit maupun jadwal pengiriman.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Hendra Hartono

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter