12, 2026
Ekonomi

Bahlil Buka Suara soal Kapan Harga Pertamax Bisa Turun

Intan Kusuma
Intan Kusuma Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia akhirnya angkat bicara mengenai peluang penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax. Pernyataan ini muncul di tengah ekspektasi publik yang menanti dampak dari fluktuasi harga minyak dunia terhadap harga jual BBM nonsubsidi di dalam negeri.

Bahlil menjelaskan bahwa keputusan mengenai harga Pertamax tidak dapat diambil secara serta-merta. Menurutnya, pemerintah memiliki mekanisme dan formula tersendiri yang mempertimbangkan berbagai variabel, termasuk harga minyak mentah dunia, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, serta biaya distribusi dan penyimpanan. Semua komponen tersebut, kata dia, harus dihitung secara cermat sebelum menentukan harga jual di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).

Mekanisme Penentuan Harga Pertamax

Bahlil menegaskan bahwa harga Pertamax merupakan harga keekonomian yang mengikuti pergerakan harga minyak dunia. Berbeda dengan BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar yang harganya ditetapkan melalui kebijakan pemerintah dengan mempertimbangkan daya beli masyarakat, Pertamax berada dalam kategori BBM nonsubsidi atau umum. Karena itu, penyesuaian harganya lebih fleksibel mengikuti kondisi pasar, meski tetap memerlukan persetujuan pemerintah melalui Kementerian ESDM.

Ia menyebut bahwa pemerintah tidak ingin terburu-buru menurunkan harga ketika terjadi penurunan harga minyak dunia dalam jangka pendek. Sebab, gejolak harga minyak internasional bersifat dinamis dan dapat kembali naik dalam waktu singkat. Jika harga diturunkan terlalu cepat, kemudian harga minyak dunia melonjak, pemerintah dan badan usaha justru berpotensi menghadapi tekanan keuangan yang dapat mengganggu pasokan.

“Kita tidak bisa melihat harga minyak dunia dalam satu dua hari. Harus ada tren yang cukup stabil dalam periode tertentu. Kalau hanya turun sehari lalu naik lagi, itu tidak bisa langsung kita jadikan dasar menurunkan harga,” ujar Bahlil dalam keterangannya kepada awak media di Jakarta.

Faktor Nilai Tukar dan Biaya Logistik

Selain harga minyak mentah, faktor nilai tukar rupiah juga menjadi penentu signifikan. Bahlil mengingatkan bahwa sebagian besar komponen pembentuk harga BBM masih bergantung pada impor, terutama untuk crude oil dan produk olahan tertentu. Ketika rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat, biaya impor meningkat, sehingga penurunan harga minyak dunia tidak selalu berbanding lurus dengan penurunan harga di tingkat konsumen.

Ia mencontohkan kondisi ketika harga minyak dunia turun, tetapi nilai tukar rupiah justru melemah. Dalam situasi seperti itu, harga keekonomian Pertamax bisa tetap tinggi atau hanya turun tipis. Sebaliknya, jika harga minyak dunia turun bersamaan dengan penguatan rupiah, ruang penurunan harga akan lebih besar.

Biaya logistik dan distribusi juga tidak bisa diabaikan. Indonesia sebagai negara kepulauan menghadapi tantangan distribusi BBM yang kompleks dan mahal, terutama ke daerah-daerah terpencil dan wilayah timur. Ongkos angkut, penyimpanan, serta infrastruktur terminal BBM turut membentuk harga jual akhir di SPBU. Bahlil menyebut bahwa pemerintah terus mendorong efisiensi di sepanjang rantai pasok untuk menekan biaya-biaya tersebut.

Sinergi dengan Pertamina dan Badan Usaha

Dalam menentukan harga Pertamax, Kementerian ESDM berkoordinasi dengan PT Pertamina (Persero) sebagai operator utama penyediaan BBM nonsubsidi. Bahlil mengatakan bahwa komunikasi dengan Pertamina berjalan intensif untuk memastikan perhitungan harga dilakukan secara transparan dan akuntabel. Pemerintah, kata dia, tidak ingin menetapkan harga yang memberatkan konsumen, tetapi juga tidak ingin menekan badan usaha hingga merugi.

“Kita duduk bersama dengan Pertamina. Semua hitungannya kita buka. Tidak ada yang ditutup-tutupi. Yang penting harga yang ditetapkan itu wajar, baik untuk masyarakat maupun untuk keberlanjutan usaha,” tegasnya.

Ia juga menyinggung bahwa harga Pertamax di Indonesia masih relatif kompetitif dibandingkan negara-negara tetangga, meskipun ada perbedaan struktur pajak dan subsidi di masing-masing negara. Namun, ia mengakui bahwa daya beli masyarakat menjadi pertimbangan penting, terutama di tengah kondisi ekonomi yang masih dalam proses pemulihan.

Kapan Harga Pertamax Bisa Turun?

Menjawab pertanyaan mengenai kapan harga Pertamax bisa turun, Bahlil tidak memberikan tenggat waktu spesifik. Ia menyatakan bahwa keputusan akan diambil berdasarkan evaluasi berkala yang dilakukan pemerintah dan Pertamina. Evaluasi tersebut, lanjutnya, mempertimbangkan rata-rata harga minyak dunia dalam periode tertentu, bukan hanya harga harian.

“Kalau semua parameternya memungkinkan, pasti kita turunkan. Tapi kalau belum, kita tidak bisa memaksakan. Yang jelas, pemerintah selalu melihat kepentingan rakyat,” kata Bahlil.

Ia menambahkan bahwa pemerintah memiliki ruang untuk menyesuaikan harga Pertamax setiap bulan atau sesuai kebutuhan, tergantung perkembangan pasar. Namun, ia menekankan bahwa stabilitas harga juga penting untuk menjaga kepastian bagi konsumen dan pelaku usaha.

Pengamat energi menilai pernyataan Bahlil mencerminkan kehati-hatian pemerintah dalam mengambil kebijakan harga BBM nonsubsidi. Di satu sisi, publik menginginkan harga yang lebih murah seiring penurunan harga minyak dunia. Di sisi lain, pemerintah harus menjaga keseimbangan fiskal dan keberlanjutan pasokan energi nasional.

Sejumlah kalangan mendesak agar pemerintah lebih transparan dalam mempublikasikan formula perhitungan harga Pertamax. Dengan demikian, masyarakat dapat memahami faktor-faktor yang memengaruhi naik-turunnya harga dan tidak terjebak dalam spekulasi yang tidak berdasar.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keputusan resmi mengenai perubahan harga Pertamax. Pemerintah memastikan akan mengumumkan setiap penyesuaian harga melalui saluran resmi Kementerian ESDM dan PT Pertamina. Masyarakat diimbau untuk menunggu informasi yang valid dan tidak terpengaruh oleh kabar yang belum terverifikasi.

Dengan dinamika harga minyak dunia yang masih bergejolak, serta faktor nilai tukar dan biaya logistik yang terus berubah, peluang penurunan harga Pertamax masih terbuka. Namun, realisasinya sangat bergantung pada konsistensi tren penurunan harga minyak internasional dan kondisi makroekonomi domestik dalam beberapa waktu ke depan.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Intan Kusuma

Kontributor rubrik data dan visualisasi angka penting.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter