30, 2026
Teknologi

Pramono Sebut Keluar JIS Usai Konser Kini Cuma 25-30 Menit, Dulu 2 Jam

Kirana Wijaya
Kirana Wijaya Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkapkan bahwa waktu tempuh keluar dari kawasan Jakarta International Stadium (JIS) usai gelaran konser kini hanya berkisar 25 hingga 30 menit. Angka itu turun drastis dibandingkan periode sebelumnya yang bisa memakan waktu hingga dua jam untuk keluar dari area stadion.

Pernyataan tersebut disampaikan Pramono sebagai bentuk evaluasi atas penanganan arus keluar-masuk penonton pada sejumlah acara besar yang digelar di JIS. Menurutnya, perbaikan tata kelola lalu lintas dan manajemen kerumunan menjadi kunci utama pemangkasan waktu tempuh tersebut.

Evaluasi Sistem Transportasi dan Rekayasa Lalu Lintas

Pramono menjelaskan bahwa pemerintah provinsi bersama sejumlah pihak terkait melakukan pembenahan menyeluruh pada skema transportasi menuju dan meninggalkan JIS. Pembenahan mencakup pengaturan rekayasa lalu lintas, penambahan kapasitas angkutan umum, hingga penataan titik naik-turun penumpang di sekitar kawasan.

Ia menyebut bahwa salah satu persoalan klasik pada acara berskala besar adalah penumpukan penonton di satu atau dua titik keluar. Kondisi itu diperparah dengan minimnya pilihan moda transportasi yang siap mengangkut penonton dalam jumlah besar secara cepat. Akibatnya, antrean panjang tidak terhindarkan dan waktu tempuh keluar kawasan membengkak hingga dua jam.

Pada gelaran terakhir, lanjut Pramono, penonton didorong menggunakan transportasi publik seperti kereta api, bus, dan angkutan penghubung yang telah disiapkan. Titik-titik penjemputan juga diperbanyak sehingga beban di satu lokasi tidak lagi menumpuk. Ia menilai pola itu terbukti memangkas waktu keluar secara signifikan.

Peran Transportasi Publik Jadi Penentu

Pramono menekankan bahwa keberhasilan pemangkasan waktu tempuh tidak terlepas dari peran transportasi publik. Menurutnya, selama penonton masih bergantung pada kendaraan pribadi dalam jumlah besar, kemacetan di sekitar stadion akan sulit dihindari. Karena itu, ia mendorong agar ke depan semakin banyak penonton yang beralih ke moda angkutan massal.

Ia menyebut pemerintah provinsi akan terus memperkuat integrasi antarmoda di kawasan JIS. Integrasi itu mencakup konektivitas antara stasiun kereta, halte bus, dan area parkir kendaraan pribadi, sehingga penonton bisa berpindah moda dengan lebih mudah dan cepat.

Selain itu, pengaturan jadwal keberangkatan angkutan umum disesuaikan dengan jam berakhirnya acara. Dengan begitu, penonton yang keluar secara bertahap tetap mendapat layanan angkutan yang memadai dan tidak menumpuk di satu waktu.

Pembelajaran dari Acara Berskala Besar

JIS menjadi salah satu venue utama di Jakarta untuk konser musik dan berbagai acara berskala besar. Sejak diresmikan, kawasan ini kerap menghadapi ujian berupa lonjakan mobilitas penonton dalam waktu singkat. Sejumlah gelaran sebelumnya menuai keluhan penonton lantaran harus menunggu lama untuk bisa meninggalkan kawasan.

Pramono mengaku menjadikan keluhan tersebut sebagai bahan evaluasi. Ia menyatakan bahwa manajemen kerumunan dan transportasi di kawasan JIS terus disempurnakan dari satu acara ke acara berikutnya. Hasilnya, menurut dia, mulai terlihat pada gelaran terakhir dengan waktu keluar yang jauh lebih singkat.

Ia berharap perbaikan ini tidak hanya berdampak pada kenyamanan penonton, tetapi juga pada kelancaran lalu lintas di sekitar kawasan. Pemangkasan waktu tempuh keluar dinilai turut mengurangi dampak kemacetan terhadap warga yang tinggal atau melintas di sekitar stadion.

Komitmen Perbaikan Berkelanjutan

Pramono menegaskan bahwa pemerintah provinsi akan terus melakukan perbaikan berkelanjutan. Ia tidak menutup kemungkinan adanya sejumlah penyesuaian teknis pada gelaran berikutnya, terutama bila jumlah penonton jauh lebih besar.

Menurutnya, keberhasilan menekan waktu keluar dari dua jam menjadi sekitar setengah jam merupakan capaian yang perlu dijaga. Ia mendorong seluruh pihak terkait, termasuk penyelenggara acara, pengelola stadion, dan petugas lapangan, untuk mempertahankan standar pelayanan tersebut.

Ia juga mengingatkan pentingnya koordinasi lintas instansi dalam setiap gelaran. Koordinasi itu mencakup pengaturan arus kendaraan, kesiapan angkutan umum, penempatan petugas, hingga penyampaian informasi kepada penonton mengenai jalur keluar dan pilihan transportasi yang tersedia.

Dengan perbaikan yang terus dilakukan, Pramono berharap JIS dapat menjadi contoh pengelolaan acara berskala besar yang nyaman, tertib, dan efisien. Ia menilai hal itu penting untuk menjaga reputasi Jakarta sebagai kota penyelenggara berbagai perhelatan nasional maupun internasional.

Hingga kini, sejumlah pihak masih menantikan rincian teknis dari skema baru penanganan arus penonton di JIS. Meski demikian, pernyataan Pramono memberi gambaran bahwa persoalan klasik keluar dari kawasan stadion mulai menemukan titik terang melalui perbaikan transportasi dan manajemen kerumunan yang lebih terukur.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Kirana Wijaya

Penulis lepas yang menulis tentang startup, teknologi, dan ekosistem digital Indonesia.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter